Langit Retak: Cerpen Aprillia Putri Kadiah

57

Angin menerjang agak ganas sejak sore, dengan kilatan yang seolah bersahut-sahutan di cakrawala. Mengetuk-ngetuk jendela kamar seperti ingin mengatakan kalau malam ini sepertinya akan panjang. Sesekali rintik hujan turun, menabrak atap rumah dengan bunyi sepeti detak jam tua yang ada di rumah lamanya.

Gwen duduk di sudut ranjangnya, memeluk boneka alpaca yang telinganya sudah robek. Dulu boneka itu berwarna putih, namun kini warnanya begitu kusam seperti abu. Gwen, gadis kecil yang umurnya baru menginjak delapan tahun, namun matanya sudah tahu cara menyimpan rahasia. Cara menahan tangis agar tak terdengar dari ruang tamu.

Suara itu lagi.

Ayah dan ibu.

Tidak berbicara. Mereka berteriak. Menjerit lantang.

Gwen menutup telinga rapat-rapat. Tapi dinding rumah itu terlalu tipis untuk menahan amarah yang meledak. Menembus hingga kamarnya, membuat tubuh kecil yang seperti kekurangan gizi itu bergetar hebat.
BRAK!, meja di pukul kuat. Seolah harus merasakan ketegangan malam itu.

“Kau pikir aku tahan hidup seperti ini, Bima?!,” suara ibu melengking namun serak.

“Kau yang mulai dulu, Rosa!, aku cuma…,” suara ayah terpotong oleh bunyi sesuatu yang pecah. Mungkin ibu membanting gelas. Lagi.

Gwen menarik napas panjang, memejamkan matanya, mencoba membayangkan ia berada di tempat lain—taman sekolah, atau pantai yang pernah Ayah janjikan tapi tak pernah ia lihat. Namun, suara-suara itu seperti tangan panjang yang meraihnya dari balik dinding, mencengkeram, mengguncang.

Gwen ketakutan. Tapi tak ada satu orang pun yang berusaha menenangkannya.

Pintu kamarnya terbuka keras. Ibu berdiri di sana. Wajahnya merah, matanya sembab, dan tatapan ke arahnya kosong. Kosong seperti topeng.

“Gwen… kita pergi.” Ibu beranjak mengambil koper baju milik gwen dan mengambil beberapa barang.

“Tapi… Ayah…,” Gwen berusaha bertanya, namun suara ibu menyusul dengan sedikit membentak.

“Ambil jaketmu!.”

Di ruang tamu, Ayah menatap mereka. Tatapannya dingin, bukan marah—dingin seperti batu yang tenggelam di dasar laut.

“Kau bawa anak itu?” Tanya ayah datar.

Gwen semakin mencengkram erat boneka usangnya.

Ibu tak menjawab. Ia mendorong koper Gwen dan koper miliknya yang entah sejak kapan sudah berada di ambang pintu kamar. Seolah siap untuk pergi saat itu juga.

Hari-hari berlalu tanpa arti, Gwen tinggal di sebuah Apartemen lama yang memiliki dinding putih pucat, tapi warna itu seperti kulit mayat. Bau lembab selalu terjebak di sudut ruangan. Tidak ada rak buku kayu. Tidak ada suara pintu Ayah pulang kerja. Hanya televisi yang menyala sampai larut malam seolah menjadi pengganti percakapan antar manusia. Dan warna pada televisi itu memuntahkan cahaya biru yang menutupi wajah Ibu seperti layar di ruang mayat yang pernah Gwen lihat dirumah sakit saat kakeknya meninggal.

Gwen mulai menghindari cermin—karena kadang ia merasa melihat sesuatu di balik pantulannya. Bukan bayangan dirinya, tapi anak kecil berambut kusut, duduk di pojok kamar, memeluk boneka alpaca yang sudah mati warnanya.
Sekolah jadi medan yang tak kalah kejam. Pertanyaan-pertanyaan teman sekolah seperti jarum. “Kok kamu nggak sama Ayah lagi?,” atau “Ibumu kenapa nangis di tempat parkir?.”

Dan Gwen hanya belajar tersenyum sambil berkata, “Ayah bekerja sangat jauh”, membuat teman-temannya percaya begitu saja. Bohong itu terasa seperti memakan roti berjamur—bau busuknya tetap menempel di lidah. Tapi lebih baik berbohong, dari pada menjelaskan sesuatu yang ia sendiri tak mengerti.

Setiap malam, tangisan Ibu terdengar dari kamar mandi. Air keran menyamarkan suara itu, tapi bagi Gwen, tangisan itu terdengar jelas—seperti seseorang yang mencoba bernapas di dalam air. Dan ya, suara isakan ibunya masuk begitu menyakitkan dalam dadanya.

Kadang ia terbangun karena mimpi buruk—Ayah dan Ibu berteriak di tengah badai, dan ia berdiri di antara mereka, mencoba menutup mulut keduanya dengan tangannya yang kecil. Sehingga Gwen kecil, hanya mampu memeluk dirinya sendiri, saat mimpi-mimpi buruk itu kian berani menerornya.

Suatu sore, Ayah mengajak bertemu di kafe. Gwen sempat berharap. Dan akhirnya harapan itu tiba.

Saat Ayah datang, ia tersenyum seperti dulu—tapi matanya tetap kosong. Tapi begitu ia melihat Ayah, senyum itu tak sampai ke mata. Mereka memesan es krim, tapi rasa manisnya hilang sebelum sampai ke lidah. Juga percakapan terasa kaku. Ayah bertanya soal nilai sekolah, teman-teman, dan apakah Ibu baik-baik saja.

Gwen dan ayah sempat diam. Karena merasa pertemuan dan obrolan ini terasa janggal dan aneh. Hingga tiba-tiba suara Gwen memecah kebisuan itu.

“Ayah… kita bisa tinggal bareng lagi, kan?” tanyanya pelan. Pertanyaan itu lolos dari bibir mungil Gwen begitu saja.

Ayah menatapnya lama, terlalu lama. “Tidak, kak. Beberapa hal yang terlanjur terjadi… tidak bisa diperbaiki.”

Kalimat itu seperti palu yang memecahkan kaca tipis dalam dadanya. Gwen menunduk lesu. Es krimnya mencair dan rasanya terasa hambar. Ayah mengelus puncuk kepala putrinya, dan sialnya sentuhan itu terasa milik orang asing yang kebetulan tahu namanya.

Dingin sekali.

Tahun-tahun yang panjang berlalu.

Gwen menjadi remaja pendiam, mahir tersenyum didepan banyak orang, mahir menyembunyikan rasa sakit dalam dirinya. Ia jarang membicarakan masa kecilnya, tapi didalam dirinya, suara pertengkaran itu terus muncul, memantul seperti gema di gua.

Ada pada malam-malam di mana ia mendengar suara dari masa lalu—piring pecah, suara Ibu yang memekik, suara Ayah yang berat dan penuh tekanan. Suara itu datang dari dalam kepalanya, tapi kadang terdengar nyata, seperti berasal dari ruangan sebelah.

Saat hujan deras, ia kembali menjadi anak delapan tahun di pojok ranjang, memeluk Boneka alpaca robek kesayangannya. Dan dari ujung matanya, ia melihat sesuatu—dua bayangan besar, berdiri di ambang pintu kamarnya, berteriak pada satu sama lain tanpa suara, sementara dirinya di tengah, membeku. Penuh rasa takut.

Malam itu, ia sadar.

Badai itu tak pernah pergi dari rumah.

Badai itu pindah ke dalam dirinya—dan menetap. Hingga ia bingung, bagaimana melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang menyeramkan itu lagi. Yang sudah membuat langit masa kecilnya retak, retak yang begitu parah. Hingga serpihan retakan itu pun melukai Gwen berkali-kali.

 

Aprillia Putri Kadiah atau biasa di sebut April. Ia lahir di Sungai kayu ara, desa kecil yang banyak menyimpan kisah. Tepat pada hari lelucon sedunia, tanggal 1 April 2002. Gemar melihat tanaman dan ikan hias. Ia juga suka melukis, membaca, dan menonton gambar 2D yang sering disebut anime.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan