

Di Bumi Lancang Kuning, angin tak hanya membawa debu, tapi kadang juga kabar yang memerihkan telinga. Pekanbaru belakangan ini riuh. Bukan karena asap atau banjir, melainkan karena kisah tiga anak muda di kampus UIN Suska—Reyhan, Fara, dan Ferdi—yang kisah asmaranya terserak di media sosial, menjadi santapan publik bak kacang goreng di musim hujan.
Sebagai orang yang tumbuh besar di tanah ini, melihat tragedi asmara “segitiga” atau mungkin “segi-banyak” ini, ingatan saya justru melayang pada dua tembang legendaris yang tak asing di telinga masyarakat Riau. Lagu Ijuk dan Sabda Cinta. Dua lagu ini, jika direnungkan, seolah menjadi naskah takdir yang sedang dimainkan oleh mereka bertiga.
Jebakan Ilusi “Ijuk“
Mari kita bicara soal Ijuk dahulu. Tembang syahdu yang dipopulerkan oleh srikandi kebanggaan kita, Iyeth Bustami, ini memiliki lirik yang tajam menyayat hati. Biduanita asal Bengkalis, Riau itu pernah meratap:
“Yang mana rambut bila bersanding ijuk / Beras taklah sama putih / Yang mana padi mana ilalang / Hampir tak dapat dibedakan…”
Bait ini sungguh mewakili apa yang mungkin dirasakan dalam kemelut Reyhan dan Fara. Di zaman digital ini, kepalsuan dan ketulusan memang setipis kulit bawang. Wajah manis di beranda Instagram, janji manis di pesan WhatsApp, seringkali menipu mata hati.
Kasus di UIN Suska ini adalah manifestasi nyata dari lirik “Kukira sirih akan bertemu pinang, suci kapur kau sajikan, mengapa getah damar kau bawa...” Ada harapan akan komitmen, ada niat “hidup serumah, satu atap sah menikah“, namun yang terjadi justru pengkhianatan. Niat mendulang intan, tapi yang didulang hanyalah angin.
Siapa yang menjadi rambut, siapa yang menjadi ijuk? Dalam kisruh saling tuding dan bukti yang bertebaran, publik pun bingung membedakan mana “padi” (kebenaran) dan mana “ilalang” (pembelaan diri). Namun yang pasti, akhirnya menyakitkan: “Menjadi kaca beling berbisa, kaulah penyebabku luka.“
Tamparan Keras “Sabda Cinta“
Jika Ijuk adalah gambaran lukanya, maka Sabda Cinta adalah nasihat tegas yang terlambat mereka dengar. Lagu duet fenomenal yang mempertemukan vokal emas Iyeth Bustami dan Erie Suzan ini seolah menjadi kitab peringatan bagi siapa saja yang sedang dimabuk asmara.
Ah, andai saja anak-anak muda ini meresapi betul petuah dua diva tersebut sebelum hanyut dalam perasaan:
“Dinding kaca bukannya batu / Janganlah salah menaruh besi / Jatuh cinta jangan terlalu / Bila berpisah hancurlah hati...”
Tragedi Reyhan, Fara, dan Ferdi terjadi karena satu hal: terlalu. Terlalu mencinta, terlalu percaya, atau mungkin terlalu berani bermain api. Sebagaimana peringatan Iyeth dan Erie dalam lagu itu, cinta sifatnya seperti dinding kaca. Indah, bening, memukau, tapi sekali retak, ia tak akan pernah utuh kembali. Salah menaruh “besi” (kepercayaan/emosi) pada tempat yang rapuh, maka pecahlah ia berkeping-keping.
Lirik “Jangan kau hanyut terlalu dalam, cinta bisa membawamu terseret arus derita” seolah menjadi ramalan yang menjadi nyata bagi mereka. Ketika cinta menguasai logika, maka terjadilah apa yang disebut “Hilang hati, hilang akal“.
Hilang akal itulah yang membuat masalah privat menjadi konsumsi publik. Kehormatan yang dalam adat Melayu dijunjung tinggi, kini tergerus oleh validasi sosial media. Derai air mata yang seharusnya membasuh hidup, kini menjadi konten yang tak ada habisnya dikomentari.
Sebuah Renungan
Sebagai orang Riau, kita diajarkan untuk menjaga marwah. “Cinta yang datang jangan dihadang, cinta yang hilang jangan dikenang,” begitu kata lagu itu. Namun, realitanya sulit.
Kasus Reyhan, Fara, dan Ferdi adalah cermin retak bagi kita semua. Bahwa di balik megahnya gedung kampus dan modernnya pergaulan, nasihat-nasihat tua dalam lagu dangdut yang didendangkan Kak Iyeth dan Kak Erie itu tetap relevan sepanjang zaman.
Kepada adik-adik mahasiswa, ingatlah. Jangan sampai kau sangka dia bulan yang bisa digenggam, rupanya hanya bintang nan jauh—tak mungkin disentuh, hanya indah dipandang namun menyakitkan saat dikejar.
Cinta boleh saja menyapa bak keindahan surga, tapi ingatlah, jika salah langkah, “Neraka dunia seakan menjelma“. Jadikanlah kisah mereka pelajaran, bukan sekadar bahan gunjingan. Sebab dinding kaca itu ada di hati kita masing-masing, jangan sampai kita yang memecahkannya sendiri.
Pekanbaru, di bawah langit Kota Bertuah.
Daris Kandadestra