Kesumbo Ampai, 15 Juni 2023
Program Studi Tadris IPS UIN Sultan Syarif Kaim Riau melaksanakan kegiatan praktik lapangan ke Suku Sakai Desa Kesumbo Ampai Kecamatan Batin Solapan Kabupaten Bengkalis, Riau. Kegiatan diikuti oleh 68 mahasiswa semester 6 dan didampingi oleh 4 orang dosen yakni Dr. Sukma Erni, MPd., Emilia Susanti, M.Pd., Ardhi Yulis, M.Pd dan Yanuari Cristi, M.Pd. Dr. Sukma Erni M, Pd selaku dosen pembimbing praktik lapangan menyampaikan tujuan dari kegiatan tersebut untuk mengenal lebih dekat bagaimana kehidupan masyarakat, sosial budaya, dan kesenian serta kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat Suku Sakai. “Harapannya melalui kegiatan ini mahasiswa memperoleh pengalaman terkai tradisi dan kehiduapan Suku Sakai ungkap beliau”.
Kedatangan rombongan mahasiswa Tadris IPS tersebut disambut hangat oleh Bapak Rasyid yang merupakan Tungkek atau Pembantu Batin di Desa Kesumbo Ampai. Dalam kata sambutannya beliau menyampaikan terimakasih banyak dan sangat senang dengan kedatangan rombongan praktik lapangan mahasiswa Tadris IPS. Beliau juga manyampaikan salam dan permohonan maaf karena ketika kedatangan rombongan ketua batin suku sakai tidak berada di tempat. Menurut Tokoh Sakai sekaligus aparat desa Suku sakai terbanyak berada di wilayah berada di wilayah desa Kesumbo Ampai. Rumah adat berbentuk rumah panggung merupakan kekayaan budaya bagi suku sakai. Tempat itu berfungsi sebagai museum karena berisi beragam peralatan dan peninggalan suku sakai, seperti foto kehidupan masyarakat suku sakai tempo dulu, alat musik, peta tanah adat, hingga keris kuno.
Selain melihat dan mempelajari Rumah adat dan isinya pada kegiatan praktik lapangan berlangsung mahasiswa/i diajak untuk berkeliling untuk berbincang langsung dengan masyarakat asli suku sakai desa Kesumbo Ampai. Banyak hal unik yang dijumpai dan didiskusikan langsung dengan masyarakat suku asli.
Tokoh tua Sakai, Atuk Guntur berumur sekitar 73 tahun memperlihatkan Baju kulit kayu Suku Sakai yang terbuat dari kayu ’Pudu’. Kayu ini menurut Atuk Guntur sudah sulit ditemukan. Membuatnya pun tidak mudah, karena kayu mengandiung getah yang dapat merusak kulit sehingga harus direndam terlebih dahulu selama 3 hari baru bisa diolah. Begitu pula dengan makanan orang Sakai ’mengalo mesik’ dibuat dari ubi racun ”ubi gajah” . Membuatnya membutuhkan waktu lebh dari seminggu ungkap nenek Sakai yang sudah berumur sekitar 80 tahun. Ubi harus direndam dalam air mengalir selama beberapa hari baru bisa diolah samapai menjadi bahan pangan yang tahan berbulan-bulan. “Mengalo merupakan makanan pokok kami dulunya, namun seiring waktu dikarenakan ubi racun sudah sulit ditemukan dan ubi racun juga sudah mulai diganti dengan beras. Mengalo rasanya enak, yang terbuat dari ubi racun yang diolah dan bisa tahan la” ucap Rubiah warga suku sakai desa Kesumbo Ampai.
“Kegiatan praktik lapamgan ini sangat bermanfaat untuk kita sebagai mahasiswa, selain menambah pengalaman, kita juga tahu banyak hal tentang adat istiadat suku asli Riau ini. Kemudian mempererat hubungan mahasiswa juga,. Semoga kegiatan praktik lapangan ini mengenal suku dan budaya Riau ini selalu ada untuk menambah wawasan mahasiswa” tutup Rudi Kurniawan salah satu mahasiswa Tadris IPS yang juga pimpinan Himpunan Mahasiswa Program Studi periode tahun 2022-2023
Ditulis oleh Nilma Sovira dibawah bimbingan ibu Sukma Erni