Harga Diri: Cerpen Fikraneil H Nouran

183

Matahari telah tergelincir jauh dari tengah-tengah timur dan barat. Air mulai turun dari awan-awan cerah itu mengenai aku dan teman-temanku di atas jalan yang berpasir menuju asrama. Panas menyergap saat kami keluar dari masjid, dan hujan membasahi tubuh setitik demi setitik. Panas dan dingin bercampur di antara keduanya.

Hujan panas makin lebat. Aku dan teman-temanku berlari sekencang mungkin menghindari hujan panas itu. Tak jauh dari tempat kami berlari, ada sebatang pohon beringin berdaun lebat dan rantingnya menari-nari mengikuti irama angin.

***

Tiga hari lalu, aku mendapat tawaran mengikuti lomba menulis cerpen tingkat kota. Aku mengambil tawaran itu dan pihak sekolah langsung menyediakan hp, perangkat menulis untukku. Kesempatan itu tak aku sia-siakan.

Pada hari pertama dan kedua, aku serius setengah mati, berusaha untuk memenangi lomba tersebut. Tapi berbeda dengan teman-temanku yang mengikuti lomba lainnya. Mereka terlena dengan hp mereka sendiri. Mereka terlena dengan aplikasi tiktok, instagram, dan sampai bermain game. Kemudian melupakan lomba yang akan mereka ikuti. Maklumlah, jika anak pesantren dikasih hp, mereka akan lupa waktu, lupa makan, dan bahkan mereka lupa untuk apa mereka disekolahkan di pesantren.

Namun di hari yang ketiga, aku tak tahu kenapa terbawa arus oleh teman-temanku. Aku mengikuti mereka bermain game hingga lupa waktu. Pulang sekolah langsung bermain game.

Setelah sholat zuhur aku banting stir. Teman-temanku makan, aku tetap bermain game. Tiap waktu kosong, aku akan selalu mengisinya dengan bermain game, game, dan game saja yang selalu terbersit di benakku. Tak ada yang lain.

***

Hujan panas makin lebat turun di atap bangunan pesantren, menyisir-nyisir kasar atap itu. Airnya turun ke tanah membentuk lubang-lubang kecil yang sejajar. Begitu pula hari ini. Kami berlari menghindari hujan panas sekaligus mengejar hp yang tak sabar kami mainkan, di tengah perjalanan tiba-tiba aku ditahan abang kelas. Dia berteriak, “Woy, pasti kau mau main hp ‘kan?” teriaknya iri padaku.

Belum sempat aku jawab, ia marah-marah tak jelas, mencarut-marutiku. Teriakannya makin jelas di jalan itu, mengalahkan suara atap yang berbunyi di sisir hujan panas. Teriakannya pecah di tengah hujan panas itu, membuat santri lainnya berkumpul membuat lingkaran yang memenjarakan aku dan abang kelas itu.

Aku diam. Tak bisa berkata apa-apa. Ia menghinaku, memakiku, bahkan menarik kerah bajuku ke atas. Aku terangkat 15 cm dari tanah. Rasanya harga diriku jatuh, kastaku turun jauh.

Kesempatan itu tak aku sia-siakan, mengambil ancang-ancang yang tepat, mengumpulkan semua tenaga ke kaki kananku, kemudian aku lontarkan ke arah kelaminnya.

Deg! Sasaran yang tepat, dalam hatiku.

“Arghhhh,” ia mengerang kesakitan. Aku terlepas. Membelah lingkaran itu, berlari meninggalkannya dalam posisi terlentang seraya memegang kelaminnya.

Di asrama, aku dan teman-temanku mengambil hp, membuka layar, mengetuk aplikasi mobile legend, kemudian main game bersama-sama. Aku tak menghiraukan kata-kata abang kelas tadi. Kami pun terlarut dalam game itu.

Sedang asyik bermain, pintu terbuka tiba-tiba, menampilkan pria gagah memakai peci, raut mukanya tegas, matanya sinis melihat ke seluruh penjuru asrama kami. Melihatnya, kami ternganga setengah mati dengan hp berlayar lanskap, menandakan bahwa kami sedang bermain game. Ia melangkah masuk kemudian berteriak keras. “Saya ngasih kalian hp bukan untuk main game tapi untuk persiapan lomba,” teriaknya pecah di asrama itu.

Kami menunduk. Tak mampu melihatnya. Kemudian ia mengambil hp kami masing-masing. Kami tak dapat bicara. Ia menangkap basah kami. Kami diam layaknya patung. “Hp ini akan saya kasih langsung ke pimpinan, dan hp ini akan disita permanen selama-lamanya!” ia tersenyum dengan senyuman kemenangannya. Senyum joker. Kami menyebutnya seperti itu. Ia berbalik, meninggalkan kami dengan wajah kemenangannya, seperti pemancing yang baru saja mendapat jackpot, yaitu ikan besar. Kemudian berjalan seraya membawa hasil tangkapannya. Ha ha ha.
Ruangan asrama itu sunyi senyap.

Senja tiba, matahari makin tergelincir di ujung barat. Berita itu menyebar luas ke segala penjuru asrama. Aku dan teman-temanku yang tertangkap basah main hp, pada senja itu kami semua dibotaki dengan pisau silet. Kami dipertontonkan di depan santri lainnya di tengah lapangan bola. Mereka tertawa melihat kami. Kami dibuly, diejek dan dijauhkan.

Terlebih lagi abang kelas yang menghinaku tadi. Ia tertawa memegang kepalaku yang licin. Kemudian meniupnya dan menekan kepalaku. Aku tak bisa bergerak. Kami diikat bersama kursi kelas. Aku hanya bisa mengelakkan kepala, namun usaha itu sia-sia. Ia melakukannya berulang kali sampai puas seraya mengulang penghinaan yang sama seperti siang tadi.
Kembali ia menghina, memakiku, dan lagi-lagi harga diriku jatuh, kastaku turun jauh.

***

Tiga hari berlalu. Malam. Aku tengah duiduk di depan asrama, melihat langit hitam di antara pendxar bintang dan bulan penuh itu bercahaya dilingkari awan. Di bawahnya terlihat segerombolan santri sedang berkumpul tak teratur. Aku bingung melihat merekam, di antaranya membawa sebuah koper dan tas punggung. Mereka menuju ke arah pos security. Kulihat abang kelas yang menghinaku kemarin itu, berada di barisan paling depan. Ia menunduk. Rambutnya berantakan. Air matanya mengambang. Tangannya mengusap mukanya yang kasar berulang kali. “Ada apa? Kenapa abang itu menangis? Apa yang terjadi sebenarnya?” aku bertanya dalam hati.

Terlihat air matanya turun setitik demi setitik. Tubuhnya lemas dan langkahnya lesu. Ia berhenti, kemudian menoleh ke belakang. Penglihatannya sibuk berpindah dari kiri ke kanan, sepertri sedang mencari seseorang.

Penglihatannya berhenti berpindah tepat saat ia melihatku. Tatapannya kosong, sekosong hidupnya kini. Aku mengetahuinya karena aku mendengar perkataan seseorang kepadanya. “Sabar ya, aku turut berduka cita atas kepulangan ayahmu.”
Tangisnya pun makin pecah di malam nan duka itu.

***

Fikraneil H. Nouran lahir pada 02 Mei 2008. Kini merupakan siswa kelas XI ICBS Payakumbuh Sumatera Barat.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan