Meminta Jabatan adalah Aib: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

38

Di sebuah rapat Zoom Meeting bersama Mbak Helvy saya sempat kaget saat baru masuk ruang Zoom. “Dik, kamu calon ketum FLP ya?” kata Mbak Helvy tanpa basa-basi. Hah, saya tentu saja tertawa. Saya sampaikan itu hanya gosip. Buru-buru saya WA Daeng Gegge, ini isunya dari Daeng kan, sampai-sampai Mbak Helvy tau, ini sungguh memalukan buat saya, kata saya ke Daeng yang disambut dengan tawa ngakak beliau.

Sebelumnya pun saya mendapat japrian beberapa orang dari Sulsel, Jatim, dan teman-teman di Jawa lainnya soal ini, sungguh saya bilang ini isu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Tidak, saya tidak ingin melanjutkan tentang gosip itu. Namun, saya hanya ingin berbagi hal terkait dengan kepemimpinan.

Bagi seorang aktivis yang memahami jabatan sebagai amanah dari Allah, maka meminta jabatan adalah aib. Jabatan sebagai pemimpin adalah ibarat dua kaki, sebelah di surga dan di sebelahnya neraka. Kita tidak pernah tahu kaki kita akan berat ke sebelah mana.

Dulu sekali, saya pernah mengikuti kajian kepemimpinan bersama Buya Mahyeldi (Gubernur Sumatra Barat), beliau mengatakan, posisinya hanya ada dua, kalau saya tidak di rumah dinas ini, saya mungkin bisa di Polda atau KPK. Itu perumpaan nerakanya dunia yang ada di Indonesia.

Maka amanah itu berat. Merasa sok amanah tentulah aib yang semestinya tidak boleh dalam jiwa seorang aktivis.

Jika Kita Menginginkan Jabatan

Bagi saya pribadi, tidak boleh seseorang menginginkan jabatan atau posisi dalam amanah kepemimpinan. Ia akan punya ambisi pribadi. Ambisi pribadi itulah yang akan merusak.

Dalam memproses beberapa kali kepemimpinan di FLP dan organisasi lainnya, salah satu pertimbangan besar memilih ketua adalah kita lihat, apakah dia punya ambisi pribadi atau tidak. Apakah dia seorang yang gila panggung atau tidak, apakah dia bisa dipercaya mengemban amanah orang banyak tanpa mendahulukan kepentingan pribadinya atau tidak? Apakah dia taat aturan organisasi? Apakah dia berkoordinasi dengan sistem dalam mengambil kebijakan? Apakah, apakah?

Demikianlah menjaga pemimpin, agar organisasi tetap awet usianya puluhan tahun. Agar nilai-nilai visi misi kebaikannya tetap terjaga.

Jadi, secara pribadi kita harus menghapus keinginan untuk menjabat. Berada dalam barisan penulis-penulis untuk bekerjasama dalam kebaikan. Apapun dan di manapun posisi kita, tidak ada bedanya di mata Allah. Pikiran kita pada manusia menyebabkan kita sakit hati jika tidak mendapatkan posisi, jika tidak dipandang, jika tidak dihargai oleh manusia.

Tulisan Terkait

ADAKAH : Puisi Datin Sariana

Berita Lainnya

Dulu sekali, sejak dari kampus berorganisasi, saya termasuk yang tidak suka di depan panggung. Saya lebih senang ngurus konsumsi dengan adik-adik, mengurus hal-hal yang tidak terlihat di panggung. Saya senang dengan mereka-mereka yang tulus bekerja tanpa memerhatikan posisi di mana mereka berada. Saya pun ingin seperti itu.

Jika Kita Diminta untuk Menjadi Pemimpin

Jika kita baik, tanpa harus meminta pun orang akan datang meminta kita sebagai pemimpin. Apabila datang permintaan kepada kita untuk maju sebagai pemimpin, maka jangan menolak amanah itu. Aib meminta jabatan, aib juga menolak jika kita benar-benar dibutuhkan.

Dulu di tahun 2022 saat sebuah tragedi paling memilukan terjadi dalam hidup saya, saya langsung menghubungi beberapa orang tertinggi jabatannya di FLP. Saya katakan, saya ini penuh dosa, banyak salah, banyak kurang, saya mohon kebijaksanaannya untuk posisi saya di Kaderisasi FLP. Permintaan saya ditolak, walau berat saya tetap melanjutkan amanah.

Lalu datang lagi seseorang menghubungi meminta saya menjadi koordinator sebuah lembaga perempuan di Riau, saya sampaikan kondisi saya. Namun, mereka katakan tidak masalah. Berat saya menerimanya, tetapi amanah tetap saya jalani.

Maka teman-teman, dengan segala kerendahan hati, jika amanah itu datang kepada kita dan kita merasa tidak mampu untuk itu, sampaikanlah kondisi itu secara jujur dan transparan.

Jika kita merasa mampu, maka aib pula untuk menolaknya. Saya sangat kecewa jika di sebuah pemilihan ketua FLP, ada orang yang kita harapkan bisa maju sebagai pemimpin, tetapi dia benar-benar menolak. Dia menolak amanah dakwah padanya, sebab bagi saya menolak amanah dakwah adalah aib.

Seberat apapun dikerjakan dulu, jika tidak mampu maka barulah kita sampaikan pada yang berwenang.

Wallahu alam, semoga Allah beri kita petunjuk dalam kebaikan.

Lubuk Batu Jaya, 14 Maret 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan