“Sastra dan the Indonesian State” Cara Griven Merawat Denyut Sastra di Bumi Lancang Kuning: Catatan Marzuli Ridwan Al-bantany

20

Di bawah rintik hujan yang memeluk kota kecil ini pada petang Kamis (5/11) yang lalu, ada dua buah buku manis singgah di tanganku. Buku ini dihantar langsung oleh seorang sahabat, sastrawan Musa Ismail. Salah satu dari buku tersebut adalah permata: buku kumpulan esai terbaru karya sastrawan Riau Griven H Putera yang menetap dan mengabdi sebagai ASN di Pekanbaru. Sungguh beliau sastrawan sekaligus penulis yang setia merawat kata, detak sastra di bumi Melayu ini.

Buku segar yang baru saja lepas dari mesin cetak pada September lalu itu dititipkan beliau khusus untukku. Bagiku, buku esainya yang mengupas perkembangan sastra Riau khususnya, dan Indonesia umumnya ini laksana jendela transparan yang memantulkan wajah kesusastraan kita. Ia hadir dengan tajuk yang memprovokasi imajinasi: Sastra dan the Indonesian State.

Bagi saya, bang Griven—aku memanggilnya begitu—bukanlah nama yang asing; dia adalah antara sauh yang tunak menancap pada palung kreativitas, seorang penjaga mercusuar peradaban yang tak pernah lelah menyalakan pelita huruf di Bumi Lancang Kuning, tanah Melayu yang bertuah ini. Lembar demi lembar tulisan yang disematkannya di dalam buku ini bagai jalinan benang emas yang merajut ulang peta perjalanan sastra kita, khususnya di Riau dalam membaca gelora zamannya, merenungi setiap liku perkembangannya, sekaligus menggugah kesadaran kita semua tentang bagaimana sebuah bangsa mengeja jiwanya lewat karya. Menerimanya di ambang senja yang basah bukan sekadar perjumpaan dengan benda mati, melainkan sebuah dialog batin yang hangat, menyalakan kembali bara cinta pada dunia kata-kata yang tak lekang oleh bilangan zaman.

Namun, kehangatan yang terpancar dari lembaran-lembaran ini terasa kian personal saat jemari saya menelusuri daftar isinya. Di sana, di antara bentangan pemikiran yang jernih, Griven dengan murah hati menyematkan kembali sebuah tulisan yang pernah ia racik dengan begitu anggun—sebuah kata pengantar yang dulu ia persembahkan untuk buku kumpulan cerita pendek yang kutulis, Burung-Burung yang Mengapling Surga dengan judul Kampung, Cerita yang Tak Pernah Sudah (halaman 169-171). Buku ini adalah kumpulan cerpen perdana-ku yang terbit pada tahun 2018 silam, saat-saat awal ketika beralih rentak dalam menulis; dari karya-karya jurnalistik menjadi karya-karya sastra. Membaca ulang barisan kalimatnya di buku esainya ini seolah memutar kembali pita kenangan, menghadirkan bisikan-bisikan penguat yang pernah ia tiupkan ke layar perahu proses kreativitas-ku sebelum ini.

Selain di buku ini, seingatku pada buku beliau sebelumnya berjudul Celana Tak Berpisak (2018), beliau telah menyertakan tulisan tentang kumpulan cerpen-ku itu. Mungkin, karena kali ini beliau hendak mendokumentasikan tuisan-tuisannya mengenai sastra, tentang geliat sastra secara menyeluruh dan terpadu, maka setiap tulisannya di buku ini adalah tulisan-tulisan terpilih yang sudah tentu menjadi monumen intelektual yang merekam pasang surut kesusastraan kita dengan begitu utuh dan bernas.

Bagi-ku, tindakan itu bukan sekadar bernostalgia atau selingan selintas. Ia adalah suluh penghormatan yang mulia, sebuah bentuk apresiasi tulus yang ditumpahkan oleh seorang maestro besar kepadaku—seorang perajin kata dari pinggiran Selat Malaka yang masih saja tertatih mengeja jejak dan belum ada apa-apanya jika disandingkan dengan keteguhan karyanya. Sikap tawajuh dan kerendahan hatinya untuk merawat tunas-tunas muda di belantara sastra Riau hari ini, sungguh menjadi cermin betapa besarnya jiwa kepengarangan yang sedang ia pikul.

Kehadiran buku Griven berjudul Sastra dan the Indonesian State—yang bila diperhatikan merupakan kumpulan tulisan pilihannya sepanjang tahun 2011 hingga 2025 ini, seketika menjelma menjadi ruang ganda yang kaya makna bagiku selaku penulis dan sastrawan yang datang setelahnya. Di buku ini di satu sisi ia menyuguhkan himpunan pengetahuan yang begitu padat—sebuah benjana ilmu yang menampung segala gagasan, kritik, dan refleksi mendalam mengenai dinamika kebudayaan, khususnya kesusastraan tanah air. Di sisi lain, buku ini juga berdetak sebagai ikatan emosional yang mengingatkan aku bahwa setiap titikan tinta dan usaha kecil kita dalam merawat bahasa ternyata selalu disimak, dihargai, dan diberi tempat yang layak di dalam ingatan seorang sahabat senior.

Lebih jauh dari sekadar relasi personal, Sastra dan the Indonesian State berdiri tegak sebagai monumen penanda zaman. Lewat kecermatan analisis dan kehalusan bahasanya, Griven berhasil merekam dengan sangat indah helaan napas serta gerak langkah perjalanan kepengarangan di tanah Riau. Setiap gelombang dinamika kepenulisan tempatan—baik benturan gagasan, pasang surut kreativitas yang muncul, hingga jejak-jejak estetik yang menyejarah—tersimpan rapi dan diabadikan dalam bingkai literasi yang penuh wibawa ini.

Oleh sebab itu, menerima dan membaca beberapa halaman buku yang dihadiahkan oleh sastrawan—yang beberapa karyanya pernah pula kuulas sebelum ini dengan sederhana—di senja yang ranum petang itu adalah sebuah anugerah yang mengalirkan energi baru. Ia tak sekadar mengisi rak perpustakaan kecil pribadi-ku dengan koleksi yang manis, namun juga meniupkan kembali bara tekad untuk terus menekuni jalan sunyi kepenulisan. Di tangan Griven H. Putera, sastra Riau tak hanya dicatat dan dirayakan, melainkan ditenun menjadi warisan pengetahuan yang akan abadi dan terus bercahaya, menuntun siapa saja yang ingin mengeja keindahan kata di bumi Melayu yang elok ini .

Perjalanan menyelami isi buku ini bagiku kian memikat, manakala mata saya membentur deretan judul esai yang tertera di daftar isinya. Ada sebentuk ketulusan dan ketajaman riset yang terpancar ketika Griven membongkar-pasang peta kebudayaan kita; beberapa judul tulisannya mengupas tuntas dinamika sastra di Riau dengan bentangan gagasan yang luas—meliputi liku-liku estetika lokal, degup ekosistem kreatif, hingga pergulatan para seniman daerah dalam merawat napas kesusastraan di tengah arus zaman yang menderas.

Bahkan, yang paling menarik dan membuat saya terpaku, ia menyebut bahwa sastra Riau tidak pernah benar-benar hidup dalam isolasi, melainkan sebuah detak nadi yang terus menerus merundingkan identitas keindonesiaan dari bilik-bilik pinggiran, membuktikan bahwa ketulusan berkarya mampu menjelma menjadi sauh kultural yang mengukuhkan martabat bangsa dari ufuk timur pulau Sumatra.

Tulisan Terkait

Sumur Windu: Puisi Dian Riasari

Berita Lainnya

Payung Do’a: Puisi Nurzuha

Lihat bagaimana Griven dalam salah satu tulisannya berjudul Sastra dan the Indonesian State—sesuai pula dengan judul bukunya yang sangat ‘memprovokasi’ ruang minda kita, dengan tegas ia menyatakan bahwa “Tak ada sastra tiada Negara Indonesia”. Penegasan ini bukan mengada-ngada, sebab—meskipun dengan sangat sederhana dinyatakan bahwa Indonesia dikatakan merdeka dan berdiri setelah diproklamirkan melalui sebuah pernyataan dalam bentuk teks oleh Soekarno-Hatta. Peryataan dalam bentuk teks itu menggunakan bahasa Melayu (Indonesia) yang sastrawi, dengan diksi yang indah dan memukau, serta memiliki kekuatan hukum. Selain itu, ia turut mengutip pernyataan yang pernah disampaikan Sutardji Calzoum Bachri, sang Presiden Penyair Indonesia, bahwa teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah puisi dengan kata-kata yang mengandung keindahan bunyi dan menyiratkan mimpi-mimpi tentang nasib bangsa ini di masa depan. Dikatakannya teks Sumpah Pemuda itu adalah mimpi yang menjadi impian besar, lalu kemudian menjadi puisi besar yang mampu menggerakkan jutaan manusia tanpa sekat asal, suku, puak, bahkan tempat dan agama dalam mewujudkan impian besar tersebut.

Inilah barangkali mengapa Griven memilih judul tulisannya itu kemudian menjadi judul bukunya kali ini—judul yang menasional—Indonesia. Tentu ada tujuan besar yang tersirat maupun tersurat ingin ia ingatkan bersama, bahwa sastra selain memiliki keindahan, keunikan, bahkan keistimewaan yang khas, sastra juga adalah ‘senjata’ paling ampuh dalam mengawal, menggerakkan serta merawat sebuah bangsa dan peradaban. Lalu bagaimana kaitannya dengan sastra kita hari ini? Khususnya Riau sebagaimana ia kemukakan dalam tulisan-tulisannya dalam buku yang ranggi ini? Tentu beragam hal telah ia ceritakan. Telah pula ia rajut suka dan duka yang ada padanya (pada geliat sastra Riau) dalam segala warna dan benang sulamannya, dalam sebuah buku yang menjadi papan tanda bagi kita; bagaimana harus melangkah dan bergerak lebih merdeka.

Sebagai seorang penulis, penyair, sastrawan dan seniman Melayu, kita menyadari sepenuhnya bahwa laku dalam berkarya tak boleh henti, membiarkan laman-laman bermain menjadi padang tandus yang sunyi. Semangat berkarya mesti selalu didorong, disiram, dan dinyalakan semangatnya dari masa ke masa. Menulis seperti apa yang selama ini tunak dilakukan Griven adalah ikhtiar batin melawan lupa, merawat kewarasan zaman, dan menitipkan jejak jiwa agar kebudayaan kita tak karam ditelan ombak modernitas yang bising. Setiap kata yang dirangkai di atas kertas adalah bentuk perlawanan terhadap kefanaan, sebuah bukti bahwa kita pernah berpikir, mencintai, dan merenungi hidup dengan sungguh-sungguh.

Kita tahu, Riau sejak dulu-nya telah dikenal luas sebagai negeri Shahibul Kutub—tanah bertuah tempat para pemilik kitab, penyair, dan pemikir besar menorehkan tinta keemasan dalam sejarah peradaban Melayu. Darah kepengarangan itu mengalir deras di dalam nadi kita, diwariskan turun-temurun dari para pendahulu yang melihat dunia lewat jendela kehalusan bahasa. Oleh karena itu, merawat nyala api kepenulisan hari ini bukanlah sekadar pilihan personal, melainkan sebuah amanah sejarah agar warisan luhur tersebut tetap hidup, bernapas, dan menjadi mercusuar bagi generasi yang akan datang.

Pada akhirnya, kita dipulangkan pada sebuah kesadaran bahwa menulis adalah kerja kemuliaan yang melintasi batas-batas usia dan ruang. Di atas hamparan kertas putih yang sunyi, tangan-tangan perajin kata mengabadikan setiap laku kehidupan, tawa, air mata, serta arus zaman yang berkelebat cepat—menjadikannya prasasti abadi yang kelak akan bercerita dengan jujur tentang dirinya, lingkungan di mana ia berpijak, dan setiap kenangan manis yang pernah singgah. Sebab seperti yang diwariskan oleh para pendahulu, apa yang terpatri dalam tinta akan jauh lebih panjang usianya ketimbang napas manusia yang rapuh.

Menulis pada hakikatnya adalah cara paling elegan untuk menghidupkan diri, sebuah ikhtiar batin agar jiwa kita tak pernah benar-benar mati dan senantiasa dikenang serta diingati walau jasad kelak tak tampak lagi oleh mata. Lewat kalimat-kalimat yang kita tinggalkan, kita menolak untuk tenggelam dalam kefanaan, membiarkan roh pemikiran dan cinta kita terus bernapas di dalam dada para pembaca masa depan, menjadi abadi dalam keabadian kata-kata.

Sebagai sastrawan, bang Griven H Putera saya yakin sadar betul, bahwa dengan menulis ia telah menjadi pencatat sejarah dan kebudayaan yang setia, merekam berbagai peristiwa penting tentang kesusastraan kita. Melalui buku berjudul Sastra dan the Indonesian State ini, adalah diantara cara paling indah yang dilakukannya dalam merawat denyut sastra di Bumi Lancang Kuning, tanah Melayu ini. Sekurang-kurangnya, melalui karya yang monumental ini beliau ingin mengatakan kepada kita semua, juga kepada Indonesia, bahwa dari tanah Riau sastra itu bagai nyala pelita yang tak pernah padam. Saban waktu akan terus menyala, meski kadang cahayanya tak selalu terang, ia tetap menuntun langkah setiap musafir yang tersesat dalam senyap zaman.

Akhirnya, melalui catatan penutup ini izinkan aku menghaturkan terima kasih yang tak terhingga kepada sang maestro, Griven H Putrera atas kemurahan hati dan hadiah buku yang begitu berharga ini. Terlebih lagi, kenangan manis tatkala beliau dengan sabar dan telaten mengupas kumpulan cerpen perdana-ku lewat kata pengantarnya yang begitu indah, menjadi salah satu mercusuar paling bermakna sepanjang perjalanan kepengarangan-ku. Semoga kebaikan, ketulusan, dan goresan pena beliau senantiasa diberkahi, terus mengalirkan inspirasi, serta menjadi suluh yang tak pernah padam bagi terang peradaban sastra di tanah Riau dan Indonesia.

Semoga Riau akan terus melahirkan para penulis, penyair, sastrawan, pengarang, dan seniman yang tak pernah lelah menjaga serta merawat peradaban, keluhuran budaya, dan keindahan negeri. Semoga pula semangat kepenulisan di bumi bertuah senantiasa kuat, sehingga apa yang digariskan dan dicita-citakan melalui tajuk buku Griven—agar Sastra dan the Indonesian State (baca: sastra dan Negara Indonesia) tetap berpadu dalam harmoni yang agung; negara membutuhkan sastra untuk merawat minda, moral, dan ingatan kolektif warganya, sementara sastra membutuhkan ruang kebebasan dan kedaulatan dalam bingkai negara untuk terus bernapas.

Syabas!
Wallahu a’lam.

Bengkalis, 7 November 2026

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penulis dan sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Selain merupakan ASN, beliau juga aktif di sejumlah organisasi sosial dan kemasyarakatan di Bengkalis.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan