Lelaki yang Sempurna Meneteskan Tinta: Cerpen Annisa Luthfia

158

Ibu bercerita padaku, bahwa pada suatu malam dia mendengar acara Dari Jauh Kukirim Doa yang selalu disingkat DJKD di Radio Suara 33 yang berstasiun di Kuala Lumpur, Malaysia. Seseorang yang bernama Sulaiman Ismail mengirim doa dalam puisinya untuk Nurlela binti Hasan dan Sofiah binti Sulaiman, yang kedua-duanya telah meninggal dunia.
Hari-hari selanjutnya Ibu selalu menjadi suka mendengarkan Radio Suara 33 itu. Kadang-kadang Ibu mengajak aku untuk mendengar bersama acara-acara tertentu di radio tersebut. Suatu malam, ketika membuka Radio Suara 33, kami mendengar puisi yang dikarang oleh orang yang bernama Sulaiman Ismail dibacakan oleh penyiar radio Dahlan Dahari dalam acara DJKD. Para pendengar radio banyak juga yang menelpon dan mengirim surat agar Sulaiman Ismail di datangkan lagi untuk membaca puisi-puisinya.
Karena Ibu selalu menyebut namanya, aku juga menjadi teringin untuk mendengarkan Sulaiman Ismail membacakan puisinya secara langsung. Hingga suatu malam dapat juga aku mendengarnya. Setiap saat tutur katanya terngiang-ngiang di telingaku. Sungguh elok tutur kata yang terangkai dalam puisi-puisinya. Aku membayangkan dialah lelaki yang sempurna dalam meneteskan tinta menulis puisi. Aku juga menduga dia adalah lelaki dengan sebaik-baik rupa. Memang pantas kalau dia banyak peminat.
Aku bertanya dengan penuh penasaran, benarkah Sulaiman Ismail itu adalah ayahku?. Ibu meneteskan air mata. Dia menjawab. “Berdasarkan surat yang ibu terima dari Papa Suardi, ayahmu telah mati tertembak polisi Malaysia dalam suatu operasi penangkapan pengedar dadah.” Aku terdiam. Aku memeluk Ibu. Dalam pelukannya aku menangis. Jawaban Ibu telah memupus harapanku.
Dua tahun setelah berita kematian ayah, Ibu menikah dengan Papa Suardi. Walau pada mulanya Ibu menolak ketika dilamar olehnya, atas desakan Kakek, Ibu menikah juga. Ketika aku baru masuk sekolah kelas 1 SD, aku melihat ibu menangis di malam hari. Ibu mengatakan, Papa Suardi menikah lagi. Ibu kecewa, akhirnya menggugat cerai Papa Suardi di Pengadilan Agama Selatpanjang, maka, berpisahlah hidup kami dengannya.
Pak Suardi yang kini menjadi pejabat daerah, lelaki yang dulu aku pernah memanggilnya papa itu masih juga kerjanya kawin cerai. Sungguh menyebalkan melihat lelaki ceking, perayu wanita yang selalu dipanggil dengan nama Pencacai Tua.
Ibu yang mulai pagi hari telah berjualan di kantin sekolah yang tak jauh dari rumah kami, selalu saja ditemani oleh radio kesayangannya. Ibu mendengarkan apa saja acara yang disajikan radio Suara 33 tersebut. Malam Senin dan Kamis adalah malam yang ditunggu oleh Ibu. Pada malam tersebut ada acara DJKD. Malam Kamis adalah malam siaran ulangnya. Pada acara itu terdengar berbagai ucapan salam dan rindu dari orang-orang yang jauh, baik sesama warga Malaysia, atau pun orang Indonesia yang berada di sana, untuk kekasih ataupun sanak keluarga mereka. Itulah satu-satunya acara yang hingga saat ini tetap lestari sejak tahun 80-an. Cara pengiriman ucapannya pun tetap dengan cara lama, masih menggunakan kartu pos dan telepon biasa.
Acara yang kerap kali diselingi dengan puisi yang dikirim para pendengar untuk kekasih dan sanak keluarga itu, juga selalu diikuti dengan lagu-lagu yang seirama dengan kehidupan sang pengirimnya. Acara yang dipandu Dahlan Dahari ini sangat sempurna bagi Ibuku. Karena itu, di zaman yang sibuk dengan media sosial, teknologi informatika, telepon seluler, Ibu tak tertarik dengan semua itu. Ibu tetap setia dengan chanel siaran Radio Suara 33 dan acara DJKD.
Pada suatu malam, di chanel radio Suara 33 ibu mengajak aku yang telah berbaring di tempat tidur untuk mendengarkan ungkapan hati tamu undangan di acara DJKD. “Cepat Piah, cepat, ada bintang tamu istimewa di radio Suara 33,” kata Ibu sambil menarik-narik tangaku.
Aku bangun, mengikuti gerak langkah kaki Ibu menuju kursi makan di dapur. Radio terletak di atas meja. Aku mendengar suara lantang dari penyiar radio itu, “Tuan-tuan dan Puan-puan yang mendengarkan siaran ini dimanapun berada, sebagaimana yang telah disampaikan di salam pembuka tadi, bahwa kita kedatangan seorang tamu istimewa, yaitu Datuk Sulaiman Ismail. Beliau adalah pujangga, seniman dan budayawan negera.”
Di awal acara, penyiar radio meminta Datuk Sulaiman Ismail membaca puisi. Aku dan ibupun menyimak kata demi kata yang dilontarkan dari untaian puisinya. Puisi yang punya makna mendalam, penuh keindahan dan dibacakan pula dengan suara yang merdu.
Aku memandang wajah ibu. Aku melihatnya menghela lengan baju menghapus air mata bening yang jatuh di pipi. Aku heran, kenapa Ibu terlalu menghayati puisi seseorang yang bergelar Datuk dari negera tetangga itu. Tapi aku takut untuk bertanya. Aku sekedar menebak, mungkin karena namanya mirip dengan nama ayahku, mantan suaminya yang telah tiada. Setelah mendengar Datuk Sulaiman Ismail membaca puisi, satu senandung lagu lawas Malaysia yang dipopularkan oleh Nash yang berjudul Pada Surga di Wajahmu didengarkan. Selanjutnya, iklan yang silih berganti dengan iklan lainnya. Aku rasa inilah radio yang paling banyak iklannya di dunia.
Setelah jeda iklan berakhir, acara masih dilanjutkan. Terjadi tanya jawab, antara penyiar radio dan Datuk Sulaiman Ismail. Decak kagum mulai muncul, manakala Datuk Sulaiman Ismail menyuguhkan diksi-diksi yang tepat pada setiap ungkapan kalimat yang keluar secara langsung dari mulutnya. Begitu juga Ibu, rasanya tidak cukup puas dia mendengar suara radio yang dibunyikan dalam volume maksimal. Telinganya pula yang didekatkan ke radio. Telepon dari para penggemar bertubi-tubi berbunyi. Mereka semua mengucapkan rasa kagumnya kepada Datuk Sulaiman Ismail yang membacakan puisi dan menyampaikan setiap bait kata dalam kalimat-kalimat tunjuk ajarnya.
Di pertengahan acara, Datuk Sulaiman Ismail diminta untuk membacakan puisinya lagi. “Puisi yang saya baca ini, teristimewa buat dua insan yang telah tiada, yang telah mendahului saya di awal tahun 2000. Kehilangan mereka inilah yang membuat saya tak berniat untuk kembali ke tanah kelahiran. Terimalah puisi saya ini, sebagai ungkapan jiwa yang lebih dua puluh tahun saya pendam di dasar hati,” kata Datuk Sulaiman Ismail.
Puisi yang berjudul Selendang Pengendong Sofiah itu dibacanya. Puisi itu mengisahkan tentang sehelai selendang istri yang dibawanya merantau untuk menghapus segala rasa rindu. Selendang itu juga, selalau dibuatkan kain pengendong si anak yang masih kecil. Kini selendang itu menjadi harta termahal yang dimilikinya.
Waktu sudah hampir tengah malam. Sebenarnya aku tidak mengantuk. Tentu Ibuku juga tidak mengantuk. Tapi wanita yang penuh pengertian itu mempersilakan aku untuk tidur. Aku hanya mengangguk, lalu beranjak ke kamar. Ibu mematikan radio. Suasana tenang. Beberapa saat kemudian ibu masuk pula ke kamar, lalu membaringkan tubuhnya di sampingku. Dari pentelasi jendela, aku mendengar bunyi Radio Suara 33 dari rumah tetangga. Iklannnya memang belum selesai. Aku mengetahui, Bang Brother tetangga sebelah rumah, memang suka mendengarkan Radio Suara 33, sebab dia pernah tinggal lama di Malaysia.
Pagi hari, seperti biasa aku membawa barang-barang jualan ibu ke sekolah. Tak lupa, radio kesayangan Ibu, aku bawa bersama. Bang Brother dan Kak Rohaya istrinya datang menuju Ibu. Tak pernah dia datang sepagi itu.
“Kak Lela malam tadi dengar Radio Suara 33 tak?” sapa Bang Brother sambil tersenyum.
“Dengar, tapi tak sampai habis. Iklannya banyak betul,” jawab Ibu.
“Kak Lela tahu siapa bintang tamu, malam tadi?” tanya Bang Brother lagi.
“Tahu, Datuk Sulaiman bin apalah namanya tu, yang sama dengan nama ayah Sofiah ni,” jawab Ibu dengan logat Melayu Selatpanjang sambil mengingat sesuatu.
“Iya Kak Lela. Dia itu memang Ayahnya Sofiah. Dia memang suami Kak Lela yang dikabarkan mati dulu,” kata Bang Broter.
“Mana engkau tahu?” tanya Ibu dengan mata berbinar-binar.
“Di akhir acara dia ada menyebutkan bahwa dia orang Selatpanjang dan….,” kata Bang Brother.
Hari semakin siang. Biasanya hanya siswa yang memenuhi kantin, tapi pada hari ini kepala sekolah dan guru-guru yang memenuhinya. Pak Misdar, yang tadi malam mendengarkan acara di Radio Suara 33, menceritakan kepada kepala sekolah dan rekan sejawatnya bahwa ayahku masih hidup di Malaysia, tadi malam tampil membaca puisi. Timbul kesal di hati aku dan Ibu, kenapa kami tak mendengar siaran Radio Suara 33 sampai habis tadi malam.
Dari pembicaraan di kantin sekolah ini, dianjurkan ibu dan aku untuk mendengarkan siaran ulang acara DJKD di malam Kamis nanti. Dari hari Senin menjelang malam Kamis, yang hanya berjarak tiga hari, terasa tiga tahun aku dan Ibu menantinya.
Pada malam Kamis, selepas Sholat Isya berjamaah di masjid usai, satu persatu tetangga, guru-guru dan kepala sekolah datang ke rumah kami. Mereka semua ingin mendengarkan siaran ulang DJKD. Tepat pukul 20.30 WIB, atau pukul 9.30 malam waktu Malaysia, acara DJKD pun mulai.
Bang Brother yang memang pandai dalam hal mengelola saund system, berusaha untuk menyambung siaran radio ke sound system miliknya yang lebih kuat volumenya. Dia sengaja mengangkut benda berat itu ke rumah kami, demi kejelasan informasi.
Walau hanya siaran ulang, namun suasana terasa hangat. Di penghujung acara terdengarlah pertanyaan dari penyiar radio, “Datuk, kalau boleh saya bertanya, kenapa sampai hari ini Datuk masih bersendirian, tiada pendamping hidup atau belum menikah-nikah?”
Terdengarlah lelaki yang bergelar Datuk itu menjawab pertanyaan penyiar radio. “Dengan hati yang berdebar, saya sampaikan segala kisah yang terpendam. Kiranya kisah ini menjadi punca derita ataupun awal bahagia dari saya, tetap akan saya ceritakan. Sebenarnya saya, hanyalah pendatang di sini, saya berasal dari Selatpanjang, Riau, Indonesia. Manakala ada kesempatan saya merubah kewarganegaraan, maka, saya pun berpindah menjadi warga negara Malaysia. Kesedihan atas takdir yang menimpa hidup, adalah mana kala saya mendapat kabar bahwa istri saya tercinta Nurlela binti Hasan dan anak saya yang berumur dua tahun Sofiah binti Sulaiman mati karena kecelakaan di laut. Istri saya ke Malaysia pergi melalui jalan gelap, menyeberang dari Pulau Rangsang secara ilegal. Kehilangan mereka, adalah kehilangan segalanya bagi saya. Surat yang diberikan oleh kawan saya Suardi masih saya simpan hingga saat ini. Artinya, bukan saya tak pernah menikah. Cuma saya tidak menikah lagi. Bagi saya, kasih sayang tak dapat dibelah bagi dan tiada gantinya.”
Semua yang mendengar penuturan Datuk Sulaiman Ismail terpana. Ibu meneteskan air mata. Begitu juga aku. Tapi kami semua tak dapat berbicara. Acara ditutup oleh penyiar radio dengan lagu, Andaikan Kau Datang yang dinyanyikan oleh Koes Plus.
Setelah acara siaran ulang itu berakhir, orang-orang yang ada di rumah pun berdiskusi. Memastikan apa sesungguhnya yang telah terjadi antara Ibu, Ayah dan takdir yang menimpa kami.

***
Beberapa saat kemudian, serombongan pemuda datang bersepeda motor sambil membawa seseorang yang terikat tanggannya. Aku melihat Pak Suardi dengan pakaian yang kotor dan tangan terikat. Seorang pemuda menarik tali yang mengikat Pak Suardi. Diduduknya Pak Suardi di tanah pada tengah halaman. Lalu seorang pemuda yang berambut gondrong berkata sambil menunjuk kepala Pak Suardi, “Lelaki bedebah inilah punca segalanya.”

***

Annisa Luthfia, Mahasiswa PBSI FKIP Universitas Riau, Pekanbaru. Lahir di Selatpanjang pada 24 September 2005. Aktif belajar menulis sastra sejak SMA dan pernah bergabung di Sanggar Sastra Tabir Selatpanjang.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan