Kompas Akhlak Sang Pemimpin: oleh Hendrizon Bin (Alm) Nashruddin Zakaria

7

Langit desa Waringin yang terletak diujung pulau itu tampak mendung, seolah-olah sedang menceritakan kondisi ril akan buruknya tatakrama antar warga. Dahulu, tanah perkebunan karet di desa Waringin itu terasa tenang dan dipenuhi tawa dan kedamaian. Namun, bibit perpecahan mulai tumbuh pasca tamatnya masa pendidikan tiga pemuda setempat yakni Joko, Sabri, dan Hamid.

Melalui jalan hidup yang berbeda, ketiga pemuda tersebut perlahan menarik garis batas pendukung dikalangan penduduk. Sabri memilih bertahan total di tanah kelahiran. “Cukuplah kusemaikan baktiku di sini,” cetusnya seakan-akan bersumpah demi tanah kelahirannya. Baginya, pemuda kampung tak perlu melangkah jauh cukup dengan pendekatan emosional dan saling kenal sejak kecil sudah cukup untuk saling membenahi jika ada yang salah.

Sebaliknya, Hamid meyakini bahwa keterbatasan harus ditabrak dengan pengetahuan formal. Sebelum bertolak ke Kota Pelajar, sebuah dialog mengharukan terjalin di ambang pintu rumahnya.

“Mak, aku berangkat ke Yogyakarta siang ini,” pamit Hamid sembari mengemas bekal sederhana hasil keringat orang tuanya. Jerih payah menuntut ilmu pasti akan lebih terasa berat di negeri orang, tapi doa restu orang tua adalah langkah kembali yang akan membawa Hamid bermanfaat bagi warga desa Waringin.

“Siang ini, kau berangkat nak… Mak tak bisa banyak memberikan bekal. Jaga perilakumu. elok budi lagi dikenang, buruk tingkah laku akan ditendang. Selamatnya seseorang tergantung bagaimana ia menjaga lidah. Selagi hayat dikandung badan, doa mak tetap tercurahkan,” Ibu Hamid berpesan sambil merapikan kerah baju sang putra.

Hamid pun terus melangkah. Sebagai mantan siswa berprestasi, ia paham bahwa ilmu perguruan tinggi sangat diperlukan agar masyarakat tak mudah dibodoh-bodohi.

Sementara itu, Joko mengambil jalan tengah. Tanpa berkuliah, ia memilih untuk berguru secara mandiri dengan cara menemui para ulama, sesosok demi sesosok, serta menggali kronologi sejarah setempat dari para tetua. Joko yang paham akan akar tradisi, meski solusinya kerap terbatas pada masalah yang sedang terjadi namun sulit memprediksi dinamika kehidupan di masa depan.

Ketiga jalan pikiran pemuda ini membelah warga Waringin menjadi tiga kubu yang saling keras kepala. Bahkan ada yang sampai dititik fanatisme sehingga gesekan kecil kerap menyulut amarah, bahkan senjata tajam tak jarang berbicara. Keadaan makin memuncak ketika Hasyim seorang Ketua Kampung yang amat disegani, meninggal dunia (Wafat atau berpulang ke Rahmatullah). Sejak itu Desa Waringin pun mendadak kehilangan pegangan dan dilanda krisis kepemimpinan yang hebat.

Muncullah perebutan kursi kekuasaan yang tak terhindarkan

• Kubu Sabri menuntut pemimpin haruslah orang lama yang rutin berada di lapangan, cukup bermodalkan semangat kemasyarakatan.
• Kubu Joko mengandalkan figur berakhlak, berilmu lokal, dan dituakan sebagaimana yang dicontohkan oleh para tokoh setempat dulu Joko pernah berguru.
• Kubu Hamid menyodorkan kriteria modern yang terstruktur. Seorang pemimpin harus memiliki manajemen diri yang baik, strategis dalam bertindak, berkomunikasi efektif, bertanggung jawab tanpa lepas tangan, serta konsisten pada tujuan.

Perdebatan kian memuncak hingga ke ambang pertumpahan darah, sebab tak satu pun kubu mau mengalah. Sampai pada suatu sore, seorang kiyai yang alim mengenakan busana yang bersahaja singgah di desa Waringin. Namanya Dawam, dipanggil Kiyai Dawam. Pak Kiyai itu dalam perjalanan pulang menuju Desa al Falah kampung halamannya untuk berziarah ke makam orang tuanya setelah sepuluh tahun pergi menimba ilmu.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Melihat pertikaian yang terjadi di balai desa Waringin kian membara, Kiyai Dawam pun angkat bicara dengan ketenangan yang menyejukkan.

“Kekuasaan memanglah penting, namun seorang penguasa yang sejati akan diukur dari caranya memperoleh kekuasaan, menggunakan kuasanya untuk merangkul seluruh elemen yang ada, sebab tanpa persatuan dan kesatuan, setiap bentuk kekuasaan hanya akan menjadi pemicu perpecahan dan menghambat pembangunan serta mengorbankan kesejahteraan rakyat,” Ujar Kiyai Dawam

Beliau juga menerangkan bahwa kepemimpinan sejati wajib meneladani empat sifat utama Rasulullah: Siddiq (benar), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan kebaikan), dan Fathonah (cerdas).

Lebih lanjut, Kiyai Dawam pun mengutip dan menjelaskan dengan santun ayat demi ayat yang ada di dalam al Quran:

• QS. As-Sajdah: 24, bahwa pemimpin dihadirkan untuk memberi petunjuk atas perintah Allah selama mereka bersabar dan meyakini ayat-ayat-Nya.

• QS. An-Nisa: 58 & 59, yang menegaskan kewajiban menunaikan amanah kepada yang berhak, memutus perkara secara adil tanpa kezaliman, serta taat kepada Allah dan Rasul.

• QS. Al-Baqarah: 124 & QS. Shad: 26, bahwasanya janji kepemimpinan tidak berlaku bagi orang yang zalim dan hendaknya kebijakan diambil tanpa menuruti hawa nafsu semata.

• QS. As-Saff: 4 & QS. Ali ‘Imran: 103, tentang pentingnya membangun barisan yang kokoh, berpegang teguh pada tali agama, menyeru pada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar.

“Maka, janganlah kalian terpecah karena kelompok atau ego semata. Cari dan tunjuklah sosok yang paling banyak memenuhi kriteria-kriteria yang disebutkan tadi,” pungkas Sang Kiyai

Petuah yang sarat hikmah itu sungguh menenagkan warga Waringin termasuk Sabri, Joko, dan Hamid. Mereka tertunduk menyadari kekhilafan mereka. Perebutan kursi kekuasaan yang hampir merobek persaudaraan itu pun usai, berganti dengan kesadaran baru untuk memilih pemimpin yang benar-benar amanah.

Bengkalis, 19 September 2026

Hendrizon, Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024-2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan