

Di pagi yang cerah, aku terbangun dari tidur nyenyak. Lalu aku melihat emak yang sedang memasak nasi goreng kesukaanku. Aku heran karena tidak melihat abah yang biasanya bermain gitar sembari minum kopi dengan gelas kaca. Aku pun bertanya kepada emak yang sedang memasak. “Abah di mana, Mak?”
“Abah sudah berangkat kerja,” jawab emak dengan suara lembut.
“Oh, begitu, Mak.”
Aku pun menikmati nasi goreng buatan emak.
Setelah selesai makan, aku pun bermain game di kamar. Lalu emak datang dan marah karena aku tidak mencuci piring yang baru kugunakan. “Ndehh, aku lagi malas,” jawabku.
Emak terdiam dan menutup pintu kamarku dengan kekecewaan.
Itu kulakukan karena aku anak nakal, pemalas, tak mau sekolah, sekalinya sekolah hanya tidur pulas.
Singkatnya pagi sudah berubah jadi siang. Siang telah berganti jadi petang, di situ belum kulihat abah pulang dengan motor supranya. Aku mulai mengkhawatirkan keberadaan abah.
Saat malam hari aku mendengar raungan ambulance di depan rumah. Lalu aku buka pintu rumah dengan jantung yang berdetak kencang. Saat pintu ambulance dibuka betapa terkejutnya aku, kulihat abah terbaring kaku. Aku hanya bisa termenung melihat abah yang tak berdaya, tangisku pun pecah di situ.
***
Keesokan paginya, aku dan emak pergi ke pemakaman bersama ambulance. Saat di perjalanan aku hanya termenung melihat abah yang sudah ditutupi keranda.
Saat tiba di pemakaman, aku bersama orang-orang mengangkat keranda abah. Setelah itu aku berjalan di bawahnya. Itu kulakukan karena nenek berpesan, dengan melakukan itu, aku tidak akan selalu mengingat abah dan kisah kematiannya yang tragis.
Saat abah di dalam liang lahat, lalu aku mengumandangkan azan sembari menahan air mataku yang tak ingin jatuh mengenai abah yang sudah dibaluti kain kafan.
Saat tanah mulai diturunkan, aku hanya bisa melihat jasad abah yang sudah tertimbun tanah. Semenjak itu aku berniat serius untuk belajar dan menjadi sukses agar bisa membanggakan emak yang dulu sering kubentak-bentak.
***
Bertahun-tahun kemudian.
Aku sudah menjadi anak yang berprestasi. Aku sekolah di SMA yang terkenal. Aku pun mendapatkan beasiswa. Di situ aku belajar giat hingga mendapatkan rangking satu. Di sekolah itu juga ada program untuk kuliah di luar negeri.
Aku mengikuti kelas tersebut dengan giat dan semangat. Itu semua kulakukan karena aku ingin membanggakan emak yang dulu sering membjuatnya marah, bahkan membentaknya hanya karena handphone.
Sekarang barulah aku sadar bahwa ilmu adalah satu hal yang membuat kita bangga dan juga bisa membuat kita dibanggakan. Singkatnya aku berhasil lulus di beberapa universitas terkenal, mulai dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Australia, dan Mesir. Di saat itu aku sangat kebingungan universitas mana yang harus kupilih.
Aku pun bertanya kepada orang yang jika ia restu maka Allah juga akan merestuinya. Siapa lagi kalau bukan emak.
“Mak, aku harus memilih universitas yang mana?”
“Terserah kamu saja, yang penting kamu bahagia,” jawab emak.
“Aku menyerahkan keputusannya kepada emak karena restu emak adalah restu Allah. Dan ridha Allah berada di ridha orang tua,” kataku.
“Baiklah kalau itu maumu. Kamu pilih ke Mesir saja,” jawab emak dengan suara lembut.
“Tapi apakah emak toidak keberatan jika aku pergi jauh?”
“Tidak. Emak malah bangga kepada anak emak karena kamu akan menjadi sukses di masa yang akan datang. Dan saat kamu sudah sukses, kamu bisa membahagiakan emak lagi.”
“Kalau nanti aku tidak kuliah lagi, bagaimana caraku membahagiakan emak?”
“Ya, dengan cara mengajak emak ke tempat-tempat yamng ingin emak kunjungi.”
“Kalau begitu aku akan kuliah di Mesir. Jaga diri emak baik-baik ya, Mak,” pintaku pada emak.
“Emak akan selalu mendoakanmu, Nak,” ucap emak.
“Terima kasih, Mak. Aku juga akan selalu mendoakan emak,” ucapku terharu dengan perlakuan emak dan perkataannya yang lembut.
***
Ke bandara, aku diantar emak dengan motor beat-nya. Sebelum masuk ruang tunggu, aku menyalami emak sambil berurai air mata. Saat dalam pesawat, air hujan turun membasahi kaca jendela pesawat yang kutumpangi. Air juga tumpah dari kedua mataku yang sedih dan haru karena meninggalkan emak.
Payakumbuh, 12 Mei 2025
***
Waly H Mursyidan merupakan siswa ICBS yang lahir di Pekanbaru Riau. Selain hoby menulis dan traveling, ia juga menyukai olahraga.