
Aku terbangun dalam tubuh yang terasa asing
seperti buku usang dengan halaman hilang
Di cermin, seorang perempuan menatapku
tangannya memegang buah stroberi
Aku lupa namanya
atau mungkin, aku tak pernah tahu.
Dulu, aku menaklukkan dunia dengan pikiranku
membaca isyarat dalam angin
menimbang takdir di ujung jemari
Tapi kini, aku sekadar bayangan
yang tak mengenali dirinya sendiri
Di sudut kamar, di atas meja kecil,
semangkuk stroberi merah menyala,
manis barangkali,
tapi ketika kugigit—
asamnya menyesakkan tenggorokanku,
seperti sesuatu yang hampir kuingat
tapi luput dari genggaman
Kata mereka, dulu aku hidup sendiri tapi tak kesepian
selalu sibuk, dikelilingi kawan-kawan
Kini aku hanya diam, menunggu entah apa
seperti waktu yang beku dalam ruang hampa
Di piring lain, ada selai stroberi,
warnanya sama, tapi rasa entah berbeda
Aku mencoba mengingat
kapan terakhir kali aku membuatnya sendiri?
Ataukah aku pernah?
Kemarin, aku bertanya pada bayanganku di cermin,
“Siapa aku?”
Dia diam saja
seperti rahasia yang tak sudi terbuka.
Rintis, 13 Maret 2025
Setiabasa, seorang ibu rumah tangga, ibu dua orang putra dan nenek sepasang cucu. Menyukai membaca sejak kecil: fiksi, non-fiksi dan juga puisi. Sedang belajar menulis puisi di Asqa Imagination School, Ruang Kata dan Kelas Puisi Symprerifora.
IG: @setia.xu