

Badan dunia UNESCO ke-221 di Paris, Prancis, Jumat (11/04/2025) menetapkan karya Hamzah Fansuri, sebagai warisan takbenda. Penetapan yang bersejarah itu diajukan secara bersama (joint nomination) oleh Perpusnas RI dan Perpustakaan Negara Malaysia. Para penyair Indonesia yang kini memperingati Hari Puisi Nasional (28 April 2025) seyogyanya bangga atas anugerah bersejarah tersebut. Berikut dipaparkan selintas tokoh penyair Nusantara kelahiran Barus Sumatra Utara ini.
Keberuntungan bangsa Melayu di Nusantara dibandingkan dengan bangsa yang lain karena wangsa Melayu memiliki teks-teks lama yang menjadi sumber konsep pembinaan bahasa dan sastra. Di dalamnya tertanam pelbagai hal yang berkaitan dengan konsep cara berpikir, beragama, berdakwah, berbahasa, berestetika, serta berpandangan terhadap pembelajaran dan penanaman spritualitas yang berhubungan dengan bangsa dan budaya lain.
Mencari konsep bahasa dan sastra Melayu dalam peradaban masa lalu dan kini bukanlah hal yang mudah, oleh karena bahasa Melayu pada umumnya berpijak di Timur dan bergaul dengan bangsa asing (Barat). Titik temu baik Barat maupun Timur meciptakan proses budaya dan bahasa yang integratif-proses mengambil dan memberi antara unsur-unsur budaya Nusantara di masa lampau dengan budaya di benua Asia dan Timur Tengah serta Eropa dan Cina terutama di bandar Barus Pulau Sumatra.
Puisi Hamzah Fansuri
Hamzah Fansuri menerapkan secara maksimal licensia poetica, kebebasan penyair untuk menyimpang dalam menggunakan bahasa. Dalam hubungan ini dialah penyair Nusantara pertama yang secara berani mencantumkan nama dirinya di dalam puisinya. Kedua, puisinya bukan sekadar ungkapan perasaan biasa untuk menyenangkan hati pembacanya agar terbebas dari duka lara, suatu anggapan yang umum berlaku dalam masyarakat Melayu ketika itu (Braginsky 1978).
Puisinya untuk mengungkapkan pengalaman di sekitar makrifat, kegairahan mistikal dan fana, yaitu hapusnya ego rendah dalam Wujud Yang Hakiki, yang biasa disetarakan dengan unio mystica. Kemudian, seiring penekanannya terhadap individualitas maka tema pencarian diri mendapat perhatian utama pula. Tema ini dapat dirujuk pada sebuah Hadist Qudsi, “Barang siapa mengenai dirinya akan mengenai Tuhannya“. Walaupun kesahihan hadis ini masih diperdebatkan, akan tetapi tetap relevan bila ditafsirkan secara benar dengan asas tauhid. Seseorang-yang mengenai hakikat dirinya pasti akan mengenai Tuhannya. Para sufi pada umumnya merujukkannya pada ayat Al-Quran 41 : 53, Ayat-ayat-Nya terbentang di alam semesta dan diri manusia.
Dalam puisi-puisinya bukan hanya kata-kata Arab dan tamsil-tamsil konseptual sufi yang dijumpai dalam jumlah besar, tetapi juga penggalan ayat al-Quran yang berperan sebagai cahaya pembimbing ilham penyair. Sekalipun demikian semua itu tidak membuat nilai dan ungkapan puitik karya-karyanya berkurang, malah membuatnya kian berwibawa dan berbobot. Kemudian, tamsil-tamsil sufistik atau citraan-citraan simbolik yang digunakan dalam syair-syaimya diambil dari kehidupan budaya masyarakatnya dan lingkungan dunia maritim dunia laut.
Hal ini tidak mengherankan karena dunia kemelayua itu berasal dari dunia bahari dunia kelautan. Sebelum menjadi bandar/kota umumnya kawasan Melayu tak lebih sebuah malaqat Sebuah tempat berkumpul dan bertemu beragam bangsa dan peradaban. Selat Melaka sebagai ruang spasial menghubungkan tamadun Melayu dengan kaum pesisir Sumatra dan bandar-bandar besar di sepanjang pantai Nusantara. Dari tebing pantai dan selat serta bukit hutan semak ilalang lahir dan hidup seorang pujangga Hamzah Fansuri.
Hamzah Fansuri di negeri Melayu
Tempatnya kapur di dalam kayu
Asalnya manikam dimanakan kayu
Dengan ilmu dunia dimanakan payu
(ikat-ikatan XV)
Penada “kapur di dalam kayu” adalah wilayah Barus (Sumatra Utara) yang kaya dengan hasil hutan kemenyan dan terutama kapur barus sebagai andalan komoditas eskpor pribumi ke luar negeri. Seperti yang ditulisnya:
Hamzah Syahr Nawi terlalu hapus
Seperti kayu selai hapus
Asalnya laut tiada berarus
Menjadi kapur di dalam barus
(ikat-ikatan XXVI)
Pemakaian gaya pengungkapan Melayu dalam bentuk bait-bait berirama syair ini merupakan ungkaan khas orang Melayu dalam seni bertutur dan berkomunikasi.Ini menunjukan relevansi keakraban penyair dengan lingkungannya dan masyarakatnya. Dengan cara demikian ia melakukan ‘pribumisasi‘ pandangan hidup dan nilai-nilai Islam yang diasaskan pada wawasan puisi maritim yang kita kenal sekarang ini. Seperti pemilihan benda-benda yang akrab bagi dunia Melayu. Perahu, tiang kapal, kemudi, buritan, pendayung, timba, layar, bendera dan dermaga. Kata-kata itu sangat akrab bagi pembaca yang hidup dalam dunia maritim Gambaran selintas wawasan sastra Hamzah Fansuri yang juga mendeskripsikan kecenderungan estetikanya. Beberapa aspek ciri ini pulalah yang hendak dibahas dalam tulisan ini.
Sistem pemilihan kata yang dibusanai oleh simbol dan metafora. Misalnya peralatan puitik “perahu” dipakai Hamzah Fansuri untuk menjabarkan makna keislaman, keselamatan, kebijaksanaan, dan kecerdasan. Peralatan perahu (tali: makna Ilahi, buritan: makna asma Allah, layar: “lataharaku”, timba: salawat atas Nabi SAW, Haluan ibadah dan kemudi: “ayunal yakin”). Kemudian symbol ‘laut’ sebagai dunia fana yakni makanan segala ambiya; Simbol ‘angin’ sebagai imbauan terhadap manusia /”Ya ayuhannas”: dan simbol bandar jabbar bermakna pelabuhan tempat tujuan.
Citra dalam syair-syair Hamzah Fansuri yang dikumpulkannya dari segenap dunia, dan membusanai diri dengan seluruh nama-Nya sendiri, dan mendudukkan diri di tempat-Nya sendiri (Fakhruddin ‘Iraqi, 1982: 124 ). Syair-syair simbolik Hamzah tidak dapat dipahami tanpa pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dari buku ataupun dari guru.
Ada tiga “lambang besar“: laut, kekasih, dan anggur, yang dalam aksentuasi makna dan nada tampil sebagai tiga semai yang memutikkan seluruh sistem citra dari puisi simbolik Hamzah, yang daripadanya tumbuh subur dan beraneka ragam. Tiga “lambang besar” itu bisa juga dibandingkan dengan tiga butir manik yang menjadi pusat tumbuhnya kristal dalam larutan, atau tiga pusat gravitasi yang menarik unsur-unsurnya yang lebih kecil.
Di dalam syair-syair Hamzah Fansuri ini tim penulis membatasi simbol laut sebagai poros sastra maritim Melayu.***
Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan.