Geliat Silat Yang Tersimpan – Epiardi KIN Anam

GELIAT SILAT YANG TERSIMPAN

Oleh. Epiardi KIN Anam

“Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”, itulah ungkapan yang dipegang kini, sehingga keharmonisan selalu ada disanubari. Rasa yang selalu hidup terus mencari, menembus waktu dan tempat.  Antipati diletakkan pada titik paling bawah dan Empati dijunjung tinggi. Bersama ayunkan tangan, melangkah searah menuju titik tumpuan. Yang berlari pegangkan pejalan, yang pejalan pegangkan sang duduk, yang duduk bangunkan yang tidur. Berbaur dengan alam, menyatu dengan lingkungan. ONE For ALL, ALL for ONE kata spontan dari ‘Sang Paik’ perwakilan rasa dari Sang Pecinta.

Meskipun Siang hari, rasa dihalangi, tapi gemuruh kalbu terus bergolak malam itu. Nilai Sang Pecinta tidak bisa dihitung dengan angka, tapi kalau rasa telah sama, semua terlaksana tanpa banyak bahasa ataupun kata. Basa basi pemanis tidak ada lagi dalam cerita, semua terbuka dan nyata, celoteh dan tawa, diskusi dan prediksi terus mengalir tanpa dianulir.

Semua menyatu tanpa diseru, semua melangkah tanpa dipapah, semua melambai tanpa diabai, semua berbaur tanpa diatur.

Persembahan langkah dibuka sudah, gelombang silat membakar gelora. Tari piring pecah suasana, seruling bambu mendayu-dayu. Tambur dan rabab menjadi pelengkap.

Rasa dan asa menyatu padu, sesak dada lapang kini, semua lepas hingga tuntas. Senyum pelukan membuat haru, takkan ingin ini berlalu, silaturrahim teruslah ditata dan dijaga.

Silaturrahim para pecinta dan pelestari silat terasa hangat pada malam itu, (Sabtu, 10 Juli 2021). Dihadiri oleh 7 perguruan silat nusantara, yakni: Silat Langkah Harimau, Silat Cakak 4 Harimau Putih, Silat Harimau Kubung, Silat Kumango, Silat Ganggang Sapadi, Silat Galut Batu Mandi Dasar 16 dan Silat Sasak Langkah Tigo.

Acara yang berbatas ini tentu tidak semua Perguruan yang bisa hadir karena kondisi dan situasi yang belum memadai. Tapi semangat itu terus menggebu karena cinta telah menyatu.

Silaturrahim yang ditaja ini adalah bagian dari progja yang disepakati, yakni bergerak terus tanpa henti, melangkah sedikit demi sedikit hingga capaian berbukit.  

Silat dan seni menyatu dalam silaturrahim FP2STI. Silat Gelombang yang dibawakan oleh gabungan para pecinta silat (Langkah Harimau, Cakak 4 Harimau Putih dan Kumango) mengantarkan suasana semakin bermakna. Tari piring hasil kolaborasi ‘Harimau Putih dan Harimau Kubung’ membuat bisikan angin tak lagi bergeming, hingga pecahan piring membuat semua hening, tak sanggup mulut berkata tapi tepuk tangan memecah suasana.

Antraksi silat semakin padat, mata tertuju ke titik satu. Gerak langkah penuh rasa, salam sembah kepada Sang Pencipta. Pijakan Bumi sebagai ibu, payungan langit sebagai bapak, baru langkah dibuka. Terkhusus untuk Tuan Guru Ganggang Sapadi, sungguh elok berseni, membuka langkah penuh makna, memberi pelajaran bagi yang muda-muda.   

Langkah dan Lompatan harimau sang pesilat menjadikan alam sedikit diam. Sambutan pisau Sang Kumango membuat mulut berbentuk ‘O’. Sepak melingkar Sang Sasak Langkah Tigo membuat dentuman gendang semakin panjang.

Kata persembahan adat bersambut riuh; petatah, petitih dan petuah menyelimuti semua raga. Tuanku Paik mengolah kata, sambutan menukik terus ditaja oleh Tuanku Malin Mudo dipojok sana. Sungguh mata tak mau berkedip apalagi telinga terus terjaga.

Salam silaturrahim mengakhiri kata dan menutup acara.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan