Bara Sumbang: Cerpen Mas Sitti Sya

65

Rasa itu ternyata tak pernah mati. Mungkin karena ia tidak pernah membunuhnya dengan serius. Kini ia kembali terjebak dalam arus rasa di masa lalunya yang sumbang, tapi sangat dinikmatinya.
Dia adalah Bara. Lelaki yang ternyata masih terperangkap pada masa lalunya. Rasa tak biasa yang sudah lama terlupakan, kini hadir kembali di hidupnya. Sosok pendiam itu benar-benar menyita perhatiannya sejak pertama kali melihatnya. Sudah sembilan tahun berlalu. Sudah cukup lama, tapi hari ini getar itu masih sama ketika melihatnya kembali tadi siang. Ternyata rasa itu masih ada, tidak pernah pergi, dan kini menghantui pikirannya melebihi rasa bersalah pada istrinya.
Apakah ini salah? Apa yang terjadi denganku? Bara merasa dia sudah berhasil melupakannya setelah menikah, tapi sekarang dia meragukan dirinya sendiri. Sejak memutuskan menerima wanita pilihan ibunya dan menikahi Atika, Bara sudah berusaha keras menghapus masa lalunya. Bara memenuhi desakan ibu yang sudah tidak sabar ingin menimang cucu darinya daripada terus bertahan dengan cintanya.
Bara membuka pintu teras dan duduk dengan segelas kopi hitam kesukaannya. Bara menyandarkan tubuhnya di kursi. Langit hanya menyisakan bintang-bintang yang jarang tanpa rembulan. Angin malam menyentuh pori-porinya. Bara melipatkan kedua lengannya di dada.
Malam yang tenang, bisiknya perlahan dengan mata terpejam. Selintas, berkelebat bayangan Atika mengusik pikirannya. Istri yang telah memberinya seorang anak lelaki, cucu kesayangan sekaligus kebanggaan keluarga besarnya. Namun, sepotong senyum tipis tadi siang telah menggetarkan hatinya kembali. Ternyata getar itu masih sama dan tersimpan rapi di sudut hatinya selama ini.
“Sudah lama sekali ya. Apa kabar?” Bara menyapa dengan jantung berdegup kencang.
“Aku baik-baik saja. Senang sekali bisa bertemu kembali, Bara,” jawab orang di depannya dengan mata berbinar Bahagia.
Sayangnya mereka tidak bisa berlama-lama bertukar kabar pada pertemuan pertama itu karena seminar sudah dimulai.
Bukan salahku kalau rasa itu ternyata masih ada. Aku tidak pernah mmenyuburkan rasa itu, bahkan sudah berusaha menguburnya dengan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik.
Bara membela dirinya sendiri. Dia tidak kuasa menepis rasa yang menendang-nendang kisi-kisi di jantungnya. Bara sangat sadar bahwa rasa ini salah, tapi perjumpaan tadi siang menghadirkan kembali getar-getar indah sembilan tahun yang lalu di dadanya dan dia menikmatinya.
Salahkah aku? Bara kembali membatin. lelaki itu tidak menemukan jawaban atas pertanyaan retorisnya. Lebih tepatnya dia tidak ingin menemukan jawabnya saat ini.
Cinta pertama, apa pun alasannya tetap membekas dan tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Kepada siapa pun cinta itu harus jatuh dan memilih tempatnya, Bara tidak peduli. Yang pasti, dia belum bisa melupakannya. Memang cintanya tak sempat bersemi, tetapi juga tidak pernah mati.
Salah atau benarnya hanya sekadar persepsi sebagian orang yang memahami nilainya dan menempatkan keberadaannya. Lagi-lagi Bara berasumsi dan membuat pembenaran atas nama rasa yang masih setia di hatinya.
Bintang-bintang masih berpendar-pendar di atas sana. Sepotong senyum tadi siang menyapanya di antara pendar gemintang itu. Senyum yang ternyata masih sangat diingatnya. Lelaki itu seolah menemukan kembali sesuatu yang selama ini hilang.
Pertemuan tadi siang sangat singkat. Tidak ada perbincangan yang berarti. Mereka hanya saling pandang penuh makna dan hanya sempat bertukar nomor ponsel. Dia sangat terburu-buru karena kawatir tertinggal pesawat. Bara hanya mampu memandang kepergian pemilik senyum itu dengan rindu yang belum selesai.
Ada getar rindu bersemayam di hatinya. Dibukanya foto profil WhatsApp. Senyum yang masih sama terpampang di layar hp-nya. Bara menatap lekat-lekat wajah itu. Sangat bersahaja dan sederhana. Ini yang dia suka. Bara meyakini bahwa wajah di layar ponselnya ini juga menyimpan rasa yang sama di hatinya.
Pertemuan tanpa sengaja di seminar parenting tadi siang telah mengembalikan semua episode yang dulu pernah ada. Ada sebuah keinginan untuk jujur dengan perasaannya. Tetapi pantaskah?salahkah? Bara merenung. Wajah istri dan anaknya melintas tegas. Dia mengerjapkan matanya, tapi wajah lain singgah lagi di pikirannya dan betah di sana. Kegalauan menguasai pikiran Bara. Rasa itu begitu kuat menariknya masuk dalam pusaran cinta terlarang. Sejatinya dia tidak ingin terperangkap dalam lingkarannya. Namun, Bara tidak kuasa melewati pertemuan-pertemuan maya bersamanya hingga malam menenggelamkan mereka dan pagi kembali menyapa. Tentu saja tanpa sepegetahuan istrinya.
Atika sangat percaya pada suaminya. Selama ini Bara adalah suami dan ayah yang manis dan tidak pernah mengecewakan. Namun, Bara hanyalah manusia biasa yang masih dikuasai perasaannya. Dia merasa terlalu bodoh karena membiarkan waktu terbuang sia-sia. Dia tidak berani berterus terang kepada istrinya. Bara tidak tega menyakiti hati ibu dari anaknya. Namun, mengapa harus ada pertemuan ini? Kalau bukan karena izin Tuhan tidak mungkin mereka dipertemukan kembali. Bara seakan mendapat sebuah pembenaran yang tidak bisa dibantah. Dia tidak ingin disalahkan atas pertemuan ini. Ini bukan salahnya. Setidaknya, dia masih percaya bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua atas sekenario tuhan. Namun, benarkah? Atau ini salah? Bara merasakan kepalanya berdenyut-denyut.
Bara meninggalkan teras dan masuk ke kamar tidur. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
“Belum tidur, Mas?”Atika yang sudah tertidur terusik dengan kehadiran suaminya.
“Mehm. Belum ngantuk, Ma.” Bara duduk di sisi pembaringan. Dibelainya rambut istrinya yang tergerai. Bara mencium kening istrinya. Lembut dan mesra.
“Tidurlah,” bisiknya pelan. Atika menariknya agar berbaring di sebelahnya. Bara menurutinya dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.
Bara membelai punggung istrinya dalam diam. Dia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya jauh ke seberang melayang melewati laut, merambah lembah, dan menyisiri hutan hingga sampai pada sepotong wajah yang kini sedang tertidur lelap di ranjangnya.
***
Tidurnya sangat lelap. Dia merasakan getar yang maha dahsyat ketika merasakan jemari Bara membelai rambutnya yang pendek. Bara duduk di sisinya, membelai kepalanya dan memperhatikannya dalam diam. Bara sangat menikmati wajah yang sangat dirindukannya. Ingin sekali dipeluknya tubuh itu, tapi tidurnya sangat sempurna. Bara tidak tega mengganggunya.
Bara mengusap pipi yang putih bersih itu. Bara sangat mencintainya, tetapi hanya mampu menyimpan rasa itu. Rasa tak biasa yang seharusnya dia bunuh sejak awal mengenalnya. Sekuat upaya dia ingin menjauh dari rasa itu dan berusaha mengunci hatinya hingga akhirnya Atika hadir dalam hidupnya. Wanita yang sudah mempersembahkan seorang cucu lelaki kepada ibunya.
Bara hampir berhasil mencintai Atika secara penuh hingga perjumpaan tadi siang. Bara masih duduk dalam diam di sisi ranjang sambil memperhatikan pujaan hatinya. Dia merapatkan selimut ke tubuhnya. Udara malam memang terasa dingin. Hujan bulan Mei sedang menguasai semesta.
Seperti berada di dunia asing yang seakan pernah ada di sana, mereka saling menatap penuh rindu. Dia tertegun. Dia melihat Bara duduk di sisi ranjang dan menatapnya lembut. Bara membetulkan letak selimutnya. Ada rindu di matanya. Dia membalas tatapan lelaki mula-mulanya itu. Lekat di bola matanya. Dia terdiam dalam rasa yang sama. Malam seakan membeku dan membisu. Debar di jantungnya semakin tidak beraturan. Tiba-tiba Bara bangkit dari duduknya dan menggenggam jemarinya. Getar halus merambat dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Bara tidak melepaskan genggamannya. Diremasnya dengan lembut jemari itu dan mengecupnya.
“Sayang,” suara Bara bergetar. Dia menikmati sapaan lembut itu. Dia membiarkan jemarinya berada dalam genggaman lelaki yang dicintainya sejak remaja itu. Dia melenguh menahan gelora di hatinya. Debar di jantungnya berlari lebih cepat dari biasanya.
Bara menatapnya dengan lembut dan mesra. Dia tidak mampu berkata-kata, tapi pendar di mata Bara mengabarkan sejuta rasa yang sangat dia pahami. Tatapan mata mereka saling mentransfer rasa yang terpendam selama bertahun-tahun.
“Aku harus jujur padamu. Aku mencintaimu sejak lama.”
Entah dengan kekuatan dan keberanian dari mana, Bara akhirnya berani mengucapkan kata-kata itu. Bibirnya bergetar. Bara mengecup mata yang terpejam itu. Bara tak sanggup menahan hasratnya ketika dilihatnya bibir mungil itu sedikit terbuka. Lelaki itu tidak membuang kesempatan itu karena dia yakin tidak akan ada penolakan. Bara melumatnya dengan penuh perasaan dan tak ingin melepasnya sedetik pun. Bibir itu bergetar dan tidak berusaha menolaknya. Bahkan dia membalasnya, memeluknya, dan menikmati kelembutan yang dipersembahkan Bara, lelaki yang juga sudah dicintainya sejak lama.
Ada eufoni yang bersenandung di gelap malam meskipun berirama sumbang. Bara tak membuang kesempatan itu. Lelaki itu memagut lembut dengan segenap kerinduan yang berjelaga, tapi terbelenggu etika kepatutan. Bara seolah takut kehilangan kesempatan dan tidak ingin melepaskannya. Lelaki itu memeluk kekasihnya. Rindu membawanya terbang ke singgasana dan hanya mereka yang mampu memaknainya.
Dua hati yang saling merindu itu menyatu dalam rasa yang tak hapus dimakan waktu. Kerinduan yang selama ini terpasung seakan terleraikan dan lepas dari kungkungan yang mengikat. Pendar-pendar rindu itu seolah tergenapkan meski terlarang. Dua hati menyatu dalam dekapan keabadian cinta yang sulit dijelaskan dengan rangkaian kata-kata, bahkan puisi Khalil Gibran pun tak sanggup mewakili gelora cinta mereka yang terlarang. Mereka seakan telah menemukan sumur cinta yang telah lama mereka cari. Malam ini mereka telah larut dalam irama orkestra sumbang.
***
Bara terbangun dari tidur pulasnya. Ada bias kebahagiaan tersisa di wajahnya. Lelaki itu baru saja menyelesaikan malam bersama istrinya dengan kebahagiaan sempurna. Dikecupnya kening istrinya dengan lembut. Perempuan teman hidupnya itu memberinya senyum paling tulus dengan cinta yang penuh.
“Terima kasih, suamiku,” bisiknya pelan.
Atika memeluknya. Perempuan itu memang tidak usah memahami apa pun yang ada dalam pikiran suaminya saat ini, kecuali menenggelamkan kepalanya di dada suaminya, merasakan detak-detak jantungnya, meyakini bahwa suaminya adalah cinta sejatinya yang telah memberikannya seorang anak yang lucu. Lelaki yang telah menjadikannya wanita paling bahagia. Atika mempererat pelukannya. Kepalanya rebah di dada lelakinya. Bara mencium keningnya dengan lembut tanpa suara.
Maafkan aku, saying bisik. Bara dalam diam sambil mengusap kepala istrinya dengan perasaan paling bersalah. Bara menarik nafas panjang dan bangkit membuka jendela kamar. Di luar bintang-bintang sudah menghilang. Bara rebahan di sofa dekat tempat tidurnya. Ditatapnya wajah istrinya yang kembali terlelap. Dia sangat merasa bersalah dan tidak bermaksud mengkianatinya walaupun sekadar dalam mimpi. Namun, Bara sangat menikmati mimpi indahnya. Haruskan dia jujur kepada istrinya? Sanggupkah dia membuat pengakuan tentang rasa yang tak pernah hilang? Bara menghela nafas. Dia membuka ponselnya. Menscroll layarnya, mencari apa pun yang bisa menghilangkan keresahan hatinya. Jemarinya terhenti menscroll layar ponselnya. Suara Sammy Simorangkir dengan lagu Aku Harus Jujur seakan menendang-nendang batinnya. Haruskah dia jujur kepada istrinya?
…”Maafkan kali ini
Aku harus jujur
Kau harus tahu siapa
Aku sebenarnya

Terpikir dalam benakku
Tentang cinta terlarang
Selama ini kupendam
….

Berita Lainnya

Bara mendengarkan bait demi bait suara Sammy Simorangkir yang menghanyutkan. Kata-katanya sangat menghunjam dan menikam harga dirinya sebagai lelaki, suami sekaligus seorang ayah. Atika masih terlelap dalam tidurnya yang sempurna. Bara memperbaiki selimut yang menutupi istrinya yang kedinginan senbelum merebahkan dirinya di sisi istrinya. Tembang Aku harus Jujur masih mengalun mendayu di ponselnya.
***
Malam semakin tua dan melelahkan. Dia melenguh pelan. Wajahnya membias kepuasan. Tidurnya benar-benar lelap dengan sempurna. Sesaat kemudian, dia menggeliat manja. Dia seperti terbangun dari tidur panjangnya yang melelahkan. Sekilas bayangan Bara melintasi pikirannya. Dia tertegun. Tiba-tiba rasa bersalah dan berdosa menghantuinya. Bayangan istri Bara tiba-tiba menguasai pikirannya dan membuat rasa bersalah itu semakin mengoyak-ngoyak dinding hatinya.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Ini tidak benar. Ini salah! Batinnya menghujat Dipejamkannya matanya sesaat mengusir resah yang tak ingin pergi.
Dia bangkit dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk mensucikan dirinya. Meskipun hanya dalam mimpi, tetapi dia merasa sangat berdosa dan kotor. Dadanya terasa sangat perih. Rasa ini sangat ingin ditepisnya, ingin dibuang jauh-jauh, tapi mengapa sulit sekali pergi? Mengapa harus ada pertemuan tadi siang? Air mata menderas di kedua pipinya, membaur bersama air yang mengguyur seluruh tubuhnya. Dia menangisi dirinya. Hatinya menjerit. Dia sudah menjadi seorang pendosa. Dia menyabuni seluruh tubuhnya seolah ingin mengikis dosa yang telah diperbuatnya. Dia ingin membuat pengakuan dosa kepada-Nya. Dia membasahi wajahnya dengan air wuduk yang mengalir bersama air mata penyesalan.
Dia mengusap wajahnya tiga kali dengan air mata yang sulit ditahan. Diambilnya peci dan baju koko yang tergantung di belakang pintu. Digelarnya sajadah dan sujud di atasnya dalam taubat nasuha.
Ampuni aku ya, Allah. Ampuni salahku.Terimalah taubatku ya Allah. Izinkan aku kembali ke jalan-Mu. Bisiknya lirih dalam uraian air mata taubat.
Di seberang sana, dari atas sofa, Bara masih menatap istrinya dengan rasa bersalah.

Mas Sitti Sya /Sitti Syathariah, seorang guru Bahasa Indonesia

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan