

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kembali mengunjungi tanah kelahiran saya, Indonesia, Ibu Pertiwi yang selalu saya cintai. Meski beberapa tahun terakhir saya telah berganti kewarganegaraan, Indonesia dan Merah Putih tetap bersemayam di dada. Sebab sya‘biyah — keterikatan batin dengan tanah tumpah darah — adalah fitrah manusiawi yang tak bisa dihapus.
Kepulangan kali ini, selain untuk urusan pribadi dan safari berbagi ilmu serta pengalaman, juga karena saya mendapat kehormatan menerima penghargaan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Karena itu, mayoritas kegiatan saya berpusat pada forum-forum akademik di sejumlah universitas, diselingi beberapa kajian umum sebagai side event.
Tema utama kajian saya berkisar pada “Dakwah dan Islam di Amerika: Peluang dan Tantangan”. Beberapa kuliah umum juga membahas secara terbuka Perang Amerika/Israel melawan Iran dan dampaknya bagi dunia Islam. Bagi saya, kedua isu ini tak terpisahkan karena sama-sama melibatkan negara tempat saya bermukim, Amerika Serikat. Wajar jika banyak yang ingin mendengar informasi first hand tentang apa, bagaimana, dan ke mana arah konflik global yang memanas saat ini.
Saya tidak hendak mengulang isi ceramah-ceramah tersebut. Namun ada satu isu yang berulang kali ditanyakan dan diperdebatkan dengan hangat di berbagai forum: isu “Sunni-Syiah”. Isu ini kembali menguat seiring meningkatnya pamor Iran yang dikenal sebagai negara mayoritas Syiah.
Akar Historis Persoalan
Secara substansi, dua kelompok besar umat ini — Sunni sekitar 85% dan Syiah sekitar 15% — sudah ada sejak wafatnya Rasulullah SAW. Namun perdebatan yang menyentuh sektarianisme keagamaan baru muncul berabad-abad kemudian. Pada masa Rasulullah, sahabat, hingga tabi‘in, istilah “Sunni-Syiah” belum dikenal, meski perbedaan sudah ada.
Awal pengelompokan itu dipicu oleh perbedaan pendapat tentang siapa yang layak menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin umat. Setelah perdebatan panjang — tidak hanya antara pendukung Abu Bakar dan Ali, tetapi juga antara kaum Anshar dan Muhajirin — akhirnya Abu Bakar RA terpilih. Ali RA, yang sempat diusulkan sebagian sahabat, ikut membaiat Abu Bakar.
Poin yang ingin saya tekankan: perbedaan awal bukanlah pada doktrin agama. Tidak ada satu ayat atau hadits yang secara eksplisit mewajibkan memilih Abu Bakar atau Ali. Dalil-dalil yang dipakai hari ini umumnya hasil penafsiran, bahkan diduga ada manipulasi teks untuk menjustifikasi posisi masing-masing. Dengan demikian, perbedaan awal sejatinya bersifat politik, dalam istilah kontemporer.
Pandangan Ekstrem Tanpa Klarifikasi
Dalam perjalanannya, perbedaan politik itu berkembang menjadi entitas keagamaan berlabel Sunni-Syiah. Sejak era sahabat hingga modern, kedua kubu kerap bertikai, bahkan terlibat perang berdarah. Sektarianisme melebar ke seluruh aspek kehidupan: konflik lokal, regional, hingga global. Belakangan, tensi Sunni-Syiah dimanfaatkan pihak luar untuk melemahkan umat.
Situasi diperparah oleh narasi sistematis yang dibangun pihak ketiga untuk memperuncing friksi. Contoh terdekat: rivalitas pengaruh di Timur Tengah antara Saudi dan Iran. Amerika merangkul Saudi dan meminggirkan Iran. Politik divide et impera berulang.
Yang lebih runyam, masing-masing pihak memegang persepsi yang diyakini sebagai kebenaran mutlak. Padahal banyak dari persepsi itu belum diklarifikasi, dan sebagian besar tidak sesuai fakta.
Klarifikasi dari “Tetangga”
Saya mempelajari Syiah sejak kuliah di Pakistan. Salah satu mata kuliah membahas kelompok-kelompok yang disebut “sesat”, termasuk Asy-Syi‘iyah karya Ihsan Ilahi Zahir. Kesimpulannya: Syiah sesat, berbahaya, bahkan musuh Sunni.
Jauh sebelum itu, saya sudah mendengar tiga “cerita” yang cukup buruk tentang Syiah: satu, Syiah mempraktikkan nikah mut‘ah. Dua, Syiah mengutuk dan mengafirkan sahabat selain Ahlul Bait. Tiga, Syiah memiliki Al-Qur’an yang berbeda.
Kebetulan Jamaica Muslim Center, masjid tempat saya menjadi Imam dan Direktur, bertetangga dengan komunitas Muslim Syiah. Masjidnya besar, terbuka, dan terletak di jalur utama menuju Bandara JFK. Imamnya, Syekh Fadhel Al-Sahlani, ulama kharismatik asal Irak, adalah teman dekat saya.
Beberapa tahun lalu, saat terjadi kekerasan terhadap warga Syiah di Indonesia, saya mengunjunginya untuk menegaskan bahwa peristiwa itu tidak mewakili wajah Islam Indonesia maupun Sunni. Beliau sangat memahami. Dalam kesempatan itu, saya juga pergunakan mengklarifikasi tiga hal yang telah lama mengganjal di benak saya:
Pertama, nikah mut‘ah. Beliau menjawab: “Konsep itu memang ada dalam mazhab Syiah, tetapi bukan praktik umum. Ada yang menyalahgunakan, namun mayoritas tidak.”
Kedua, sikap terhadap sahabat. “Memang ada kelompok kecil Syiah yang radikal dan mengutuk sahabat, sebagaimana ada kelompok kecil Sunni yang mengafirkan sesama. Kami tidak mengutuk dan mengafirkan sahabat Nabi. Kami hanya meyakini Ali yang seharusnya dibaiat sebagai penerus Rasulullah.” Saya menanggapi: “Itu perbedaan pandangan politik, bukan akidah.” Beliau tersenyum.
Ketiga, tuduhan Al-Qur’an berbeda. Beliau menggandeng tangan saya, mengajak berkeliling ke rak-rak mushaf di masjidnya, lalu berkata: “Jika Anda menemukan satu mushaf di sini yang berbeda dari mushaf Anda, saya akan membakarnya di depan Anda.”
Intinya, banyak asumsi yang berkembang di masyarakat dan dianggap kebenaran, padahal belum pernah diklarifikasi. Narasi pihak luar juga sengaja memupuk perpecahan itu.
Lalu bagaimana dengan isu taqiyah? Apakah Syiah menjadikan “kebohongan” sebagai bagian dari agama? Prinsip kita: nahkumu bizh-zhawahir — kita menghukumi yang tampak. Yang tersembunyi serahkan kepada Allah.
Dua Catatan Penutup
Pertama, kalaupun antara Sunni dan Syiah terdapat perbedaan prinsipil dalam agama, biarlah itu menjadi bahan diskusi dengan adab yang benar. Pada akhirnya semua akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah: “Maka Allah akan memberitahukan kepada kalian tentang apa yang kalian perselisihkan.”
Kedua, isu terbesar umat hari ini di tengah gejolak dunia adalah perpecahan. Meski berbeda pandangan keagamaan, Sunni dan Syiah memiliki common ground: membela saudara-saudara yang dizalimi, khususnya di Palestina. Sunni-Syiah sepakat bahwa kebenaran dan keadilan adalah nilai yang harus ditegakkan bersama.
Diakui atau tidak, hari ini negara yang paling berani menghadapi kekuatan Zionis dan pendukungnya adalah negara yang mayoritas berpaham Syiah. Bukankah itu cukup menjadi alasan untuk bergandengan tangan dan membangun kesatuan?
Ingatlah: umat membutuhkan kebersamaan dan persatuan, bukan kesamaan dan penyeragaman. Unity, not Uniformity.
New York, 1 Juni 2026
*Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation