Muara dan Takus Yang Tidak Pernah Ditemukan: Puisi Zainul Dzakwan Arabi

77

Dikabarkan Serindit
Berterbangan di lautan Embun mencari punda-pundi sakti Takus
Yang tidak pernah ditemukan
Hanya suratan dari angin, melengking
Memecah alam jadi syair-syair buta
Jatuh ke muara tempat gajah-gajah melingkar mencari potongan dahaga

Ia yang pernah berkata
Mukim gugur demi puja candi ku bangun
Letih ketah merah darah jadi bata
Pun tangis ku tepis sebab cinta
Demi semalam malang ku sumpah
Agaknya bertahan sampai kita jumpa

Inilah batu pertama, kali terdalam
Terimalah terimalah
Korban rasa ini

Sungai ditabur masam
Orang mulai ramai mencari tangisku, rindu makin tinggi
Bata tertanam jadi pukau, seolah-olah aku tidak pernah mencoba mencari
Kembang harumnya Muara
Yang tidak pernah ditemukan
Punca udara, gerhana yang datangi maut
Sedang tengah ku bangun Takus separuh lebih dulu dari haus
Berputar belalai dan gading mengingatkan bahwa

Terbangun lembah
Tidur dan bercinta di sana

Inilah batu tepi, rangka tengah kali terkuat
Perlukah perlukah
Rasa ini sia-sia

Demi yang tidak pernah dijenguk mata untuk melihat
Kata-kata tidak lagi tersusun bata-bata
Seperti rapinya merayu tentang
Muara dan Takus
Yang tidak pernah ditemukan maksudnya

Percaya, harapan dan doa
Di bawa Serindit kemana-mana
Berputar-putar hingga lupa
Kepada siapa kisah-kisah ini bertempat

Itulah batu ujung, kali sepi dan suci
Inikah inikah
Yang namanya rasa

3 Mei 2024

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan