Adalah remang samar boneka beruangku yang dulu kau buang pada angin waktu,
berputar-putar di ngarai waktu.
Ayah, malam ini hanya ada bulan busur
Tak ada hangat yang tinggal, selain bekas kopi di kemeja.
Kalongkalong menyembelih suara, ringisku adalah haram paling kutuk
untuk kau dengar
Pantang lelaki menangis! katamu.
Maka dari lubang masa kecilku, tubuh ini kandas, pecah,
Menjadi gaung sedih yang dikubur kunang-kunang.
Apa yang ada pada hari esok, Ayah?
Barangkali bencana baru, untuk aku sekali lagi pecah
dan kau berjingkak di ujung jalan, menangis
dengan tubuh penuh abu tanah.
Pekanbaru 2021
Eko Ragil Ar-Rahman, kelahiran Pekanbaru 1995. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER), menulis puisi, cerpen, juga novel online. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak lokal dan nasional, juga mengikuti beberapa antologi puisi nasional. Sekarang tengah menggali kembali semangat menulisnya di samping menjadi Freelance Editor dan Content Creator.