Puisi : 1. Mencari Megat, 2. Penyengat 2019 Karya Husnu Abadi

Biodata
HUSNU ABADI Adalah salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia, yang menyatakan HPI adalah 26 Juli. Pada 2015, menerima penghargaan Yayasan Sagang (ANUGERAH SAGANG)  kategori Seniman/Budayawan Pilihan Sagang. Sebelumnya, 2014, menerima Z. Asikin Kusuma atmadja Award dari Perhimpunan Penulis Buku Hukum Indonesia (ketua Prof. Dr. Erman Raja gukguk S.H.), di  Pascasarjana UI Jln. Salemba, Jakarta.   Pada 2007, menerima penghargaan Seniman Budayawan Pilihan Lingkaran Seni Drama DuaTerbilang (LDT) Universitas Islam Riau. 

Lautan Zikir (UIR Press 2004), merupakan kumpulan puisi tunggalnya yang ketiga setelah Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) dan Lautan Melaka (UIR Press, 2002), Lautan Rinduku, Taj Mahal (2020), sedangkan Di Bawah Matahari, 1981 dan  Matahari Malam Matahari Siang, 1982, ditulisnya bersama Fakhrunnas MA Jabbar. Buku eseisastra:  Ketika Riau, Aku Tak Mungkin Melupakanmu (UIR Press, 2004), serta Leksikon Sastra Riau(UIR Press-BKKI Riau, 2009) bersama M. Badri. Kini masih menjabat Ketua BKKI (Badan Kerjasama Kesenian Indonesia) Provinsi Riau Dilahirkan di Majenang,  1950, dan sejak 1985 menjadi pensyarah pada Fakultas Hukum UIR dengan jabatan akademis terakhir Associated Professor bidang Hukum Tata Negara. Alamat: Jln. Kelapa Gading 20, Kel. Tangkerang Labuai, Pekanbaru-Riau. (E-mail :mhdhusnu@law.uir.ac.id dan  HP 0812 753 7054).

Husnu Abadi
MENCARI MEGAT


Bertahun Aku mengubur
Kerinduan yang mendekat 
Keras dan degilmu yang menyengat 
Memberi debar dunia itu kembali
Ketika semuanya  tak bisa berkata
Kezaliman  harus dibayar dengan tunai
Aku merindu begitu rapat
Engkau menentang begitu lantang
Melawan tradisi yang melawan zaman
Oh Megat Dimanakah kini engkau bersembunyi?
Zaman ini memang zamanmu
Karena kezaliman hari ini bukan lagi karena hanya sebiji nangka

  
Bintan  2019


Husnu Abadi
PENYENGAT 2019


Aku  berjalan diatas gelombang dan merapat di dermaga tua.
Sepanjang gelombang kudengar
seribu gurindam yang dinyanyikan para  syuhada.
Pelan dan menghanyutkan. 
Ada suara azan di pagi yang  gelisah.
Dimanakah desir laut para khatibin itu. 

Masih adakah ?
Peziarah dari segala penjuru merayap kesini.
Mencari maruahmu. 
Dimanakah engkau sembunyikan?
Semuanya benderang karena semuanya  telah diwariskan untuk mu. 
Jadi  milikmu. Ya milikmu.
Wak Atan yang datang kemudian bersenandung.
Merenung . 
Duniapun tak lagi murung.   
Karena melihat bulan purnama yang bangkit dari peraduannya. 
Dari  sebelah timur. 
Penyengat pun tersenyum.       

Penyengat 2019

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan