

Ketika sedang mencari batu di pinggir jalan untuk membuat dapur masak-masakan, pandangan Lala menjurus pada sebuah plastik berklip. Dengan rasa penasaran, ia kemudian mengambil barang yang berisi butiran-butiran kecil berwarna putih tersebut. Ia lantas memerhatikannya, hingga ia menaksir-naksir bahwa itu adalah obat-obatan, atau racun hama.
Tetapi ia tak peduli soal apa itu sesungguhnya. Ia merasa tidak punya pengetahuan yang cukup untuk mengetahuinya. Yang pasti, ia telah mendapatkan satu bahan untuk acara masak-masakannya. Karena itu, setelah mendapatkan dua batu untuk membuat dapur-dapuran, ia pun lekas menuju ke sisi Dian dan Lina, teman sepermainannya, yang juga temannya di kelas II SD.
“Hai, ibu-ibu, aku dapat bumbu masak,” seru Lala, dengan tingkah seolah-olah mereka adalah ibu-ibu yang sedang melakoni acara memasak bersama.
Seketika, kedua temannya tampak penasaran
“Apa itu?” tanya Lina, dengan raut serius.
Lala mengangkat bahu dengan bibir yang manyun, sebagai isyarat bahwa ia pun tak tahu. “Tetapi ini bisa kita jadikan sebagai bumbu masakan kita.”
Kedua temannya lantas mengangguk-angguk setuju.
Akhirnya, mereka pun menyusun bebatuan sebagai tungku, kemudian menaikkan kaleng biskuit berisi air di atasnya sebagai periuk. Setelah itu, mereka lantas mengumpulkan dedaunan sebagai bahan masak-masakan, juga ranting-ranting kayu sebagai bahan pembakaran. Sesaat berselang, api pun menyala dan mulai memanaskan bahan masak-masakan mereka.
Beberapa lama kemudian, air di dalam kaleng pun mendidih. Mereka lantas memasukkan segala macam dedaunan, seolah-olah mereka sedang memasak sayur-sayuran. Setelah dedaunan itu melunak bersama bumbu rempah yang ala-ala, Lala pun membuka klip plastik temuannya, lalu menuangkan serbuk putih isinya ke dalam racikan masak-masakan tersebut.
Detik demi detik, Mereka pun tampak semakin bergembira. Mereka terus saja bertingkah layaknya ibu-ibu yang begitu antusias memasak, seperti yang mereka saksikan pada acara hajatan di desa mereka, ataukah pada program tata boga di layar kaca.
“Ah, aromanya enak sekali, ibu-ibu,” ujar Lala, setelah menghirup uap yang menguar dari dalam kaleng masak-masakan mereka, yang membuatnya sedikit puyeng.
“Wah, pasti para tamu akan senang menyantapnya,” tanggap Dian, bak sedang melakoni adegan sinetron.
“Kita memang ahlinya dalam memasak,” timpal Lina.
Untuk beberapa waktu kemudian, ketika kedua temannya sedang mencari wadah-wadah plastik berukuran kecil yang pas untuk mereka jadikan sebagai piring-piringan hidangan, Lala terus saja mengaduk dan membaui aroma uap masak-masakan mereka, hingga ia merasa setengah linglung.
Sesaat berselang, masak-masakan mereka kemudian terhitung matang menurut versi mereka. Akhirnya, dengan kain buangan sebagai pelapis tangannya, Lala pun mengangkatkan masak-masakan mereka dari atas dapur-dapuran untuk ia tuangkan ke dalam piring-piringan temuan temannya.
Tetapi sial. Kain pelapis tanganya ternyata terlalu tipis untuk meredam terpaan panas dari kaleng masak-masakannya. Seketika pula, ia melepaskan genggamannya, hingga hasil masak-masakan itu tumpah ke tanah.
“Aduh, habislah masakan kita,” tutur Dian, dengan nada dan raut kecewa.
Lala tampak merasa bersalah. “Maaf, tanganku kepanasan,” katanya, lantas kembali meniup-niup telapak tangannya
Lina kemudian mendengkus pasrah. “Ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi.”
“Ya. Kalau begitu, besok kita masak-masak lagi,” tanggap Dian. “Sudah tengah hari. Waktunya kita pulang.”
Lala dan Lina pun menangguk setuju.
Akhirnya, mereka menyudahi sesi masak-masakan mereka, lantas melangkah ke rumah mereka masing-masing.
Sesaat kemudian, setelah Dian berbelok ke satu lorong menuju rumahnya, Lala dan Lina terus melanjutkan perjalanan menuju ke rumah mereka yang saling berhadapan. Hingga akhirnya, ketika mereka sudah dekat dari kediaman mereka masing-masing, mereka pun terkejut dan terheran menyaksikan sejumlah warga yang berkerumun, juga beberapa personel polisi.
Sontak saja, Lala bertanya-tanya. Karena itu, ia segera menghampiri ibunya di bawah kolong rumahnya, kemudian menyelisik, “Apa yang terjadi, Bu? Kenapa ada polisi?”
“Ayah Lina punya perkara dengan para polisi itu, Nak,” jawab sang ibu, sekenanya.
“Perkara apa, Bu?” selidik Lala, penasaran.
“Perkara orang dewasa, Nak,” jawab sang ibu, setengah malas untuk menjelaskan.
“Perkara orang dewasa apa, Bu?” sidik Lala lagi, dengan ekspresi yang seolah-olah menuntut penjelasan yang terang.
Sang ibu lantas mendengkus dan menatapnya lekat-lekat. “Ayah Lina disangka oleh para polisi telah melakukan pelanggaran hukum, Nak. Ia dikira telah melakukan kejahatan. Begitu,” ucapnya, dengan nada tegas, seolah-olah ia ingin agar sang anak berhenti bertanya,
Tetapi lekas juga Lala mengulik, “Kejahatan apa yang ayah Lina lakukan, Bu? Apa ia akan dipenjara?”
Sang ibu kembali mendengkus pasrah atas keingintahuan sang anak. “Bisa jadi, kalau polisi menemukan barang bukti bahwa ayah Lina benar-benar telah melakukan kejahatan,” balasnya, sembari memasrahkan diri untuk bersedia meladeni pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
“Bukti apa, Bu?’sergah Lala.
“Sabu-sabu, Nak,” jawab sang ibu.
Dahi Lala sontak berkerut. “Memangnya sabu-sabu itu apa, Bu?”
“Sabu-sabu itu adalah barang terlarang yang bisa membuat orang kehilangan kesadaran dan kewasaran, Nak, sehingga dilarang oleh hukum negara maupun hukum agama,” terang sang ibu.
“Barang terlarang?” Lala begitu penasaran. “Bentuknya bagaimana, Bu.”
“Sabu-sabu itu bentuknya berupa butiran-butiran kecil berwarna putih, seperti garam halus. Biasanya dikemas dalam plastik-plastik kecil, seperti plastik obatmu yang biasa,” jelas sang ibu, sembari berharap sang anak tidak lagi bertanya.
Lala sontak teringat pada sepaket plastik berklip yang telah ia jadikan bumbu masak-masakan beberapa saat sebelumnya. Tetapi seketika juga, ia terpikir pada nasib Lina atas perkara ayahnya itu.***
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com