Malam Sempit: Puisi Wahyu Mualli Bone

57

Diiringi gelap, maka sebagian bangsa pikir di belahan dunia mencoba meneranginya dengan ragam pemancing cahaya.
Sempat di malam sempit singgah melabuhkan suka dengan senyum air mata yang sukar ditangkap mata mata.
Ganjil, maka ganjil pula tunam dahi di setiap malam hingga ke sempitnya kesempatan antara damba.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Pekanbaru, 31 Maret 2024 M / 20 Ramadhan 1445 H

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan