Sore hari sepulang kerja, seorang pria muda menghampiriku yang sedang berjalan kaki di trotoar jalan. Lalu ia menyodorkan sebuah brosur. Aku menerimanya. Kubaca, “Brosur Umroh dan Haji”.
“Mas, jangan lupa kalau ingin Umroh atau Haji mandiri tahun depan bisa lewat biro perjalanan kami. Insya Allah, Amanah.” katanya mengingatkan. Aku teresenyum menanggapinya. Kubaca sejenak.
“Ada bebas biaya pengurusan visa Umroh dua bulan sebelum tenggat waktu pemberangkatan. Atau Mas bisa juga konsultasi apa itu Haji mandiri, kami siap membantu.” Aku mengangguk pelan Lalu kembali berjalan.
Baru beberapa langkah, seorang pria paruh baya mendekatiku.
“Mas, brosurnya?” ia menawariku sebuah brosur. Aku menerimanya lalu membacanya, “Brosur kredit sepeda motor”.
“Jangan lupa kalau nanti kredit motor, ke sini saja, Mas. Ada harga spesial dan hadiah menarik bagi sepuluh orang pertama yang kredit di dealer kami.” jelasnya. Aku tak menjawab. Hanya mengumbar senyum. Kemudian berjalan kembali.
Beberapa langkah kuberjalan, seorang perempuan cantik mencegatku. Kuperhatikan cara berpakaiannya modis. Dan rambutnya sebahu.
“Mas… .” Ia menegurku. “Eh iya ya, ada apa?” Aku gelagapan menjawabnya. Ia tertawa kecil sambil menyodorkan sebuah brosur. Aku menerimanya. Lalu kubaca, “Brosur kredit mobil”.
“Mobilnya masih baru-baru, bisa dikredit atau tunai lho, Mas. Angsuran kreditnya ringan. Ada diskon harga spesial untuk lima orang pembeli tunai mobil pertama di showroom kami.” jelasnya.
“Terima kasih.” Ia menanggapinya dengan senyuman. Aku pun kembali berjalan.
Dalam perjalanan pulang, aku bertemu teman lama satu kampus dulu. Ia kaget melihatku membawa tiga brosur.
“Wah sekarang kamu jadi penyebar brosur.” katanya. Aku menggeleng. Lalu kuceritakan asal mula brosur-brosur yang kubawa. Ia mengangguk pelan.
“Kamu pilih mana?” tanyaku. Ia tampak kebingungan sebentar.
“Aku pilih brosur kredit mobil karena pingin punya mobil.”
“Ini brosurnya kamu ambil saja.” Aku memberikan brosur kredit mobil. Ia langsung menolaknya.
“Aku belum punya uang kalau sekarang jadi enggak dulu.”
“Lho belinya kan bisa nanti.”
“Iya tapi kalau sampai istriku tahu aku pingin beli mobil, bakalan ada piring terbang di rumah.” Aku ingin tertawa tapi kutahan.
“Lho harusnya kan malah senang punya mobil.”
“Iya tapi masalahnya aku belum bisa nyetir dan gagal tiga kali latihan nyetir sampai bikin mobil intruktur privat nyetir penyok dan harus keluar ongkos ganti rugi banyak.” Aku tersenyum mendengarnya.
“Yang sabar ya.” Ia mengangguk. Kemudian perjalanan kembali kulanjutkan.
Perjalanan sudah hampir setengah jalan sampai rumah, aku bertemu teman semasa SMP dulu. Ia tersenyum melihatku membawa tiga brosur.
“Sekarang pekerjaanmu bagi-bagi brosur ya.” Aku menggeleng. Lalu kuceritakan asal mula brosur yang kubawa.
“Ooo.” katanya. Aku tersenyum.
“Kalau mau pilih, kamu pilih mana brosurnya?” tanyaku. Ia berpikir sejenak.
“Ya aku pilihlah brosur kredit sepeda motor, nanti kan bisa dipakai buat ngojek.”
“Kalau gitu ini brosurnya kamu bawa, siapa tahu kamu butuh nanti.” aku memberikan brosur kredit sepeda motor. Tapi ia menolak.
“Enggaklah, saat ini baru pusing mikirin biaya masuk sekolah anak.” ia beralasan.
“Kamu kan bisa pakai dana cadangan keluarga.”
“Aku enggak berani.” Aku kaget mendengarnya.
“Takut sama istri ya.”
“Bukan takut tapi yang cari uang itu istriku sedang aku di rumah asuh anakku yang masih balita.”
“Kok kebalik ya. Harusnya kan suami yang kerja.” Aku keceplosan ngomong. Wajahnya kulihat kesal. Aku jadi tidak enak hati, langsung pamit pergi.
Aku melewati gardu ronda, seorang teman semasa SD mencegatku. Lama aku tidak bertemu dengannya. Tapi dari kabar yang kudengar, ia sering keluar masuk penjara. Aku jadi sedikit takut.
“Jangan lupa, nanti malam giliranmu ronda.” ia mengingatkan dengan nada tinggi. Aku mengangguk pelan.
“Eh itu kamu bawa apa?” tanyanya keras.
“Ooo ini brosur.” Aku coba tenang menjawabnya.
“Brosur apa saja?” Aku lalu menjelaskan tentang tiga brosur yang kubawa. Ia mengangguk.
“Kamu mau pilih mana?” tanyaku pelan. Khawatir ia bakal marah.
“Aku pilih ini.” aku kaget ia mengambil brosur Umroh dan Haji.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Karena ini ibarat brosur pembawa surga buatku. Doakan semoga aku bisa pergi Umroh bareng Ibuku tahun depan.” Aku mengamini.
“Uangnya dari mana?” Aku keceplosan ngomong. Matanya langsung melotot. Suasana jadi sedikit tegang.
“Aku cuma canda… .” aku berusaha meredakan suasana.
“Pertanyaanmu enggak salah. Aku memang belum punya uang. Tapi aku sudah punya pekerjaan ”
“Pekerjaan apa? Mencuri atau merampok?” aku lagi-lagi keceplosan ngomong. Lalu kutampar mulutku sendiri. Sakit rasanya.
“Kenapa kamu tampar mulutmu sendiri?”
“Lebih bagi gini daripada kamu pukul aku gara-gara omonganku tadi.” Tidak kusangka, ia malah tertawa. Aku dibuat bingung.
“Aku enggak marah kok.” katanya setelah tawanya mereda.
“Tentang pekerjaan, memang susah cari kerja buat orang yang sering keluar masuk penjara sepertiku. Tapi Alhamdulillah ada saja jalan kalau kita mau benar-benar bertobat. Tadi aku ketemu Pak Haji, beliau minta aku jaga kandang kambingnya yang banyak di kampung sebelah.” ceritanya panjang lebar. Aku tertegun mendengarnya.
“Aku doakan lancar ya.”
“Terima kasih doanya. Ini juga berkat kamu yang sudah bawakan brosur ini kepadaku. Aku makin mantap ingin bertobat.” Aku dibuat takjub mendengarnya. Hingga tak menyadari ia sudah pergi menjauh. Benar-benar belum bisa kupercaya apa yang kudengar tadi.
Yogyakarta, 29 Juli 2024
*Herumawan Prasetyo Adhie, seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Beberapa karya cerpen saya pernah dimuat di Kompas.id, Apajake.com. Bangka Pos, Banjarmasin Pos, Harian Analisa Medan, Harian Rakyat Sultra, Majalah Story, Majalah Kuntum, Minggu Pagi, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja, Harian Joglosemar, Republika, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Lampung, Radar Jombang, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Solopos, Sastra Harian Cakrawala Makassar, Serambi Ummah, Tabloid Nova dan Utusan Borneo.