Zaini Kunin : Setiap Warga Negara Berhak Mendapatkan Pendidikan

Catatan Redaksi : Beberapa waktu yang lalu, Desember 2020,  Pemerintah Daerah Provinsi Riau telah memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh nasional dari Riau yang berjasa bagi negeri ini. Salah satunya adalah penghargaan sebagai Tokoh dan Pejuang Riau di bidang Keagamaan, Sosial, Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020,   yang diberikan kepada H. Zaini Kunin, pendiri YLPI Riau yang membawahi sejumlah lembaga pendidikan dan Universitas Islam Riau.  Berikut ini, tulisan Husnu Abadi, tentang Zaini Kunin tersebut (HS)
 
 
Oleh:  Dr. M. Husnu Abadi , S.H., M.Hum.
 
Salah satu warisan penjajah Belanda adalah kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan yang dapat dicapai oleh mayoritas penduduk bangsa Indonesia. Hanya kalangan tertentu saja yang dapat menikmati dunia pendidikan di masa penjajahan Belanda. Surat-surat Kartini kepada temannya di Belanda yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang menggambarkan betapa tertinggalnya kaum wanita masa itu, tidak mempunyai peluang untuk menikmati pendidikan, sekalipun  hanya untuk pendidikan dasar. Ketidak pedulian penjajah Belanda terhadap kaum inlander, pribumi masa itu, jauh beda dengan kemewahan yang dipamerkan oleh pemerintahan penjajah dan pemerintaah di Belanda sana. Tak mengherankan bila Doewes Dekker melakukan kritik pada perangai bangsa Belanda ini, dengan menyatakan aku malu menjadi bangsa Belanda.
 
Di awal abad 20, perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia, dilalui dengan cara-cara yang lebih terorganisir, dalam bidang politik, ekonomi dan pendidikan. Berdirinya organisasi Muhammadiyah di tahun 1912oleh K. H. Ahmad Dahlan dan sejumlah organisasi sosial kemasyarakatan lainnya, yang bergerak di bidang pendidikan, merupakan strategi dan jalan yang cerdas. Sebab bagaimanapun, bangsa ini telah jauh tertinggal dari bangsa-bangsa yang lain dalam hal pendidikan. Investasi dalam dunia pendidikan di masa lampau itu, hasilnya akan dipetik sekian puluh tahun kemudian. Apa yang telah ditanam oleh ormas-ormas Islam dalam dunia pendidikan, kini dapat dirasakan manfaatnya, oleh bangsa ini. 
 
Riau adalah bagian dari negeri Indonesia, sejak awalnya, sejak kemerdekaan negeri ini diproklamirkan. Bermula merupakan bagian dari provinsi Sumatera, kemudian bagian menjadi dari provinsi Sumatera Tengah dan kemudian akhirnya menjadi provinsi yang berdiri sendiri di tahun 1957. Wilayah Riau amatlah luasnya, sebab termasuk juga wilayah Kepulauan Riau yang kini menjadi provinsi tersendiri. Hubungan antar satu daerah ke daerah lainnya, masih terasa sulit sebab kondisi jalan darat amatlah minimnya, Sungai merupakan media penghubung yang amat penting. Minimnya jembatan yang menghubungkan dua tepi sungai, dapat dihitung dengan jari. Termasuk sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru, tanpa jembatan.  Dengan melihat kondisi perhubungan yang demikian itu, dapat diterka bagaimana pula kondisi dunia pendidikan yang ada di wilayah daratan Riau masa itu. .   Sebagaimana propinsi lainnya, kondisi pendidikan rakyatnya pun masihamat terbatas bahkan jauh dari layak.  Dalam kondisi yang demikian inilah, seorang Zaini Kunin menjejakkan langkahnya, langkah yang nantinya sampai kini masih dirasakan derap nafasnya. 
 
Membangun Bangsa, Membangun Sekolah 
 
Apa kesan tuan-tuan ketika selesai menonton film Lasykar Pelangi, yang diangkat dari novel yang ditulis oleh Andrea Herata? Sebuah organisasi kemasyarakatan  dan dakwah Islam, warisan Kiyai Haji Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, yang mengandalkan tekad pengabdian dengan kekayaan seadanya. Memilki beban dakwah, memberikan sinar cahaya pada masyarakat kaum marginal, yang unuk hidup saja sangat penuh perjuangan. Kisah perjuangan 10  anak-anak, dibawah asuhan seorang guru wanita dan kepala sekolah  yang  sederhana tapi penuh pengabdian. Namun, karena pengabdian yang diberikan sangatlah luar biasa di atas batas umumnya seorang guru, maka hasilnya juga sungguh luar biasa.  Di akhir film itu, ada satu kata yang mengutip dari bunyi satu pasal dalam konstitusi negeri ini…… setiap warga negara berhak mendapat  pendidikan.…..
 
Boleh jadi apa yang menjadi dan terjadi di Belitong sana, sama juga apa yang terjadi negeri ini, negeri Riau. Dalam setting zaman yang berbeda, Zaini Kunin masa 1950-an, berpikir dan akhirnya melahirkan suatu amaliah yang kini monumental, lembaga pendidikan. Apakah lembaga pendidikan itu level SD, SMP, SMA, ataupun Taman Kanak-Kanak,  tidaklah perlu dipersoalkan. Bahkan juga pendirian sebuah perguruan tinggi yang kini bernama Universitas Islam Riau. Dalam berbagai kesempatan, yang saya ingat, senantiasa menyampaikan nasihat, agar pengelolaan semua lembaga pendidikan ini, haruslah pro kepada kaum musthdafin, kaum marjinal, kaum masakin, dan jangan sampai seorang siswa tidak bisa menyelesaikana sekolahnya hanya karena kemiskinannya atau karena karena tidak ada beayanya. Kalau saya mengutip kata-kata itu, boleh saja sebagian pembaca mencemooh,  bukankah lembaga pendidikan itu kini bagaikan sebuah industri, yang siap mengeluarkan out put dengan perhitungan yang sangat ekonomis ? 
 
Dalam amendemen konstitusi, dinyatakan bahwa …perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah….. Walaupun itu bunyi konstitusi yang baru dituliskan pada amendemen ke 2, tahun 2000, tetapi substansinya telah ada pada sejak republik ini didirikan. Tanggung jawab pemenuhan hak warga negara untuk mendapat pendidikan, adalah pada negara dan terutama ada pada pundah pemerintah. Tetapi seorang Zaini Kunin melihat bahwa negara belum sepenuhnya sanggup untuk memenuhi tanggungajwab itu. Negara yang masih muda ini menghadapi persoalan yang tidak ringan dan tidak mudah diselesaikan. Perseteruan anat elite masa itu, sangatlah menguras tenaga untuk dapat diselesaikan. Demikian pula persaingan antar ideologi, yang berbasis ideologi komunisme, sosialisme, nasionalisme, marheinisme, Islam, Katholik sekulerisme dan lain-lain.
 
Tak perlu terlalu banyak pertimbangan, Zaini Kunin dan kawan-kawan menyingsingkan lengan baju, memulai fondasi lembaga pendidikan ini. Juga dimulai seadanya. Bangunan yang seadanya, guru seadanya, bahkan honorarium guru dan pengurus sekolah itu pun seadanya. 
 
Apa yang bisa dicatat dari kehadiran Zaini Kunin dalam membangun, merawat dan mengembangkan dunia pendidikan ini.  Tak lain dan tak bukan, sebagai pengambil alihan sebagian dari tanggung jawab negara, atau mengurangi beban dan tanggung jawab negara yang tidak mampu untuk menyelenggarakan pendidikan bagi semua rakyat Indonesia.  Memang dalam undang-undang yang mengatur sistim pendidikan nasional, negara mau tak mau mengakui akan ketidak mampuan ini, dan karenanya memberikan ruang kepada masyarakat untuk ikut serta memenuhi sebagaian dari hak-hak warga negara dalam bidang pendidikan. Bahkan bila dirunut ke belakang, masyarakatlah yang dengan kekuatan diri sendiri mengambil peran terdepan dalam memberikan pendidikan bagi warga masyarakat. Pondok pesantren, sekolah-sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyah, Taman Siswa, Nahdhatul Ulama, Al Irsyad, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Nahdhatul Wathon, Al washliyah dan masih masih lagi yang tersebar dari ujung timur barat ke ujung timur negeri ini, memenuhi panggilan Ilaahi untuk melakukan gerakan tarbiyah, gerakan penyadaran dana pendidikan 
 
Karena itulah, mereka-mereka yang bergerak di bidang pendidikan, merupakan pejuang-pejuang hak asasi manusia, yang bergerak untuk perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan salah satu hak asasi warganya, hak warga atas pendidikan.
 
Penulis adalah pensyarah, Lektor Kepala,  pada Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (sejak 1986), Program Magister Hukum Pascasarjana UIR, Ketua Pusat Studi Hak Asasi Manusia UIR. Tamat dari FH UIR Tahun 1985), S2 di Unpad ( 1996), dan S2 di Colgis UUM  ( 2013). Buku yang ditulis tahun 2017 adalah  Pemuatan kembali Norma Hukum yang telah Dibatalkan Mahkamah Konstitusi, Yogyakarta: Deepublish, bersama Wira Atma Hajri. 
 
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com
 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan