Lady Boy dan Sastra Kita: oleh Gol A Gong #2

26

Episode #2

Hati saya bergetar keras ketika hendak menyeberang di zebra cross Asiatique, Bangkok, Thailand. Rombongan SIP Publishing yang belajar menulis catatan perjalanan, melirik kepadaku dan beberapa bahkan memotret. Di sebelahku berdiri seorang lady boy berpenampilan seksi. Baju minim dengan punggung terbuka. Pikiranku terlempar ke peristiwa-peristiwa masa lalu..

ooo

Di tahun 1980, saya jadi guide amatir. Saya bertemu turis bule di stasiun kereta Royal, Kota Serang. Saya antar dia ke Banten Lama dengan motor bebek C70 . Di benteng Spelwijk, dia meremas pantatku dan hendak menciumku.

Tahun 1991. Di Pakistan. Rasa ingin tahuku yang besar, lelaki Pakistan yang ganteng dan brewokan mengajakku ke apartemennya. Dia berjanji memberiku kesempatan observasi tentang dirinya dan pekerjaannya sekaligus tempat tinggalnya. Dia mencium pipiku sebagai permulaan. Aku mencari akal agar bisa lepas darinya.

“Dingin. Bikinkan aku teh panas,” aku merajuk sambil meremas pahanya

Lelaki itu bangkit dan berjalan ke dapur.

“Kasih gula. Please,” teriakku.
Dia menjawab, “Oke!”

Jawabannya bisa aku ukur dia betul berada di dapur. Kunci pintu menggantung.

“Harris?” panggilnya meminta kepastian bahwa aku masih duduk di ruang tamu.

Dia tidak menduga kalau aku sudah bergerak cepat. Ketika dia selesai mengatakan namaku, saat itu juga aku berhasil membuka pintu apartemennya dan berada di luar jangkauannya.”Harris, please don’t go!”

“Kalau kamu maju selangkah pun, aku akan berteriak!”

Aku pergi. Aku melihat sorot matanya bersedih. Aku langsung melapor ke polisi.

“Untung cuma dicium!” si polisi tertawa. Kemudian menasihatiku agar hati-hati dengan lelaki tampan di Pakistan.

Begitu juga di Thailand. Jangan langsung girang jika ada perempuan yang tersenyum dan kamu menganggap perempuan itu tertarik kepadamu. Jangan-jangan dia lady boy atau kathoey, yaitu seorang pria yang dioperasi plastik jadi wanita.

Kita tahu, Thailand secara hukum mengakui keberadaan “orang ketiga” setelah yang pertama lelaki dan kedua itu perempuan. Ada 18 jenis kelamin yang dilegalkan oleh pemerintah Thailand.

Aku pertama kali ke Thailand pada 1991 – bersepeda dari Kuala Lumpur ke Bangkok selama 50 hari. Aku penasaran dengan keberadaan banci di Bangkok. Mengikuti arahan resepsionis guest house di kawasan Khao San, aku ke stasiun kereta Hua Lampong, Bangkok, malam-malam. Di depan stasiun aku lihat banyak perempuan cantik yang masih menyisakan karakter lelaki. Aku membayar seorang dari mereka untuk berbincang-bincang.

Lady boy di Thailand boleh bahagia, tapi di Indonesia itu akan jadi masalah besar. Negeri yang mayoritas beragama Islam tentu mengacu ke Al Qur’an, bahwa dalam fikih Islam, perilaku homoseksualitas secara tegas dilara. Menyalahi fitrah. Kisah kaum Nabi Luth yang diabadikan dalam Al-Qur’an, serta berbagai hadits Rasulullah SAW yang mengutuk perbuatan tersebut.

Di dunia sastra, aku mengenal novel “Relung-relung Gelap Hati Sisi” (Gramedia , 1983) karya Mira W. Novel ini menceritakan Sisi dan Airin yang lesbian dan saling jatuh cinta. Novel ini melampaui zamannya, karena hal yang dijadikan tema novel (lesbian) sangat tabu.

Thailand sendiri untuk tema novel LGBT justru difasilitasi. terutama dalam genre Yaoi/BL (Boys’ Love) yang sangat populer. Tidak akan dibakar ormas keagamaan atau disita pemerintah. Saya tidak punya kompetensi agar kita bisa terbuka terhadap LGBT.

Saya sendiri menulis fiksi mini dengan tema LGBT. Judulnya “Di Simpang Jalan” (SIP Publishing, 2022). Tentu diprotes. Saya dianggap mendukung LGBT. Padahal dalam sastra (novel) menyampaikan pesan baik tidak selalu harus dari tokoh baik (protagonis). Kita (pembaca) kadang melupakan tokoh tidak baik (antagonis) yang sebetulnya lebih berpeluang menggerakkan cerita.

Gol A Gong
Traveler, Author

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan