

Menuju kota-kota baru di bumi-Mu
Mengenal wajah-wajah yang asing
Saling menautkan hati penuh tanya
Bertemu di dalam suara persaudaraan
: itulah makna perjalanan
oOo

Ini cerita tentang perjalanan darat dari Vientiane Laos ke Hanoi Vietnam. Setelah selesai Pelatihan menulis cerita anak bersama DWP KBRI Laos di rumah Konsulat Politik KBRI, Achmad Dahlan, hari Senin 5 Januari pukul 18:30, berangkat menuju Hanoi dari terminal bus. Ongkosnya 800.000 Kiep. Kelas sleepers.
Tiba di perbatasan hujan dan udara 5 derajat. Pukul 00:30. Pos buka pukul 07:00. Kami semua tidur. Jika ke toilet bayar 500 Kiep. Ada bule Belanda yang nggak punya uang Laos. Aku kasih, karena dia kebelet.
Pukul 07:00 pos buka. Gerimis. Beli jas hujan. Lupa harganya. Antreannya kacau. Rebutan. Aku memilih mengalah. Bahkan turis Jepang dan USA beradu mulut.

“Sudah. Dia sudah tua dan kakinya pincang. Mengalah,” kataku kepada turis USA.
Aku menenangkan mereka. Kemudian turis Jepang itu jadi sahabat di perjalanan.
Di pos 2 negara itu perjuangan. Dari pos Laos harus jalan kaki. Suasana berkabut. Tidak bisa melihat apa-apa. Untung di pos Laos, ransel tidak perlu dibawa.
Sekitar 1 km kami melawan dingin. Aku dan Jordy Alghifari menjaga Natasha. Ketika tiba di pos Vietnam, bagasi bus harus dikosongkan. Semua barang di X-ray. Sudah pukul 09:00.
Bus pun meluncur. Kami tertidur. Dua kali berhenti di rumah makan; sarapan dan makan siang Si bule Belanda juga bengong saja. Aku traktir dia. Jordy segera berteman dengan dia. Satu bule Jerman juga bergabung.

Bus tiba di Hanoi. Supir taksi menyerbu. Bule Belanda dan Jerman bergabung – mereka gembel backpackers. Kalau tidak bersama Jordy-Natasha, aku pasti bergabung.
Si bule Jerman mendekati Jordy. “Boleh minta rokok sebatang,” katanya.
Aku tersenyum dan mengangguk. Jordy dengan malu-malu mengeluarkan sebungkus rokok. Dia sebetulnya ingin tetap menjaga agar tidak merokok di depanku.
Kami berpisah. Mereka get lost, kami pesan taksi. Ya Allah, supirnya ngebut, zig-zag. Semua pengguna kendaraan di jalanan seperti sudah menyetor dengan insting. Ketika di India, yang terasa amburadul tapi di sini seolah sudah profesional.
Natasha sudah booking hotel – dia ditugaskan untuk urusan booking hotel, e-Visa, transportasi secara online. Jordy urusan angkut-angkut barang. So far so good.
Sepanjang menuju hotel, saya melihat bendera Vietnam dengan lambang palu-arit di mana-mana. Foto Ho Chi Min sebagai founding father Vietnam di mana-mana. Kabarnya ada jejak Tan Malaka di sini.
Kami tibavdi hotel. Taksi berhenti di VietcombBank. Kami masuk jalan kecil yang hanya untuk satu mobil, sekitar 50 meter.
Masuk hotel dengan memijit PIN. Ini sebetulnya sebuah rumah toko. Tapi disulap jadi hostel. Famili room. Semalam Rp 300 ribu tapi cukup memuaskan. Memanjang. Toilet, dapur dengan mesin cuci, kulkas, dan kompor gas di bawah ranjang besar untukku dan Jordy. Di langit-langit ada bed untuk Natasha. Asik juga.
Wellcome to Hanoi.
Terima kasih sudah membaca.
Gol A Gong
Traveler, Author