PARADE PUISI 237 TAHUN PEKANBARU – Puisi Fakhrunnas MA Jabbar

PARADE PUISI
237 TAHUN KOTA PEKANBARU,
23 JUNI 1784-2021

Puisi-Puisi Fakhrunnas MA Jabbar

Tanah Airku Melayu

di sini
kuberdiri
di tanah airku
di ranah melayuku

ku coba kembara
menjejak harap di kota-kota dunia
mencecap maung laut dan samudera
menghirup bau kawah di busut yang mengulur lidah ke arasy
bagai burung kelelahan ditikam surya
bagai angin tak temukan arah
bagai panah tak ke mana-mana
melayu jua bertahta di jiwa

walau kueja jua langkah sang sapurba
menapaki bukit seguntang sejak lama
menebar sukma di riau-lingga
menitip pesan pada sang nila utama
membentang sayap dari tumasik hingga melaka
menabur wangi bunga di campa dan afrika
atau mengukir jalur sutra di china
melayu jua bersisa di jiwa

kutahu pula lima saudagar bugis
terdampar di lingga
merangkai biduk di penyengat
mengukir sejarah tak sudah
raja haji menghunus pedang
raja ali haji membentang kalam
di kitab bahasa
melayu jua merona di jiwa

kutatap melaka berkisah
adat resam ditegakkan
kalimah syahadah dilaungkan
bak tali berpilin tiga
ada islam jadi tiangnya
ada adat jadi pagarnya
ada bahasa jadi pengikatnya
melayu jua bersarang di jiwa

di sini
kuberdiri
di tanah airku
di ranah melayuku

sejauh-jauh mata memandang
di ranah melayu ditukikkan
sejauh-jauh kaki melangkah
di ranah melayu dihentakkan
sejauh-jauh hati ‘kan terbang
di ranah melayu dihinggapkan

di sini
kuberdiri
di tanah airku
di ranah melayuku

pku, 2007/08

Fakhrunnas MA Jabbar

Sebuah Kota Bernama Hati

tiap detik kubangun kota-kota dalam diri kurajah jarak pada gapura dan prasasti tanpa tapal kutanam batas
kepak burungpun menebas waktu
wahai daku penghuni kota diri kutanam rumah kaca di ulu hati kepak ozon melambai-lambai
gelombang darah tenggelamkan kota-kota kucari menara tak jumpa
tiap detik kubangun kota-kota dalam diri jejalanan buntu tanpa pejalan kaki kereta melaju di lorong nadi
kecepatannya mendekati tekanan darah tinggi lampu-Iampu suar memancar dari laut jiwa
tak ada camar memburu paru
tak ada lancang berlabuh
tak ada cewang membalut hati
pb. 0206

Fakhrunnas MA Jabbar

Belantara Kata

kumasuki belantara kata pohon-pohon aksara bertumbuhan akar tunggangnya di melayu
sekali kusebut ribut kata-kata bertumbangan kulihat raja ali haji memagut kitab bahasa helai halamannya menabur nusa
dan chairil meniti daun kata di tingkap bahasa para penyair menanamnya kembali
sedang tardji tertatih-tatih membuang makna kata-kata bagai angin terbang
tak bisa dipahami
sekali kusebut ribut kata-kata pun berterbangan
belantara kata kini kian semak aksara para penyair bertanam imaji
siapa tumbuhkan jiwa dalam ruh sajak siapa mencari-cari setinggi-tinggi terbang daun aksara
di melayu hamparannya
di nusantara rumahnya
pb. 0206

Biodata : Fakhrunnas MA Jabbar
SPN. Ir Fakhrunnas MA Jabbar. M.I.Kom lahir 18 Januari 1959. Menulis pada lebih seratus media sejak tahun 1975 sampai dengan sekarang berupa cerita anak, esai, kritik, cerpen dan puisi. Buku-buku yang sudah terbit sebanyak 15 buah : 4 Kumpulan puisi tunggal ( Airmata Barjanji, 2005 dan Tanah Airku Melayu, 2007. Airmata Musim Gugur, 2016 dan Airmata Batu, 2017) 4 Kumpulan Cerpen (Jazirah Layeela, 2004 Sebatang Ceri di Serambi, 2006 dan Ongkak, 2010) Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian, 2017, 3 Biografi (zaini kunin, Sebutir Mutiara dari Lubuk Bendahara, 1993 dan Soeman Hs, Bukan Pencuri Anak Perawan, 1998 dan RZ, Apa Adanya bersama Yusril Ardanis, 2010) serta 5 buku cerita Anak, Menghadiri iven sastra di 15 negara antara lain : Korsel, Perancis, Belanda, Swiss, Azerbaijan, negara-negara Asia, dan sering memenangkan lomba sayembara karya sastra.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan