Pegiat Literasi Rokan Hulu Belajar Membaca Ekspresif dan Menulis Kreatif Bersama TBM Rumah NiNa

24

Rambah Hilir, Rokan Hulu — Suara-suara ceria terdengar dari Aula SMP Muhammadiyah Rambah Hilir pada akhir pekan, 11–12 Oktober 2025 lalu. Di sana, 25 pegiat literasi dari berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM), rumah baca, dan perpustakaan desa se-Kabupaten Rokan Hulu berkumpul dalam sebuah pelatihan bertajuk “Membaca Ekspresif, Menulis Kreatif.

Kegiatan yang digagas TBM Tumah NiNa (Rumah Baca NiNa) ini didukung oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sebagai upaya penguatan komunitas literasi di daerah.

Ketua panitia, Eva Novita Nurhasanah, menjelaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar ajang belajar, tetapi juga ruang berbagi praktik baik di antara para pegiat literasi.

“Kami ingin para peserta tidak hanya memahami teknik membaca dan menulis, tapi juga bisa menularkannya di komunitas masing-masing,” ujar Eva dengan semangat.

Hari pertama pelatihan diisi dengan materi Membaca Nyaring Ekspresif oleh Evelyne Tanugraha. Peserta diajak mengenali teknik mengubah suara, intonasi, dan ekspresi dalam membaca cerita anak. Buku-buku yang digunakan berasal dari bantuan Perpustakaan Nasional RI sebanyak seribu eksemplar.

Suasana kelas menjadi hangat dan penuh tawa saat peserta mencoba menirukan berbagai karakter suara — mulai dari tokoh anak-anak hingga hewan dalam cerita.

“Awalnya saya malu, tapi ternyata seru sekali. Anak-anak pasti senang kalau kita membaca dengan cara seperti ini,” kata Sutirah dari Taman Belajar Kasih Bunda sambil tersenyum.

Tulisan Terkait

Katastrofe HAM: Catatan Cak AT

Masih di hari yang sama, Reni Juniarti dari FLP Rokan Hulu mengajak peserta mendalami makna bacaan melalui sesi Membaca Pemahaman. Para peserta belajar menggali isi teks, menemukan pesan, dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi.

Hari kedua menjadi puncak kegiatan dengan hadirnya Dr. Bambang Kariyawan Ys sebagai narasumber. Melalui pendekatan interaktif, ia mengajak peserta memahami cara menulis berita, feature, dan esai.

Kelas dimulai dengan kuis Kahoot yang memancing tawa dan semangat kompetitif. Tiga peserta dengan nilai tertinggi mendapat hadiah buku karya Dr. Bambang. Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan praktik menulis.

“Saya baru tahu perbedaan berita dan feature. Menulis esai juga ternyata menyenangkan, apalagi langsung diberi masukan,” ungkap Rima Lestari, salah satu peserta.

Menjelang sore, ruangan dipenuhi ketikan laptop dan gawai. Satu per satu peserta menulis esai yang nantinya akan dibukukan sebagai karya bersama.

Dari hasil refleksi, sebagian besar peserta merasa pelatihan ini membuka wawasan baru. Mereka kini tahu cara membaca yang lebih hidup dan menulis yang lebih bermakna. Lebih dari itu, tumbuh keyakinan bahwa kegiatan literasi di desa bisa menjadi lebih menarik dan berdampak.

Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tapi bagaimana membuat orang lain ikut jatuh cinta pada kegiatan itu,” tutur Eva menutup kegiatan.

Dengan semangat yang menggebu, para pegiat literasi Rokan Hulu kembali ke komunitas masing-masing, membawa inspirasi dan tekad untuk terus menyalakan cahaya literasi di pelosok negeri. (NHG)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan