Sastra Lisan Dan Pendidikan Karakter: Basis Kearifan Lokal Untuk Bangsa Beradab: Catatan Tengku Muhammad Sum, S.S., M.Ikom.

29

Pendidikan karakter merupakan salah satu prioritas utama pembangunan pendidikan nasional. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta memiliki kecerdasan dan keterampilan untuk hidup bermasyarakat. Namun, realitas sosial menunjukkan adanya krisis nilai: meningkatnya perilaku intoleran, kekerasan remaja, serta lunturnya solidaritas sosial.

Dalam situasi tersebut, sastra lisan dapat menjadi alternatif strategis dalam pendidikan karakter. Menurut Hutomo (1991), sastra lisan adalah ekspresi budaya yang diwariskan secara turun-temurun melalui tuturan dan mengandung nilai moral, sosial, maupun spiritual. Dengan sifatnya yang performatif dan kolektif, sastra lisan mampu menghadirkan pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif sekaligus afektif peserta didik.

Sastra Lisan sebagai Sumber Nilai

Secara konseptual, pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari nilai budaya. Thomas Lickona (1991) menyebutkan bahwa pendidikan karakter mencakup aspek pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action). Ketiga aspek ini selaras dengan fungsi sastra lisan yang tidak hanya menginformasikan norma, tetapi juga menanamkan rasa, serta mendorong tindakan nyata.

Contoh konkret dapat ditemukan pada berbagai tradisi tutur Nusantara:

1. Pantun Melayu menekankan nilai kesantunan, kearifan, dan harmoni dengan alam.
2. Cerita rakyat Minangkabau seperti Malin Kundang mengajarkan ketaatan pada orang tua dan bahaya durhaka.
3. Hikayat Hang Tuah meneguhkan nilai keberanian, loyalitas, sekaligus moralitas seorang pemimpin.
4. Dongeng Kancil menanamkan kecerdikan dan daya juang untuk bertahan hidup.

Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa sastra lisan berfungsi sebagai medium internalisasi norma sosial dan moral, sesuai dengan pandangan Koentjaraningrat (2009) bahwa kebudayaan merupakan sistem nilai yang hidup dan diwariskan dalam masyarakat.

Sastra Lisan dalam Pendidikan Karakter

Pemerintah melalui Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menegaskan lima nilai utama: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Jika ditinjau, nilai-nilai ini sesungguhnya telah lama terkandung dalam tradisi sastra lisan:

– Religiusitas: mantra dan doa tradisional mengajarkan syukur serta kesadaran transendental.
– Nasionalisme: legenda kepahlawanan lokal menumbuhkan kebanggaan identitas.
– Kemandirian: dongeng rakyat menekankan pentingnya kerja keras dan akal sehat.
– Gotong royong: pepatah dan pantun menekankan solidaritas dan kebersamaan.
– Integritas: cerita rakyat menampilkan tokoh jujur, adil, dan menepati janji.

Dengan demikian, sastra lisan bukan sekadar hiburan, tetapi sumber pendidikan karakter yang sesuai dengan konteks budaya bangsa.

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Dienullah Rayes

Berita Lainnya

A dan L: Puisi Wahyu Mualli Bone

Integrasi dalam Pendidikan

Penguatan pendidikan karakter melalui sastra lisan dapat dilakukan pada berbagai level pendidikan:
1. Pendidikan Formal
Guru dapat memanfaatkan teks sastra lisan sebagai bahan ajar. Misalnya, analisis nilai karakter dalam cerita Bawang Merah Bawang Putih atau pembuatan pantun yang mencerminkan sikap tolong-menolong. Hal ini sejalan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang menekankan relevansi pembelajaran dengan kehidupan nyata (Johnson, 2002).
2. Pembelajaran Berbasis Proyek
Mahasiswa dapat diajak melakukan eksplorasi langsung terhadap tradisi tutur di daerahnya. Kegiatan seperti dokumentasi, wawancara dengan maestro, atau pentas kembali tradisi lisan bukan hanya melatih keterampilan akademik, tetapi juga menumbuhkan empati budaya.
3. Pendidikan Nonformal dan Keluarga
Keluarga dan komunitas dapat menghidupkan kembali tradisi mendongeng atau pantun. Aktivitas sederhana seperti mendongeng sebelum tidur merupakan strategi edukatif yang efektif untuk membentuk karakter anak sejak dini (Nurgiyantoro, 2010).

Sastra Lisan di Era Digital

Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjadikan sastra lisan relevan di tengah dominasi budaya digital. Jika tidak beradaptasi, sastra lisan berisiko terpinggirkan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi berupa digitalisasi dan distribusi konten. Podcast cerita rakyat, kanal YouTube dongeng, atau aplikasi pantun interaktif dapat menjadi media pembelajaran yang sesuai dengan karakter generasi muda.

Fenomena ini sejalan dengan pandangan Ong (1982) dalam Orality and Literacy, yang menekankan bahwa transformasi dari budaya lisan ke budaya tulis, hingga budaya digital, membawa konsekuensi pada cara berpikir dan belajar manusia. Dengan memanfaatkan teknologi, sastra lisan tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dimodernisasi sebagai sumber pendidikan karakter.

Kasus Lokal: Nolam Kampar

Tradisi Nolam di Kampar, Riau, merupakan salah satu contoh konkret. Syair Nolam yang dibacakan dengan irama khas memuat pesan moral, nasihat keagamaan, dan refleksi kehidupan sosial. Di dalamnya terdapat nilai kesabaran, pengendalian diri, dan rasa syukur kepada Tuhan. Mengintegrasikan Nolam dalam pembelajaran sastra tidak hanya melestarikan identitas lokal, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual dan etika peserta didik.

Penutup

Sastra lisan adalah khazanah budaya yang menyimpan nilai moral, sosial, dan spiritual untuk membentuk manusia berkarakter. Dalam konteks pendidikan Indonesia, sastra lisan dapat menjadi instrumen penting untuk mengintegrasikan nilai kearifan lokal dengan pendidikan karakter modern. Di era digital, sastra lisan perlu direvitalisasi melalui inovasi media agar tetap hidup di hati generasi muda.

Dengan demikian, pendidikan karakter berbasis sastra lisan bukan hanya upaya pelestarian budaya, tetapi juga strategi membangun bangsa yang beradab, bermoral, dan berbudaya.

Pekanbaru, 16 Agustus 2025

Tengku Muhammad Sum, S.S., M.Ikom., Dosen Sastra Indonesia FIB Universitas Lancang Kuning

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan