Belajar dari Abu Bakar Tentang Memaafkan: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

61

Hari ini saya mendengarkan nasihat seorang saleh yang sangat dalam bagi saya. Beliau hanya berbincang sekitar 15 menit, tetapi saya termenung panjang hingga saat ini. Beliau mengawali nasihatnya dengan melontarkan pertanyaan begini, “antum tahu, kenapa ayat Al-Qur’an tidak ada yang memerintahkan untuk meminta maaf, tetapi memberi maaf?

Kenapa? Ya, kenapa? Antum tau sulitnya memberi maaf? Sombongnya hati kita untuk memaafkan orang lain?

Abu Bakar, beliau orang sahabat yang sudah dijamin masuk surga. Namun, soal memaafkan beliau ditegur langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an Surah Annur ayat 22. Ketika itu Aisyah difitnah oleh orang-orang munafiq melakukan selingkuh bersama Shafwan. Ternyata mereka yang memfitnah Aisyah adalah kerabat jauh Abu Bakar. Abu Bakar saat itu marah, dan ia sebagai seorang yang kaya raya seketika memutuskan bantuan-bantuannya karena dendam dan sakit hati kepada kerabat jauhnya.

Atas kondisi tersebut, Allah menegur Abu Bakar:

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nur: 22).

Bagi saya, ketika Allah berfirman, “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ini adalah sindiran yang dalam dari Allah kepada manusia yang sombong untuk memaafkan, sedangkan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Firman Allah yang sangat dalam maknanya, dan ia hanya bisa diresapi dengan keimanan.

Tulisan Terkait

ADAKAH : Puisi Datin Sariana

Berita Lainnya

Tidak cukup itu saja, pelajaran penting tentang memaafkan juga Allah sampaikan dalam Qs. Ali Imran ayat 133-134:

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan bahwa sikap menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain adalah sikap orang bertakwa. Maka korelasi memaafkan dan menahan amarah adalah keimanan.

Ya Rabb, jadikanlah kami hamba-hamba Mu yang pemaaf. Jadikanlah segala kelelahan kami adalah kebaikan dan amalan bagi kami.

Semoga Allah terima amalan-amalan kita.

De Daikos, 13 April 2025

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan