Cerpen : Bang Liau – Oleh Bambang Kariyawan Ys

Cerpen Bambang Kariyawan Ys

Bang Liau

Aroma itu terlalu akrab denganku. Selalu ada kerinduan menanti fajar untuk menyambut aroma itu. Aroma asin dan amis yang selalu menuntunku untuk melanjutkan hidup dan menikmati rangkaian angka dan huruf di bangku sekolah.

“Kalau kau ingin sekolah, carilah uang kau sendiri. Bantu emak di bang liau.” Ya, aku selalu berjuang dengan waktu untuk bisa menikmati indahnya menikmati rangkaian huruf dan angka di bangku sekolah bersama teman-temanku. Di tempat inilah aku bertarung melawan hari untuk bisa mengumpulkan uang untuk membayar kebutuhan yang harus kupenuhi untuk biaya sekolah.

Bang liau merupakan bangunan di sepanjang bibir sungai atau laut dengan pelantar luas yang menjorok ke air. Bangunan ini disangga puluhan tiang batang nipah setinggi kurang lebih empat meter. Bang liau biasanya dibangun di sepanjang bibir sungai atau laut dengan pelantar luas yang menjorok ke air.

Bang liau dulu bertebaran di tempat tinggalku yang dikenal dengan nama Sinaboi. Kata orang-orang Sinaboi dulu surga ikan bagi nelayan. Pernah terkenal sampai ke manca negara. Daerah yang berada di bibir Selat Melaka dan hanya berjarak puluhan mil dari Malaysia merupakan salah satu daerah termiskin di Riau bahkan bau amis ikan yang dulu akrab di penciuman para pendatang ke daerah ini juga telah menghilang. Pelabuhan Sinaboi dulunya sangat ramai karena pantainya berkedalaman 20 meter lebih sehingga kapal-kapal besar bisa singgah. Tapi sekarang, kedalaman pantainya hanya 0 meter jika surut dan paling-paling 1-2 meter jika pasang. Akibatnya, tidak hanya kapal saudagar yang tidak lagi singgah di kota ikan itu tetapi juga banyak warga Sinaboi pindah ke tempat lain mencari kehidupan baru karena menggantungkan hidup dari hasil laut di kampung halaman tidak lagi memungkinkan. Kini hanya tinggal beberapa bang liau yang masih bertahan dengan tetap memancarkan aroma asin dan peneman camar beterbangan bermain dengan angin laut. Ada irama kehidupan yang teratur kunikmati di sini. Mendengar bunyi pompong merapat, bunyi tapak-tapak kaki tidak beralas menjejaki pelantar, melihat ikan-ikan yang menggelepar, dan para pekerja di bang liau yang berlalu lalang dengan kesibukannya. Mereka yang tadinya tidur-tiduran di balai-balai di atas pelantar segera bergegas turun. Boks-boks ikan berwarna oranye disusun berjajar dan timbangan pun dipasang. Tak lama kemudian, bakul-bakul ikan yang terbuat dari rotan segera diangkut dan hasil tangkapan diserakkan di lantai pelantar yang terbuat dari kayu. Udang dan ikan  lantas dimasukkan ke dalam gentong plastik besar berdiameter satu meter yang sudah berisi air. Setelah itu udang dan ikan  diambil menggunakan tampi dan langsung ditimbang. Kemudian disortir, langsung dimasukkan ke boks-boks ikan yang sudah diberi es batu.

Begitulah aku yang selalu setia mengikuti dan menikmati irama nelayan dan akan selalu tetap setia berteman aroma asin dan amis itu. Aroma yang di bawa nelayan dari pompongnya. Beragam aroma dari ikan kurau, senangin, bawal putih, bawal hitam, tenggiri, ikan duri, lomek, udang merah, udang putih dan ketam. Aku juga terbiasa menikmati aroma beragam ikan asin mulai dari ikan sebelah, lomek, tenggiri, ikan sisik, dan ebi yang telah menyatu dengan aroma tubuhku. Namun bukanlah alasan itu sebenarnya yang menjadi alasanku berlama-lama sambil menikmati aroma amis di bang liau. Ada yang selalu kutunggu. Setiap titik hitam kecil di lautan yang lama-kelamaan bergerak menuju daratan. Kain bekas yang dijadikan bendera berkibar-kibar ditiup sang bayu. Perlahan kapal pompong nelayan merapat ke bang liau, itulah saat yang selalu kutunggu. Kabar yang selalu kunanti dari setiap nelayan yang pulang dari melaut untuk membawakan kabar tentang ayahku.

“Ayah, aku rindu,” hanya lirih yang bisa kuucapkan. Kelirihanku kadang kulampiaskan dengan berteriak sekuat-kuatnya memanggil sebutan ayah di tepian bang liau. Terasa melegakan ketika endapan rindu kuhempaskan bersama gelombang. Harapan yang kuinginkan hanyalah suaraku akan menggema dan bersahutan dan ayahku akan mendengarkannya dan akan segera kembali menyambut panggilan suaraku ini.

Aku tidak berani mengeluarkan kata rindu itu di hadapan emak. Emak akan marah besar bila ucapan segala hal yang berhubungan dengan ayah di dengarnya. Aku pernah mendengar alasannya.

“Emak tak mau mendengar lagi kau sebut nama ayahmu. Itu masa lalu!” Emak menegaskan tanpa memberi alasan. Lambat laun aku mulai mengerti mengapa emak melakukan itu. Menurut emak, ayah malam itu melaut tidak pamit dan sudah emak larang untuk melaut. Walaupun menurut emak itu hanya masa lalu, namun bagiku masa lalu itu harus kurangkai kembali dengan kejelasan.

Aku selalu ingin berlama-lama di bang liau ini karena dari sinilah ayahku akan turun melaut dan kembali dari melaut. Dari sini pulalah aku ingin menyambut ayahku pulang. Aku tidak pernah yakin kalau ayahku telah mati. Bagiku orang kalau dibilang telah mati, harus ada jasadnya dan makamnya. Makanya aku selalu tidak pernah percaya kalau ayahku telah mati. Aku selalu berlama-lama di bang liau, dari fajar sampai senja menikmati aroma laut sambil berharap ada ayah yang akan menyapaku.

“Siti, ini ayah nak. Bagaimana kabar emak?”

“Ayah, Siti rindu sama ayah. Siti punya ayah seperti teman-teman Siti.”

Itulah anganku yang selalu berada di kepalaku. Kalimat itulah yang selalu kuhapal dan kuhayalkan. Aku merasa kecemburuan luar biasa ketika melihat teman-temanku di bang liau menyambut ayahnya pulang melaut. Aku selalu memperhatikan setiap gerak yang dilakukan temanku mulai dari melambai tangan dari tepian bang liau, memeluk ayahnya, dan membantu membawakan jaring ikan yang disandangkan di bahunya sambil bergandengan tangan menuju pulang meninggalkan bang liau.

“Ayah… ayah… Siti rindu.” Kata-kata itu terungkap dalam igauan-igauanku. Biasanya emak akan memukul dan membentakku.

“Udah berapa kali emak bilang. Jangan pikirkan ayah kau lagi. Ayah kau sudah mati!”

Aku hanya tertunduk mendengarkan ocehan emak. Namun hatiku selalu mengatakan,” Ayah belum mati mak.”

Aku terus selalu bertanya pada nelayan yang baru pulang melaut.

“Ada nampak ayah, Pak Cik?”

Selalu jawaban yang kutemukan hanyalah gelengan. Aku mendapatkan cerita dari pak cik kalau ayahku adalah nelayan pejuang. Nelayan yang memperjuangkan pelarangan penggunaan pukat harimau yang merusak lingkungan alam dan kelanjutan kehidupan ikan. Satu kapal pukat harimau bisa menghasilkan setidaknya 2-4 ton ikan sehari. Karena menggunakan peledak, tak hanya ikan-ikan bagus yang diambil, tapi juga telur-telur ikan pun bisa dibawa. Inilah yang kian membuat jumlah ikan turun drastis. Pak cik bagiku harapan untuk mendekatkanku tentang ayah. Dengan kelopak mata yang sudah mulai turun dan terlihat guratan yang menghitam, kemudian alis mata dan kepalanya yang sudah mulai ditumbuhi rambut putih, tetap saja anak matanya masih melihat dengan tajam dan tanpa memakai kaca mata. Matanya sesekali tertuju kepada setiap kapal nelayan yang melintas di Selat Sinaboi dan juga para warga yang datang di kedai kopi tersebut. Nelayan pribumi yang setia dengan Selat Sinaboi ini, sesekali menghisap dalam-dalam rokok kretek yang ada di jari tangannya. Kemudian dilepaskannya secara perlahan-lahan dari bibirnya yang sudah hitam akibat dimakan usia dan juga akibat panasnya bara rokok yang menjadi temannya selama ini melaut.

“Ada berita kapal ayah kau ditenggelamkan nelayan pemakai pukat harimau.” Berita itu kadang membuat naluri dendamku ingin membalaskan perbuatan pelaku yang telah membuat ayah celaka.

Aku pernah nekad ikut melaut dengan sembunyi di bawah terpal kapal kayu pak cik. Aku saksikan malam memelukku. Terasa ayah memelukku dengan selimut sayangku. Suara lirihku mengejutkan pak cik yang nekad mengikuti kapal kayunya. Aku habis-habisan dimarahi emak dengan tindakan nekadku. Melihat tingkahku yang selalu bertanya-tanya tentang kemana gerangan ayahku, suatu ketika emak memberikan kejutan padaku.

“Siti, inilah ayah yang selama ini kau cari. Emak harap jangan kau tanya lagi ayah kau.”

“Benarkah ini ayah yang Siti cari mak?”

Emak hanya diam dan memelototkan matanya yang sulit kumengerti. Aku hanya perlu jawaban ya atau tidak. Bahagiakah ini?

“Ayah…” aku mencoba menyapanya. Tidak ada getaran rindu dan haru ketika kucoba menyebut namanya. Terasa hambar. Atau memang belum terbiasa? Entahlah mungkin aku butuh waktu untuk menerima sesuatu yang baru berupa kehadiran orang lain yang saat ini harus kupanggil dengan sebutan ayah.

Di bang liau aku baru tahu kalau lelaki itu bukanlah ayah kandungku. Aku baru tahu istilah ayah tiri dari pak cik yang biasa menemaniku berlama-lama di bang liau.

“Emak kau kawin lagi, makanya lelaki itu emak kau panggil ayah juga.”

Aku mencoba memahami dan mendalami arti punya seorang ayah walau hanya seorang ayah tiri. Aku kembali membuka kembali memoriku saat melihat teman-temanku menyambut ayahnya di bang liau dari melaut. Aroma lelaki yang tidak pernah kurasakan mulai terhirup sehari-hari denganku.

Aku merasakan getaran-getaran yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Apalagi saat ayah tiriku mulai membelai pipiku. Ada desiran halus yang memenuhi pori-poriku. Inikah belaian kasih sayang yang sering kulihat dan kurindukan ketika melihat teman-temanku berdekatan dengan ayahnya. Setiap belaian tangan ayah tiriku membelai aku selalu mendiamkan karena selalu ada getaran bahagia yang selalu kurindukan.

Entah mengapa emak beberapa hari ini kembali memunculkan senyuman manisnya yang telah lama meninggalkan bibirnya.

Ayah tiriku mengajakku ke bang liau katanya untuk melihat tangkapan ikan nelayan. Mendengar kata bang liau aku langsung saja mengiyakan walau hari telah menuju malam. Seperti yang pernah kubilang bang liau memang telah sangat menyatu dengan diriku. Apapun yang berbau bang liau dengan segala kehidupannya selalu membuatku ingin menambatkan diriku dan menghirup aroma asinnya. Setiba di bang liau aku tidak menemukan nelayan yang dimaksud.

“Kita tunggu sebentar, baring-baringlah sebentar kau di balai tuh” ayah tiriku berkata. Sambil menikmati sepoi angin malam aku terlelap dan dalam lelapku aku melihat seorang lelaki yang tersenyum dan mendekapku. Dia mengatakan kalau dia adalah ayahku. Dia bercerita banyak tentang perjuangannya melawan pukat harimau yang menyebabkan dia ditenggelamkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan tindakannya. Dia mengatakan orang yang menenggelamkannya … dia diam sesaat …

“Bangun! Bangun! Siti bangun! Dialah orangnya!”

Aku tergeragap dengan kekakuan tubuhku yang telah terhimpit dengan tubuh orang. Aroma tubuh yang mulai kukenal. Ternyata dia ayah tiriku. Dengan sekuat tenaga aku jengkangkan badan ayah tiriku dan dengan membabi buta kuhantamkan kayu yang ada di sampingku ke tubuhnya. Aku berlumuran darah dan aku hempaskan ayah tiriku ke laut dengan lumuran darah yang memenuhi tubuhnya. Dalam kekalutanku melihat simbahan darah aku melihat senyuman itu kembali dari kejauhan di malam yang bertaburan bintang gemintang.

“Ayah tunggu. Siti mau ikut ayah.”

Aku berlarian meninggalkan bang liau dan  berlari mengejar senyuman itu. Lamat-lamat aku mendengar suara memanggil-manggil namaku.

“Siti gila! Siti pembunuh!”

Aku tak peduli dengan sebutan itu. Aku terlalu bahagia dapat berjumpa dengan ayah.

“Ayah… ayah… tunggu Siti.”

Pekanbaru, 2010

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan