Dua Sastrawan Riau Baca Puisi pada Iven Dari Negeri Poci ‘Mozaik’ di Ruang Paripurna DPRD Kota Tegal

21

TEGAL – TIRASTIMES: Dua sastrawan Riau masing-masing Dr. M. Husnu Abadi, M.Hum dan Dr. (Can) Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom tampil membaca puisi dalam rangkaian peluncuran dan diskusi antologi puisi Dari Negeri Poci (DNP) ke-16 bertajuk Mozaik di Ruang Paripurna DPRD Kota Tegal, Sabtu (24/10/26). Fakhrunnas membacakan puisi bertajuk Sajadah Berzikir sedangkan Husnu Abadi membacakan puisi Di Kaki Jakarta karya Ibrahim Sattah. Kehadiran sastrawan Riau dalam perhelatan sastra nasional ini menjadi bagian dari pertemuan penyair lintas daerah yang disatukan oleh kecintaan terhadap puisi dan tradisi literasi Indonesia.

Acara ini dihadiri para pendiri Komunitas Radja Ketjil sebagai pembakaran DNP yakni Prof. Priono Tjiotoherianto, dr. Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhi dan Adri Darmadji Woko. Puluhan penyair dan sastrawan tampak hadir diantaranya Bambang Widiatmoko, Nia Samsihono, Atmo Tan Sidik, Linda Djalil, Sintang Miranda, Afnan Malay, Ariyani Isnamurti, Naim Emel Prahana, dan masih banyak lagi.

Acara ini juga dihadiri Wakil Wali Kota Tegal, Hj. Tazkiyyatul Muthmainnah, S.K.M., M.Kes saat penutupan acara. Acara dipimpin oleh MC Indra Piek Ardianto, Julia Utami dan Shinta Miranda.

Pendiri DNP, Prof. Priyono Tjiotoherianto pada pembukaan acara di Plataran Sastra Piek, 23/10 menjelaskan, Antologi Mozaik merupakan buku ke-16 dalam perjalanan panjang penerbitan Dari Negeri Poci, sebuah gerakan penerbitan puisi yang telah berlangsung selama lebih dari empat dekade. Buku setebal sekitar 600 halaman itu merekam keberagaman suara penyair dalam satu himpunan karya yang mencerminkan kekayaan ekspresi sastra Indonesia.

Sementara dr. Handrawan Nadesul menambahkan gerakan DNP ini padamulanya hanya melibatkan belasan penyair namun mengingat besarnya animo para penyair dari berbagai kota di Indonesia menjadikan gerakan yang bersifat egaliter dapat terus bertahan.

“Alhamdulillah, DNP sekarang sudah memiliki badan hukum Yayasan berkat bantuan penyair yang notaris Pria Takari yang tinggal di Bekasi.

Sebelum peluncuran dan diskusi di DPRD Kota Tegal, rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan Dari Negeri Poci di Pelataran Sastra Piek, Jalan Ceremai, Tegal, Jumat (23/10/26).

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Dalam diskusi yang berlangsung di Ruang Paripurna DPRD Kota Tegal, Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal, Suriali Andi Kustomo, menyoroti posisi geografis Tegal yang menguntungkan dalam membangun pertemuan kebudayaan. Letaknya yang strategis di jalur penghubung wilayah barat dan timur Pulau Jawa membuat kota ini memiliki akses yang baik bagi mobilitas manusia, informasi, dan kegiatan kebudayaan.

Menurut Andi, perjalanan Dari Negeri Poci hingga mencapai edisi ke-16 menunjukkan bahwa tradisi penerbitan antologi puisi dapat bertahan dan berkembang menjadi ruang perjumpaan penyair dalam skala nasional.

Meski demikian, Andi juga menyoroti tantangan distribusi buku yang masih terbatas akibat jumlah cetakan yang tidak terlalu banyak. Padahal, keberadaan antologi semacam ini penting untuk memperluas jangkauan pembaca sekaligus mendokumentasikan perkembangan puisi Indonesia.

Sementara itu, dr. Handrawan Nadesul yang memaparkan Hidup Sehat Penyair Negeri Poci mengingatkan Dari Negeri Poci telah dirintis sejak 1984. Perjalanan panjang itu tidak terlepas dari inspirasi dan peran Piek Adrianto Supriyanto dalam membangun ruang kreatif bagi para penyair.

“Penerbitan hingga edisi ke-16 menjadi bukti keberlanjutan sebuah gerakan sastra yang tumbuh dari semangat kebersamaan. Keberadaan Yayasan Negeri Poci juga disebut sebagai bagian dari upaya menopang keberlangsungan kegiatan tersebut,” ujar Nadesul.

Penyair Riau, Husnu Abadi, pada acara pembukaan DNP mengungkapkan kegembiraannya dapat menghadiri kegiatan tersebut. Ia menyebut dirinya sebagai tamu yang datang dari tempat paling jauh dibandingkan peserta lainnya. Husnu juga menyampaikan rasa syukur karena puisinya terpilih untuk dimuat dalam antologi Dari Negeri Poci ke-16. Keikutsertaannya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya sekaligus mempererat hubungan dengan para penyair dari berbagai daerah.

Kehadiran Husnu dan Fakhrunnas dalam kegiatan itu berlangsung di tengah agenda kebudayaan yang padat. Husnu, misalnya, harus meninggalkan kegiatan Festival Raja Ali Haji pada akhir Oktober untuk memenuhi undangan pertemuan sastra di Tegal.

Bagi para penyair, pertemuan seperti ini bukan semata-mata kesempatan membacakan karya. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar gagasan, membangun jejaring, serta merawat tradisi sastra yang melampaui batas geografis.

Dengan terbitnya Mozaik, Dari Negeri Poci kembali menegaskan peran antologi sebagai wadah dokumentasi sekaligus perjumpaan kreatif para penyair Indonesia. Perjalanan sejak 1984 hingga edisi ke-16 menunjukkan bahwa keberlanjutan sastra membutuhkan ketekunan, ruang publik, dan dukungan bersama agar puisi tetap hidup di tengah masyarakat. (NS/BK)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan