Pepatah Tuah Moyang Bahari: Puisi Mulyadi J. Amalik

618

“Bumi, air, dan kekayaan alam
dikuasai oleh negara”* untuk Rempang.
Entahlah negara tak kenal rakyatnya.
Mata tak seputih cara memandangnya.

Engkau berkuasa memenangi undian.
Pesta dari panggung perjudian.
Namailah dirimu sebagai negara.
Tanganmu bebas mencengkram semua.
Tanah Rempang-ku kau buat taruhan.
Air pulauku kau jadikan umpan.
Mata pancingmu merobek insangku.
Saat itu rayumu setajam sembilu.
Aku terbuai nyanyi nyiur janjimu.

Saat ini aku menolak cintamu.
Bumi, air, dan kekayaan alam milik Tuhan.
Di atasnya Melayu tumbuh bergelombang.
Akar tunasnya mengadang badai keributan.
Bagai perjanjian bersepakat dengan matahari.
Menepati pepatah tuah moyang bahari:
Sebelum kering lautan, tiada padam perlawanan!

Berita Lainnya

Peneleh, Surabaya: 23/09/2023.

*Kalimat ini diringkas dari Pasal 33 ayat (3)
Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945.

Mulyadi J. Amalik, lahir di Tulung Selapan, OKI, Sumsel, 10-10-969. Angota Budaya Nusantara Seni Tradisi Lokal HIPREJS, Jawa Timur. Kontributor Forum Drawing Indonesia (FDI) Yogyakarta dan Teater Potlot Palembang. Menginisiasi antologi Syair-syair Pembelaan Pemuda-Petani Karawang (2008). Pameran puisi-drawing di galeri Rumah Seni Muara, Yogyakarta (2004).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan