Office Boy 2025: Cerpen Hendrizon

108

Pagi itu Sinta sedang bekerja menjadi seorang kasir. Dari kejauhan kelihatan Karto sebagai pimpinan salah satu supermarket (Sebut saja Indomaret), turun dari mobil Avanza warna hitam menuju masuk ke ruang kerjanya di lantai II Indomaret tersebut.

“Pagi Bos,” Sapa Sinta kepada Karto pimpinan Indomaret yang sedang memasuki pintu masuk Indomaret menuju meja kerjanya di lantai II.

“Pagi juga Sinta, Si Toni udah masuk kerja apa belum,” sahut Karto
“Sudah…sudah ada di dalam bos,” balas Sinta…..

Karto terus menuju ruang kerjanya di lantai II yang memang dikhususkan untuk seorang pimpinan Indomaret. Karto pun mulai berpikir bagaimana caranya ia bisa memperoleh banyak keuntungan di tahun ini.

Sekarang sudah dipenghujung tahun 2024. Indomaret yang ia pimpin menurut kabarnya selalu saja “Jalan di tempat” alias tak mampu meraih keuntungan. Dari tahun ke tahun keuntungan yang ia peroleh selalu saja tak bisa diandalkan. Keuntungan dari hasil usaha penjualan Indomaret miliknya, selalu saja habis untuk berbelanja berbagai jenis yang lainnya pula.

“Mana boleh….Hal ini tak boleh lagi terjadi, sudah hampir 15 tahun Indomaret ini berdiri, tetapi seperti gali lubang dan tutup lubang saja, tak ubahnya seperti sebuah kuburan,” Gumam Karto di dalam hati.

———

Pagi itu Sinta dan Toni sedang sarapan pagi. Sedang enak sarapan pelanggan pun datang. Pelanggan itu masuk ke dalam Indomaret sambil berbelanja barang keperluannya.

“Pagi Buk,” Sapa Sinta kepada pelanggan tadi yang masuk ke Indomaret.
“Pagi juga Mbak,” balas pelanggan tersebut.

Pelanggan itu adalah bos salah satu cafe yang berada di daerah itu. Namanya Mbak Rike.. Rike Cantika. Memiliki body cantik dan seksi, kaya raya dan sudah menjadi langganan tetap di Indomaret tersebut. Biasanya Rike Cantika belanja dengan jumlah banyak dalam setiap 2 kali pada satu bulan.

“Silahkan ibu….tumben sendiri pagi ini,” Tanya Sinta.
“Ahhh..Sengaja sambil belajar hidup mandiri,” Jawab Rike Cantika

Rike Cantika pun memborong barang keperluan belanjaan cafe nya. Pagi itu total belanjanya hampir 10 Juta.

“Total semuanya sepuluh juta ibuk,” Jelas Sinta duduk di kursi kasir….
“Oke ini kartu kredit saya, bisa gesek saja ya,” Rike menyerahkan kartu kreditnya kepada Sinta.

Setelah melakukan pembayaran, Rike Cantika pun keluar dari Indomaret membawa barang belanjaannya. Sambil menjinjing tas belanjaan di kiri dan kanan, Rike Cantika dibantu oleh Toni temannya Sinta untuk membawakan barang belanjaan buk Rike menuju mobil sedan milik Rike Cantika.

“Terima kasih Toni,” ucap Rike sambil mengeluarkan uang Rp. 50.000 untuk diberikan kepada Toni sambil menyetir mobil sedan merahnya berangkat pulang ke rumah..
“Sama-sama ibuk…. sehat selalu dan sampai kembali lagi,” teriak Toni.

———-

Karto sebagai seorang pimpinan Indomaret itu pun terus berpikir. Memang tidak mudah baginya untuk merubah keadaan, terlebih lagi dia sudah mendapat teguran keras dari atasan langsungnya di pusat untuk bisa mendatangkan profit besar di tahun 2025. Dari biasa-biasa saja menjadi luar biasa, dari gali lobang tutup lobang menjadi untung berkarung-karung bahkan berjuta-juta di bank, dari stagnan menjadi peningkatan dan sebagainya.

Suatu hari Karto tampak lebih serius dan berpikir lebih keras. Ia berpikir dari mengecek jumlah barang masuk dan keluar, Uang perolehan belanja dari konsumen atau pelanggan, bentuk pelayanan oleh karyawannya atau Offiec Boy (OB) kepada konsumen, letak startegis geografis lokasi Indomaret yang ia pimpin, sampai jumlah penduduk yang berada disekitar Indomaret tempat ia berkerja.

“Tak mungkin, tak mungkin… seharusnya setiap tahun aku bisa meraup untung puluhan juta atau mungkin bisa lebih. Kalau memang itu terwujud aku bisa setiap tahun pulang pergi ke luar negeri sebagai bonus yang diberikan oleh pimpinan pusat atau mungkin reward lainnya kepadaku. Ini Imposibble,” ungkap Karto sambil keheranan setelah ia mempelajari seluruh untung dan rugi dari segi ilmu ekonomi.

Suatu hari barang belanjaan untuk Indomaret yang dipimpin si Karto masuk. Jumlahnya hampir satu Truk besar berisikan berbagai macam jenis barang dagangan. Karto yang saat itu hendak keluar dari Indomaret menuju suatu tempat. Dari kejauhan ia mengintip mobil truk itu dan menoleh ke sopir truk itu. Dalam hatinya seperti kenal dengan sopir truk itu. Karto pun membatalkan niatnya dan memanggil OB nya si Sinta

“Sinta…kesini sebentar masuk ke ruangan saya,” Karto menekan tombol suara memanggil Sinta
“Baik Bos,” jawab Sinta.

Sinta pun masuk menuju ruangan pimpinannya Pak Karto yang tadi batal keluar.

“Kenapa Bos panggil saya,” tanya Sinta.
“Iya benar saya memanggilmu, sepertinya stok barang Indomaret kita masuk dan tolong setelah semua barang itu selesai dmasukkan ke dalam gudang, suruh si Sopir itu menghadap saya ya,” Jawab Karto

“Iya Bos .. ada lagi bos,” tanya Sinta Kembali
“Tidak….. itu aja dan jangan lupa catatan barang masuk atau bonnya dilaporkan kepada saya.. seperti biasa ya,” balas Karto.

Setelah seluruh stok barang Indomaret itu selesai dimasukkan ke gudang, Sinta pun masuk menghadapi sang Bos. Sinta membawa Si sopir yang tadi dipesan oleh Karto sambil menyerahkan catatan barang (Bon) belanja di penghujung tahun 2024.

“Bos ini catatan barang dan si Sopir yang tadi bos suruh minta saya menghadap,” ujar Sinta
“Baik dan kamu silahkan keluar,” balas Karto lagi.

Tak lama setelah Sinta keluar, Karto pun mulai berdialog dengan berkata kepada si Sopir itu.

“Sopir apakah benar kamu ini sebagai seorang sopir, sepertinya saya kenal dengan anda,” tanya Karto.
“Kenal dari mana tuan, saya cuma seorang sopir truk saja,” balas si Sopir Truk.

“Bukankah anda ini dulunya pimpinan Indomaret seperti saya.. ya di daerah Konoha gitu. Pak Jaim kalau tak salah nama anda Jaim, baru saya ingat,” Ungkap Karto kepada sang Sopir.
“Kok anda kenal, benar sayalah Jaim Pimpinan Indomaret yang dulu pernah dipecat oleh pimpinan pusat,” jawab jujur Jaim sang Sopir

Sambil mendekati dan berkata Jujur, Karto pun memohon kepada si Jaim sang sopir truk untuk menceritakan kronologis sebenarnya kenapa ia sampai dipecat. Kini Karto dirinya sudah diwarning (diperingatkan) untuk harus bisa berubah dan memperoleh keuntungan yang lebih di awal tahun 2025, andai kata tak bisa berubah akan ia pun akan bernasib sama dengan si Jaim sang sopir itu.

Singkat cerita, akhirnya si Jaim pun menceritakan kronologis dari awal hingga akhir sampai kenapa ia dipecat sebagai seorang pimpinan Indomaret. Si Jaim menceritakan bahwa ada faktor SMS (Senang Melihat Orang Susah) atau (Susah Melihat Orang Senang). Kata si Jaim faktor itu sudah terstruktur dan terorganisir mulai dari pusat sampai di tempat ia bekerja.

“Begitu ya pak Jaim, terima kasih pak Jaim, akan saya rahasiakan informasi dari Pak Jaim ini,” jelas Karto.
“Ya begitulah pak Karto, kini saya hanyalah seorang sopir yang harus menafkahi keluarga melalui pekerjaan ini,” ungkap pak Jaim.

Hari itu Ahad, 29 Desember 2024. Tiga hari kedepan akan memasuki tahun baru 2025 yakni tanggal 01 Januari 2025. Karto sebagai seorang pimpinan Indomaret, mulai merasa khawatir. Dia dihantui surat teguran dari pimpinan pusat yang menghendaki dirinya harus bisa merubah keadaan Indomaret tempat ia bekerja.

Semenjak dari awal bertugas sampai dipenghujung tahun 2024, dia merasakan betul hampir tak ada perubahan dan kemajuan dari marketing Indomaret yang ia pimpin. Surat teguran dan peringatan dari pusat sudah hampir 7 kali ia terima. Jika teguran dan peringatan di tahun 2025 masih ia dapatkan, maka akan memaksanya untuk segera mundur dan angkat kaki sebagai pimpinan sebuah Indomaret.

“Gawat.. gawat.. kacau nih…mau mulai dari mana. Jangan menyerah. Iya ya ya harus dari bawah dulu baru ke atas,” Karto mulai mencari penyebab.

Kalimat itu keluar dari mulut Karto pada pagi Ahad, saat ia duduk di ruang kerjanya. Sesekali dia berdiri dan berjalan mondar mandir ke kiri dan ke kanan. Dia berusaha sekuat tenaga, berpikir keras dan mencari cara yang tepat dan praktis untuk merubah keadaan.

Si Karto pun mulai mengamati CCTV yang ada di dalam ruang kerjanya. Terdapat 14 gambar monitor CCTV yang sedang ia pantau. Monitor CCTV itu memperlihatkan setiap dari gerak-gerik Office Boy Indomaret tersebut dan gerak-gerik menyeluruh tentang keadaan di Indomaret itu.

Sekali dua kali dari monitor CCTV itu tidak terlihat tanda-tanda yang mencurigakan. Setelah sekian lama ia perhatikan, kali ini di setiap pergantian ship dari jam kerja office boy itu, terlihat ada sesuatu yang mencurigakan. Gerakan itu adalah tos dari tangan office boy yang hendak bergantian keluar masuk memulai jam kerja dan juga seketika hendak pulang menggantikan temannya yang lain. Gerak gerik itu seperti layaknya seorang teman dekat layaknya seorang preman yang sedang merahasiakan sesuatu.

“Waduh tos nya itu seperti tak lazim dilakukan. Terdapat secabik kertas kecil yang bisa berpindah tangan. Memang dasar berengsek,” ungkap Karto dalam hatinya…

Ringkas cerita secabik kertas kecil itu bertuliskan 25%. Arti tulisan 25% itu adalah jangan lupa hasil perbelanjaan Indomaret pada hari itu, 25% nya harus bisa dibawak pulang. Caranya semua Office Boy kompak memanipulasikan data hasil belanjaan saat melaporkan hasil kerjanya ke meja atasan.

Sambil terus mengamati monitor CCTV, tak lama berselang Rike Cantika seorang pelanggan setia Indomaret itu pun datang. Ternyata setiap transaksi dari Rike Cantika ini proses pembayaran yang menggunakan kartu kredit itu pun terungkap. Rike Cantika yang kerap berbelanja dengan total 10 Juta, angka itu pun telah dimanipulasi oleh Si Kasir demi meraup keuntungan sendiri. Si kasir ternyata memiliki ilmu IT yang mampu merubah laporan hasil belanja dari belanjaan buk Rike Cantika.

Selanjutnya si Karto pun mulai menelusuri monitor CCTV stok barang yang masuk ke dalam gedung Indomaret. Dia mendapati jumlah stok barang yang masuk, selalu saja terjadi selisih dengan kenyataannya. Selain itu juga, stok barang yang diangkut oleh si sopir ternyata di tengah perjalanan menuju gedung Indomaret diturunkan sebagiannya untuk dibawa pulang oleh oknum OB Indomaret itu tadi. Tapi ketika si Sopir itu adalah pak Jaim seorang mantan pimpinan Indomaret, stok barang tak dapat dikurangi, hanya saja data jumlah barang itu yang dimanipulasikan oleh mereka.

Karto pun mulai mencari tau siapa yang menjadi pimpinan pusat dari Indomaret yang ia pimpin. Pada akhirnya terungkap informasi bahwa pimpinan pusat Indomaret itu adalah orang yang dulu pernah mempunyai jejak kasus sakit hati terhadap Karto. Sekitar 15 tahun yang silam, secara tidak sengaja Karto pernah memaki-maki pimpinan pusat itu. Saat itu dulu mereka pernah sama-sama mengecap pendidikan di bangku sekolah. Rasa sakit hati itu rupanya menjadi dendam lama. Ibarat luka lama yang berdarah kembali. Setelah pada saat pimpinan pusat itu dijabat oleh teman lama Karto, Si Karto pun tak berkutik dibuatnya. Akhirnya upaya Karto untuk mencari suaka hukum pun selalu gagal dan tak ditemui karena semuanya telah terstruktur dan teroganisir..

“Gila gila bagaimana mau merubah keadaan seperti ini, kalau seperti ini tokeh balak pun bisa tumbang,” lagi lagi si Karto berkata di dalam hatinya.

Pada akhirnya Karto pun merenung sejenak sambil memikirkan apa arti dan maksud dari Office Boy 2025 . Lama merenung ia pun berpendapat “Walaupun sudah berada di tahun 2000 an tapi hasil pekerjaan seorang office boy tetap saja sama seperti 2 x 5”.

Dikarenakan si Karto tidak lagi menemukan solusi dan jalan keluar dari permasalahan yang ia hadapi, maka si Karto pun menundurkan diri sebagai pimpinan Indomaret itu, dan kini dia bekerja menjadi seorang konten kreator yang setiap harinya memperoleh keuntungan (profit) yang lebih menjanjikan. Wallahu’alam.

Bengkalis, 28 Januari 2025

Hendrizon. Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979, Pegawai Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pendidikan terakhir SMAN 1 Bengkalis (1995-1998). Selain sebagai Pegawai Humas juga sebagai Anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur.(PERRUAS) Riau. Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021. Beralamat di Jl. Antara Ujung GG.Guru II (Kompleks Guru) Desa Wonosari Kabupaten Bengkalis. No.Hp/WA 0813 6561 9584

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan