Bismillah,
Hari Jadi ke-514 Bengkalis bukan sekadar penanda bertambahnya usia suatu daerah, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang jati diri masyarakat Melayu. Dalam tradisi Melayu, perayaan tidak berhenti pada kemeriahan seremoni, tetapi menjelma menjadi kenduri adat, yakni ruang spiritual, sosial, dan kultural tempat manusia merajut hubungan dengan Allah Swt., sesama manusia, alam, dan warisan leluhur. Kenduri adat merupakan metafora kehidupan: semakin banyak tangan yang mengangkat dulang, semakin ringan beban bersama; semakin banyak hati yang duduk semeja, semakin kukuh persaudaraan. Pepatah Melayu mengajarkan, Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Usia 514 tahun bukan sekadar hitungan kronologis bagi Bengkalis. Angka itu merupakan jejak panjang perjalanan sebuah negeri yang tumbuh di persimpangan peradaban Selat Melaka. Negeri ini dibangun bukan hanya oleh kekayaan alam, tetapi juga oleh kekuatan adat, agama, bahasa, dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Oleh sebab itu, rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-514 Bengkalis yang berlangsung pada 24 s.d. 30 Juli 2026 tidak hanya menghadirkan pesta rakyat, melainkan menghadirkan kegiatan kenduri adat, yakni ruang kebudayaan yang mempersatukan sejarah, nilai, dan harapan masa depan.
Dalam pandangan Melayu, kenduri bukan sekadar jamuan makan. Kenduri merupakan simbol syukur kepada Allah Swt., pengikat persaudaraan, sarana musyawarah, serta media memperkuat solidaritas sosial. Tenas Effendy (2004:17) menjelaskan bahwa adat Melayu berfungsi sebagai pedoman hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitarnya. Oleh karena itu, setiap kenduri selalu mengandung dimensi religius, sosial, dan budaya secara bersamaan. Selanjutnya, falsafah Melayu menyebutkan, Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa seluruh aktivitas budaya memperoleh legitimasi moral dari ajaran Islam. Adat tidak dipahami sebagai tradisi yang beku, melainkan sebagai sistem nilai yang menjaga marwah masyarakat.
Tema Kenduri Adat tahun ini, Menyulam Kasih, Menekat Sayang, Menyemai Keberagaman merupakan metafora yang sangat khas dalam kebudayaan Melayu. Menyulam kasih menggambarkan usaha menyatukan kembali benang-benang persaudaraan. Menyulam memerlukan ketelitian, kesabaran, dan keikhlasan. Demikian pula membangun masyarakat. Ia tidak lahir dari pertentangan, melainkan dari kesediaan saling memahami.
Menekat sayang mengandung makna memperindah persaudaraan dengan benang-benang emas kebajikan. Dalam seni tekat Melayu, setiap sulaman dilakukan secara teliti agar menghasilkan keindahan yang tak lapuk dek hujan dan tak lekang dek masa. Demikian pula kasih sayang dalam kehidupan sosial harus dipelihara melalui sopan santun, musyawarah, dan saling menghormati.
Sementara itu, menyemai keberagaman menunjukkan bahwa Bengkalis dibangun oleh berbagai latar budaya yang hidup berdampingan. Benih yang disemai hari ini akan menjadi pohon kerukunan pada masa depan. Nilai ini sejalan dengan konsep integrasi sosial yang dikemukakan Koentjaraningrat (2009:146) bahwa kebudayaan merupakan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang memungkinkan masyarakat hidup secara harmonis.
Makna tersebut tampak dalam keseluruhan rangkaian kegiatan HUT Bengkalis yang diatur dalam senarai acara. Senandung Negeri Bertuah melalui Sayembara Mendodoi Anak merupakan simbol pendidikan karakter sejak buaian. Dodoi Melayu bukan sekadar lagu pengantar tidur, melainkan media pewarisan bahasa, doa, kasih sayang, dan akhlak. Dalam masyarakat Melayu, pendidikan dimulai sejak seorang anak berada di pangkuan ibunya.
Melengah Malam (Car Free Night) memperlihatkan jalan sebagai ruang perjumpaan sosial dan ruang pasar rakyat. Jalan yang biasanya dipenuhi kendaraan berubah menjadi ruang silaturahmi. Inilah bentuk nyata modal sosial masyarakat yang dibangun melalui interaksi, keakraban, dan kebersamaan. Nilai keberagaman semakin kuat melalui Gelanggang Corak Budaya, yang menghadirkan pertunjukan paguyuban Tionghoa dan Jawa. Kehadiran berbagai etnis memperlihatkan bahwa identitas Melayu tidak dibangun melalui penolakan terhadap budaya lain, melainkan melalui kemampuan merangkul perbedaan. Seperti dikatakan Raja Ali Haji (1847/2005:5) dalam Gurindam Dua Belas, kemuliaan suatu bangsa terletak pada keluhuran budi dan adabnya.
Keberagaman Bengkalis tercermin dalam Gelanggang Corak Budaya melalui pertunjukan paguyuban Tionghoa dan Jawa. Tradisi Melayu sejak dahulu tidak dibangun atas semangat meniadakan perbedaan, tetapi mengelolanya menjadi harmoni. Falsafah di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung mengajarkan penghormatan terhadap adat setempat tanpa menghilangkan identitas budaya masing-masing. Melayu memandang perbedaan sebagai anyaman yang memperindah tikar kehidupan, bukan sobekan yang harus dipisahkan.
Menongkah Kelam, yang menampilkan permainan tradisional rakyat, mengingatkan bahwa permainan bukan sekadar hiburan. Permainan tradisional adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan kejujuran, kerja sama, keberanian, disiplin, dan sportivitas. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi masyarakat yang berkarakter. Melalui Menongkah Kelam, permainan tradisional rakyat dihadirkan kembali sebagai media pendidikan karakter. Dalam masyarakat Melayu, permainan bukan sekadar hiburan, melainkan latihan membangun watak. Anak-anak belajar menang tanpa menyombongkan diri dan kalah tanpa kehilangan harga diri.
Pada sisi lain, ajang Selaksa Kata Seniman Negeri memperlihatkan bahwa sastra merupakan penjaga nurani masyarakat. Pembacaan puisi oleh Datuk Syaukani Al Karim, Hang Kafrawi, Musa Ismail, dan Jefri Al Malay, bersama pementasan Hikayat Orang Kecik oleh Komunitas Pemuda Sastra dan teater bangsawan oleh Teater Matan, menghadirkan suara kebudayaan yang terus mengingatkan masyarakat tentang identitasnya. Dalam tradisi Melayu, kata-kata adalah amanah. Sebab itu dikenal ungkapan, Bahasa menunjukkan bangsa, budi menunjukkan marwah.
”Helat Selaksa Kata Seniman Negeri, tentulah sangat dan patut diapresiasi. Ianya menjadi laman bagi sastrawan, penyair kabupaten Bengkalis untuk berekspresi. Saya selalu yakin bahwa sastra tidak hanya melulu tentang teks yang dibacakan di ruang-ruang sunyi tetapi adakalanya sastra juga dikemas menjadi seni pertunjukan yang juga layak untuk ditawarkan kepada penonton dari atas panggung “megah“. Sebagai seni pertunjukan, tentu puisi yang dibacakan juga diupayakan memberikan efek daya gugah sebagaimana salah satu dari fungsi sastra tersebut.
Saya kira, begitulah helat yang telah diselenggarakan LAMR Kabupaten Bengkalis, Selaksa Kata Seniman Negeri dalam rangkaian perayaan Milad Kab. Bengkalis yang ke-514. begitulah capaiannya yang dirasakan. Dan saya kira, di alam Melayu, hal yang begini, tidaklah hal baru. Ada banyak dahulunya tradisi lisan yang dipertontonkan di depan khalayak, yang juga mendapat tempat di hati masyarakat. Ini saya kira sebagai penanda, bahwa peristiwa selaksa kata ini patut dipertahankan, tidak hanya karena ada agenda milad, tapi di Bengkalis khususnya harus punya agenda khusus untuk “Panggung Sastra Bengkalis” , insyallah.
Maka, sekali lagi, tahniah dan syabas LAMR Kabupaten Bengkalis telah menyelenggarakan selaksa kata seniman negeri, mudah-mudahan ke depan, laman ini lebih bisa membuka ruang yang lebih lebar lagi bagi penyair dan sastrawan lainnya untuk sama-sama bisa membacakan karya sastra masing-masing, yang tetap dikemas dalam seni pertunjukan yang bagus,” demikian komentar Penyair Asia Tenggara, Jefri Al Malay.
Selanjutnya, Hang Kafrawi menegaskan bahwa Selaksa Kata Seniman Negeri yang ditaja LAM Riau Kabupaten Bengkalis merupakan upaya memperkokoh kesejatian negeri ini sebagai negeri Melayu yang menjulang identitas. Karya seni yang dihasilkan oleh para seniman berangkat dari nilai-nilai di mana karya itu dihasilkan. Seniman ujung tombak kebudayaan dalam mempertahankan sari pati kebudayaan. Dengan Selaksa Kata Seniman Negeri ini menjadi jalan semangat bagi generasi hari ini mencintai dan menjaga negeri seperti mencintai dan menjaga diri sendiri.
Hal serupa pun dirasakan oleh Komunitas Pemuda Sastra. ”Bagi saya, kegiatan Selasa Kata Seniman Negeri yang dilaksanakan pada 25 Juli 2026 dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-514 Bengkalis merupakan acara yang luar biasa. Kegiatan ini berhasil mempertemukan para sastrawan lintas generasi, sekaligus menyuguhkan berbagai pementasan impresif dari penyair senior hingga kelompok teater. Pementasan seni berbasis sastra dan teater seperti ini diharapkan dapat kembali diselenggarakan secara berkala demi menyemarakkan iklim kesenian di Bengkalis. Momen ini juga memantik semangat bagi komunitas kami, Pemuda Sastra Bengkalis (PUSAKA), untuk terus konsisten menghidupkan dan meramaikan dinamika sastra di tanah Bengkalis ini,” demikian kata Ikhwanul Sohib.
Selanjutnya melalui Syarahan Adat bertema Junjung Adat, Junjung Marwah: Sejarah, Warisan, dan Jatidiri Melayu, masyarakat diajak memahami bahwa adat bukan sekadar upacara, tetapi sistem etika. Tenas Effendy (2004:31) menegaskan bahwa tujuan utama adat ialah memelihara marwah manusia melalui budi pekerti, rasa malu, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai itu kemudian diperkukuh melalui Syarahan Adat. Adat Melayu bukan kumpulan upacara seremonial, melainkan sistem nilai yang menata hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Tenas Effendy (2004) menegaskan bahwa adat Melayu adalah pedoman hidup yang berfungsi menjaga marwah, akhlak, dan keseimbangan sosial. Adat memperoleh kekuatan moral karena berpaut erat dengan ajaran Islam.
Nilai penghormatan diwujudkan dalam Puan Sanjungan Negeri, yang menampilkan tarian, syair, puisi, serta pemberian penghargaan kepada tokoh perempuan Bengkalis. Dalam perspektif Melayu, penghargaan merupakan bentuk penghormatan terhadap ilmu dan jasa. Sebab masyarakat yang menghargai budayawannya akan lebih mudah menjaga keberlanjutan kebudayaannya.
Suasana kebersamaan kemudian dilanjutkan melalui Gaung Lajang Melayu, ketika musik menjadi bahasa universal yang mempertemukan lintas generasi. Lagu-lagu Melayu mengandung pesan moral, sejarah, dan cinta tanah air yang diwariskan melalui irama. Menjelang puncak acara, masyarakat melaksanakan Ziarah Kubur. Tradisi ini mengingatkan bahwa setiap generasi berdiri di atas jasa generasi sebelumnya. Mengingat leluhur berarti mengingat akar sejarah, sedangkan melupakan sejarah sama artinya dengan kehilangan arah masa depan. Sekaligus juga mengingatkan diri akan kematian. Setiap yang bernyawa pasti mati.
Prosesi Buka Lawang Kenduri Adat menjadi lambang dibukanya pintu keberkahan, persaudaraan, dan rezeki bagi seluruh masyarakat. Lawang bukan hanya pintu fisik, tetapi juga pintu hati, pintu persaudaraan, dan pintu rezeki. Siapa pun yang datang diterima sebagai tamu yang dimuliakan. Dalam budaya Melayu, memuliakan tamu sama artinya memuliakan diri sendiri. Dalam budaya Melayu, pintu yang terbuka melambangkan hati yang terbuka. Akhirnya seluruh rangkaian bermuara pada Kenduri Adat, tempat semua lapisan masyarakat duduk bersama tanpa membedakan kedudukan sosial. Di atas hamparan hidangan, manusia dipersatukan oleh rasa syukur, persaudaraan, dan harapan akan masa depan negeri.
Puncaknya adalah Kenduri Adat, suatu perjamuan budaya yang mengandung makna jauh melampaui hidangan yang tersaji. Duduk bersila dalam satu hamparan menjadi lambang kesetaraan; tidak ada perbedaan derajat di hadapan adat dan kemanusiaan. Semua berkumpul dalam semangat menyulam kasih, menekat sayang, dan menyemai keberagaman. Menyulam kasih berarti merangkai hubungan yang mungkin pernah renggang. Menekat sayang ibarat menyulam benang emas pada kain kehidupan agar persaudaraan semakin kukuh. Menyemai keberagaman bermakna menanam benih toleransi agar tumbuh menjadi pohon kerukunan yang menaungi semua. Kenduri Adat dalam rangka HUT ke-514 Bengkalis sesungguhnya merupakan perayaan nilai. Ia adalah ruang tempat masyarakat belajar kembali tentang arti kasih sayang, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, dan penghargaan terhadap keberagaman. Selama adat tetap dijunjung, selama musyawarah tetap diutamakan, dan selama budaya terus diwariskan kepada generasi muda, Bengkalis akan tetap berdiri sebagai Negeri Junjungan yang kukuh di tengah perubahan zaman. Sebagaimana tunjuk ajar Melayu mengingatkan, bila adat dijunjung tinggi, marwah negeri tetap terpuji; bila kasih disulam bersama, negeri sentosa sepanjang masa.
Secara antropologis, kenduri merupakan mekanisme integrasi sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Melalui makan bersama, doa bersama, seni bersama, dan musyawarah bersama, masyarakat membangun kepercayaan sosial (social trust) yang menjadi modal utama pembangunan daerah. Bengkalis telah membuktikan selama lebih dari lima abad bahwa kemajuan tidak cukup dibangun oleh infrastruktur dan ekonomi semata. Negeri ini tumbuh karena masyarakatnya memelihara adat, menjunjung agama, menghormati keberagaman, serta menjaga marwah. Seperti anyaman tikar pandan, setiap helai memiliki warna yang berbeda, tetapi justru perbedaan itulah yang menghasilkan kekuatan.
Oleh sebab itu, Kenduri Adat HUT ke-514 Bengkalis hendaknya tidak dipahami hanya sebagai agenda tahunan, melainkan sebagai ikhtiar merawat marwah, memperkukuh persaudaraan, serta mewariskan nilai kepada generasi penerus. Selama masyarakat masih duduk semeja, bermusyawarah sepakat, menghormati adat, dan memuliakan keberagaman, selama itu pula Bengkalis akan tetap menjadi Negeri Junjungan yang kukuh berakar pada tradisi dan teguh melangkah menuju masa depan. Sebagaimana tunjuk ajar Melayu mengingatkan, “Bila adat dijunjung tinggi, marwah negeri tidak akan tercela; bila kasih disulam bersama, negeri akan sentosa selamanya.” Itulah hakikat kenduri adat: bukan sekadar perjamuan, melainkan perayaan nilai yang menghidupkan jiwa sebuah negeri.
Alhamdulillah.
Bengkalis, Kamis, 15 Safar 1448 H / 30 Juli 2026.
Daftar Pustaka
1. Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
2. Raja Ali Haji. 2005. Gurindam Dua Belas. Penyunting Virgina Matheson Hooker. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. (Karya asli 1847).
3. Tenas Effendy. (2004). Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.