Cerpen Shofiyyah

ESOK


Malam hari itu cuaca sedang hujan. Aku hanya berbaring di ranjangku dengan tubuh dibaluti selimut. Sambil mendengar musik yang membuat hatiku tenang. Dengan suasana hatiku yang sangat amat tentram sedikit lelah tak ada satu pun orang yang menggangu, aku duduk menghadapi angkasa yang begitu indah, melepas semua rasa lelah. Tak lama kemudian ibuku memanggil dan menyuruhku ke dapur untuk menyantap makan malam.

Aku  kembali ke kamar dengan suasana hati yang cukup sedih, karena melihat kesunyian di meja makan ibu tidak berbincang , terlihat sedang menahan amarah. Aku berfikir mungkin saja ia sedang lelah dengan aktivitas hari ini. Suara dorongan kursi yang keras terdengar, aku kaget,“Ada apa itu ? ” ucapku dalam hati

“Kau sangat tidak tau diri pulang tidak ingat waktu ”

“Aku hanya pergi sebentar bertemu dengan teman-temanku”

“Sebentar ?! pulang jam 12 malam itu sebentar ? Aku hanya ingin kau diam di rumah

menjaga Naya, tapi kau malah berkeliaran hingga tengah malam, bagaimana bisa menjadi contoh yang baik buat Naya?” 

“Kau tau, kau itu sangat berisik, sudahlah biarkan saja Naya itu sendiri dirumah dia sudah

besar , bisa menjaga dirinya ,aku capek ingin tidur ”  

Sudah kuduga itu adalah suara keributan ayah dan ibu,aku sudah terbiasa mendengarnya setiap hari itu terjadi. Setiap aku mendengar hal itu aku sangat sedih,mengapa keluargaku tidak harmonis. Aku hanya menangis dengan suara yang kecil untuk melepas kesedihan hatiku,dan sangat ingin teriak sekuatnya. Tak pernah melihat ayah dan ibu tertawa atau berbincang bersama itu sangat sedih. Ibu yang selalu bekerja dan ayah yang pulang larut malam.

Ayah dan ibu sangat sering berbicara yang tak pantas untukku dengar seperti omongan kotor. Aku yang mendengarnya sangat sakit hati. Jika kalau ada teman untukku bercerita aku sangat senang bercerita sambil menangis di pelukannya.

Hidup berasa sunyi tanpa adik ataupun kakak, di sekolah tak ada satupun teman yang ingin bersahabat denganku. Mereka berkata bahwa aku tidak bisa berteman dengan mereka dengan gaya berbusanaku yang jadul. Pergi kesekolah hanya sekedar belajar dan langsung pulang tanpa adanya tawa canda.

Musiklah yang membuat hati tenang, sudah berkali-kali aku stress dengan hidup ini, dan sering mencoret coret dinding sambil mendengar musik untuk membuat hati senang.

Suatu malam aku kembali menangisi dan ingin menyerah karena  kesedihan dan jahatnya lingkungan , tetapi aku berpikir jika aku terus berlarut dalam kesedihan aku takkan bisa untuk maju, aku harus melawan semuanya dengan hal-hal positif.

Keesokan harinya  aku kaget melihat ayah berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana hitam. Aku bertanya kepada ayah,

 “Ayah tumben memakai baju rapi, ayah ingin kemana? ”

“Naya ayah ingin mencari pekerjaan, ayah sangat menyesal sering membentak ibumu tapi

kamu jangan memberi tahu ibumu.”

“Siap yah, aku sangat senang mendengar itu. ”

Ketika sore hari aku lagi bersantai di teras rumah, ayah pulang dengan senyum yang manis. Dan ternyata ayah keterima bekerja di suatu perusahaan. Saat sedang berbincang ria dengan ayah , ibu pulang menyapa kami, dan senang melihat ayah yang sudah berada di rumah.

“Ibu, ayah ingin berkata sesuatu, bahwa ayah keterima kerja ”

“Wow luar biasa ayah, selamat ! ”

“Selamat ayah!  ”

Setelah aku dan ibu memberi selamat kepada ayah. Ayah langsung memeluk kami berdua. Aku sangat senang melihat perbincangan saat makan malam, ayah dan ibu bercanda dan tak ada lagi suara bentakan atau suara amarah. Aku semakin semangat untuk menjalani hari esok.

Duri, 16-11-2021


Shofiyyah, lahir di Duri 6 Agustus 2007. Siswa SMPS Cendana Duri kelas 9 berhobi menggambar, memasak, bermain media sosial, dan bercita-cita menjadi dokter atau perawat, prestasi menang mengikuti lomba pramuka saat SD.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan