Ibu,
Telah sekian purnama kulalui tanpamu
Tiada lagi puisi pagi yang kau bisikkan di telingaku
Tak kan kudengar lagi alunan merdu suaramu saat mengaji
Tak ada lagi dendang syahdu mewarnai rumah kita.
Ibu,
Mutiara nasihatmu kini menjadi nyata.
Sungguh tak ada yang mencintaiku setulus dirimu.
Pernah suatu hari aku bertanya kenapa doamu selalu panjang,
Zikirmu sungguh khusyuk.
Kau hanya tersenyum kala itu sambil mengelus kepalaku.
Ibu,
Sekarang duniaku tak sama lagi.
Separuh hatiku ikut pergi bersamamu.
Namun, aku tak mau mengecewakanmu.
Ibu,
Aku akan berjuang sesuai doa dan harapanmu.
Walau satu mustajab telah hilang dariku
Aku yakin Tuhan takkan menyia-nyiakanku.
Ibu,
Sungguh aku rindu. Rindu senyummu, canda, tawa bahkan marahmu.
Rindu ini selalu mengoyak hatiku tatkala sekelebat bayangmu hadir di sisi.
Payakumbuh, 29 Maret 2024
Azmilla Hartaty. Lahir di Rambatan, Tanah Datar, 26 Juni 1985. Alumnus Sastra Inggris, Universitas Andalas. Seorang mompreneur yang kini menetap di Payakumbuh. Senang menulis sejak kuliah. Kini aktif menulis puisi Asqa Imagination School (AIS). IG: @azmilla_hartaty