Masih Terasa Hangatnya: Cerpen Sih Yuliawati

343

Jiwanya yang tenang, suara lembut, pendiam dan bersahaja. Selalu mengalah dan rela tak makan demi kami anak-anaknya. Engkaulah Ibu yang doanya sampai langit ketujuh. Kata-katanya adalah doa. Ridho Allah juga karena ridhonya.
Kini ibu telah tiada. Beliau pergi menghadap Illahi enam tahun yang lalu. Setelah bapak pergi lebih dahulu, ibu pun menyusul dalam jarak waktu hanya 44 hari. Beliau berdua memang sangat setia. Maka janji sehidup semati yang sering beliau katakan di ijabah Allah.
Ibuku adalah sosok yang sangat berbeda sekali denganku. Beliau pendiam dan tenang sekali pembawaannya. Sedangkan aku sangat usil dan jahil itu kata mereka, yang sering dapat jatah usilku, bahkan aku sering membuat orang tertawa geli karena lelucon yang sering ku lakukan. Kadang aku juga membuat ibu menangis karena kenakalanku.
Suatu hari ibu menyuruhku, “Wi, tolong antarkan makanan ini ke ladang buat makan siang Bapakmu.”
“Ya, Bu,” tanpa lama bertanya mengapa aku yang ke ladang lagi, langsung saja aku berangkat.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Di tengah perjalanan aku melihat sarang burung yang ada di pohon jambu. Spontan saja ku panjat pohon itu untuk melihat langsung, ada anaknya atau tidak. Entah mengapa, aku senang sekali bermain dengan anak burung liar.
“Wow, ternyata ada dua ekor anak burung ini.”
Lalu ku ambil dan ku turunkan untuk ku bawa pulang nanti.
Saking asyiknya bermain dengan dua ekor anak burung, aku sampai lupa kalau harus mengantar nasi ke ladang buat Bapak. Segera ku ambil bungkusan bekal tadi. Alangkah terkejutnya, nasi dan lauk buat bapak tinggal bungkusnya saja. Rupanya seekor anjing tadi sudah menyikat habis bekal nasi buat Bapakku.
Bukan main takutnya aku, ke ladang nggak mungkin, pulang apalagi. Bagai makan buah simalakama. Akhirnya ku putuskan naik pohon lagi.
“Semoga tidak ada yang lihat deh!” saking asyik membelai kedua anak burung liar tadi, tak sadar hari sudah petang. Aku bersandar di batang pohon jambu yang tak begitu besar.
Sementara semua orang di rumah sangat panik, apalagi Ibu, Bapak bahkan Kak Vera. Mereka mencari dengan bertanya pada semua tetangga. Mereka tidak ada satu pun yang tahu. Bagaimana mungkin mereka akan tahu? Aku berada di batang salah satu pohon jambu yang tidak akan terlihat oleh orang yang sepintas lalu saja, jika tidak diperhatikan.
Akan tetapi, kali ini aku benar-benar mati kutu. Ketakutan karena gelap dan perutku sakit karena belum makan sejak siang. Saat orang berteriak memanggil namaku. Aku ragu untuk menjawab. Tetapi jika tidak aku mati kelaparan.
“Dewi … Dewi … di mana kamu Wi. Dewi … Dewi … ini kami mencari-cari kamu sejak tadi,” terdengar suara Bapak yang begitu kerasnya.
Tanpa sengaja anak burung yang sedari tadi kupegang, terjatuh saat aku hendak membenahi letaknya. Mungkin karena tanganku gemetaran lapar, makanya aku jadi gugup dan akhirnya apes.
“Nah, apa itu pak?” Teriak Kak Vera saat melihat ada sesuatu yang jatuh, lalu dia sorotkan senternya ke arah suara tadi.
“Ah, ternyata anak burung Pak,”katanya sambil melihat ke atas pohon.
Karena feeling sang Kakak kuat, kalau ada burung atau anak burung, ini biasanya ada Dewi, begitu Kak Vera mengingatnya.
“Pak … Bapak! Dewi Pak, di atas pohon!” teriaknya.
“Astaghfirullah Nak, ngapain saja kamu di sini? kami dari tadi mencarimu. Kenapa nggak pulang sayang?” tanya Bapak bertubi-tubi.
“Wi, takut pulang, Pak … makanya Wi di sini aja.”
“Lho, emangnya kenapa Nak? Bapak ‘kan jadi bingung. Siapa yang marah sama kamu Nak?”
“Nasi yang buat Bapak siang tadi, nggak jadi Wi antar Pak, karena sudah habis dimakan anjing,” jawabku santai. “Wi takut kena marah Ibu, Pak,”
“Ooo … Dasar anak nakal! Itulah kalau disuruh nggak pernah bener!” Kakakku memakiku sepuasnya.
“Sudah-sudah, sekarang kita pulang yuk! ajak Bapak. “Malu sama orang-orang Nak.”
Aku tak sedikitpun menangis walau sedikit takut. Kak Vera terus aja merepet sepanjang jalan.
“Awas ya, kalau besok di ulang lagi, malas Kakak cari kamu!”
“Siapa suruh Kakak cari aku!”
“Dasar, bandel! Bikin repot semua orang aja!”
“Dari pada Kakak, nggak mau di suruh ke ladang,” jawabku tak mau kalah.
“Sudahlah, Nak, malu sama tetangga. Kok ribut aja dari tadi,” kata Bapak menasehati.
“Kak Vera tuh, Pak. Gara-gara Kakak nggak mau ke ladang, akhirnya Dewi lagi, Dewi lagi yang ngantar nasi buat Bapak.”
“Owh, jadi Dewi nyesel nih!” kata Bapak jadi sedikit emosi.
“Bukan begitu Pak, maksud Dewi, kan kita gantian ngantarin nasi buat Bapak. Masa Dewi terus yang harus berpanasan ke ladang,” jawabku membela diri.
“Vera dah bilang kok, sama ibu. Ada PR yang harus Vera selesaikan Pak,” jawab Vera nggak mau kalah.
Tanpa terasa, kami semua sudah sampai di rumah. Setelah mengucapkan terima kasih pada tetangga yang ikut mencariku, Bapak langsung menggandeng aku dan kakak ke dalam.
Begitu sampai di dalam, Bapak langsung marah dan memukul kakiku.
Ternyata sejak tadi Bapak menahan emosi. Hanya saja beliau tidak ingin marah di depan para tetangga. Kulihat wajah ibu yang hanya terduduk diam tanpa suara. Aku makin merasa berdosa. Berharap kena marah juga dari ibu. Ternyata sebaliknya. Kupandangi wajahnya, beliau hanya bilang supaya aku jangan nakal, jangan usil dan jangan membuat orang khawatir. Kalau berbuat salah harus segera minta maaf.
Ibu juga berujar, “Untung tidak terjadi apa-apa Nak, bagaimana kalau ada orang jahat tadi?” sambil membelai kepalaku dan tersenyum. Kemudian beliau cium keningku dan menyuruhku segera mandi dan makan. Begitulah Ibu, Beliau begitu mengayomi hatiku dan selalu tersenyum dengan wajah teduhnya.
Yaa Allah, kerinduan hati ini untuk selalu mengingat tentangmu Ibu. Begitu banyak lagi kenangan indah bersamamumu. Sungguh tak bisa kulupakan semua tentangmu. Ibu, doamu yang biasa kau ucapkan kala pagi hingga petang untukku kini tak akan ada lagi. Hanya doa dalam rindu yang selalu kupanjatkan agar engkau di sana tenang bersama Bapak. Syurga Firdauslah yang pantas untuk membalas semua kemuliaanmu. Sungguh tiada duanya di dunia. Karena engkau bagai mentari yang selalu menyinari hidupku. Kasihmu mengalir sepanjang waktu. Takkan bisa tergantikan dengan apa pun, dan oleh siapa pun.
Bilakah ‘kan kurasakan belaian tanganmu lagi? Dekapan kasihmu yang mesra tak berbatas masih terasa hangat. Nasehatmu yang tak pernah putus setiap saat masih terngiang indah. Tetapi semua itu hanya tinggal di ingatan saja. Sebelum aku bisa membahagiakan dirimu engkau telah pergi meninggalkan dunia fana ini. Maafkan anakmu Ibuku sayang.
Terimakasih Ibu atas segalanya yang tak bisa terucapkan satu persatu dan terurai panjang sepanjang tulus kasihmu. Semoga Allah mempertemukan kita kelak di surga-Nya. Aamiin… Yaa Robbal Alamin.

Sih Yuliawati, sering dipanggil Yuli atau Sih. Lahir 50 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Juli di kota Jakarta. Tinggal di Kabupaten Pelalawan. Bekerja sebagai Guru SDN 006 Pangkalan Kerinci. Telah menerbitkan beberapa buku solo, kumpulan cerpen, antologi cerpen dan puisi. Motto hidupnya adalah ” Indahnya Hidup Dengan Saling Berbagi.”

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan