Gelombang Prof Embe’: Puisi Mohammad Ayyub

543

Sejauh memandang lautan airnya tampak tenang, debur ombak meriak perlahan. Siapa duga ketenangannya menyimpan misteri. Awalnya tekanan kecil dibiarkan berlalu tanpa respons. Dalam hitungan menit tekanan kian membesar bersama muntahan isi perutnya. Isinya campur baur material apa saja membaur jadi satu. Tak terpisah yang toyib, bergizi maupun batal-haram.

Akibat tekanan kian membesar debur ombak kian meningkat seiring besarnya tekanan. Lama kemudian menjadi gelombang besar. Tidak saja menyapu seisi pantai juga menghancurkan segala yang ada di pinggir pantai. Patut diduga pembiaran riak kecil sebagai angin lalu. Padahal deru angin meski awalnya kecil memberi sumbangsih atas besarnya gelombang.

Konon ada cerita-cerita beredar sebelum ada gelombang besar. Tadinya menjadi tempat favorit untuk bercengkrama siapa saja. Bersama sanak keluarga, menjadi destinasi pilihan muda-mudi. Menjadi sumber pendapatan nelayan sekitar. Tak terkecuali wisatawan domestik dan manca menjadi alternatif yang dikunjungi. Air lautnya bening terlihat sampai ke dasar. Berbagai satwa laut berjenis-jenis bersilewaran menggoda mata. Belum lagi pasir pantainya putih berkilau diterpa mentari.

Yang akhirnya tersebab kecerobohan semua berubah. Akibat pembuangan limbah di tengah laut tanpa kontrol. Limbah berbahaya tersebab mampu membuat rekahan di dasar laut. Rekahannya menimbulkan getaran maha dahsyat hingga menekan air laut bergerak bergelombang. Ditambah hembusan angin menjadi badai merusak segalanya.

Sudah sering diingatkan jangan sembarangan buang limbah di tengah laut. Seperti tidak digubris malah kian menjadi-jadi. Terlebih merasa punya tangan kokoh, merasa pemiliknya. Bebas berbuat semaunya tanpa sadar sesungguhnya mengancam dirinya. Saran, nasehat apa pun tak pernah didengar. Pendengarannya menjadi tuli tersumbat kepongahan. Percaya dirinya tak terbatas merasa jumawa atas kekokohan tangannya. Tak ada yg berani melawan semua memilih diam, cari selamat.

Seperti tabiatnya gelombang tak bisa pilih-pilih. Ia akan menerjang apa saja tak pandang bulu. Termasuk pemilik tangan kokoh terbawa oleh terjangannya. Tak ada lagi kebanggaannya selain sesal diri tiada berguna. Semua sudah kasep tak ada lagi jalan pulang. Bila pun merasa kokoh dihatinya sebenarnya lunģlai, hancur berkeping-keping. Yang ada kegetiran menghantam jiwa.

Mau apa lagi gelombang memilih jalannya sendiri. Terdorong perilaku tak beradab menabrak tatanan. Memaksa diri menjadi hero dirinya tanpa mau mengukur diri. Tak ada jalan lain selain menghindari gelombang agar tak terhempas. Sebaliknya memilih hanyut bersama pusaran gelombang yang datang bergelombang ?

Chadad, 10 Sya’ban 1445
20 Pebruari 2024

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan