

Pada ulang tahun emas kemedekaan RI (1945-1995) yang ke-50 dulu, banyak prestasi yang dicapai Indonesia terutama dalam dunia diplomasi budaya di Asia Tenggara.
Indonesia sebagai Negara besar di kawasan Asia Tenggara menjadi tumpuan bagi bangsa-bangsa Melayu .Kerjasama regional dengan Negara serumpun (Malaysia –Singapura-Brunei dan Filipina). Misalnya kerjasama kebudayaan dan pariwisata (Dialog Utara,Dialog Selat Melaka. Dialog Sijori Johor-Riau Dialog Borneo) membuktikan betapa mesranya hubungan Melayu serumpun itu di kancah pergaulan Asia Tenggara.
Keberlanjutan piagam kerjasama serantau itu ditingkatkan menjadi IMTGT (Indonesia –Malaysia-Thailand Growth Triangle) Pertemuan segitiga di bidang ekonomi dan perdagangan. Banyak buku diterbitkan terutama buku yang berkaitan dengan budaya, sastra dan bahasa (Melayu-Indonesia). Pada bidang olah raga (Sea Games, Asian Games) berlangsung keberlanjutan budaya sportivitas yang paling kuat di masa itu.
Gambaran ‘tahun emas’ yang dialami Indonesia bertahan selama tiga tahun dan akhirnya mengalami degradasi politik dan ekonomi pada tahun 1998 Pada masa krisis moneter dunia posisi Indonesia mengalami pukulan dari aspek eksternal dan internal khususnya gelombang unjuk rasa untuk menjatuhkan regim yang berkuasa.
Pada tahun-tahun berikutnya dari ‘kejatuhan Orde Baru’ Indonesia bangkit dengan segenap kekuatannya meskipun trauma kejatuhan Orde Baru itu begitu menyakitkan banyak pihakdalam konteks bernegara..
Sejumlah budayawan dan penyair memanggungkan parade puisi “Don’t Cray Indonesia”, sebagian daerah melakukan parade puisi antara seniman-Korpri dengan tema ”Indonesia Berbisik” ( Medan, 1999) .Betapa akrabnya seniman dan aparat pemerintahan bersatu dan bermunajad untuk Indonesia yang lebih baik ke masa depan.
Gubernur dan seniman membaca puisi di panggung yang sama, mereka menyampaikan aspirasi dan intuisi yang sepakat untuk masa depan Indonesia yang lebih bermartabat dan kuat.
Indonesia Abad 21
Tulisan ini membatasi seleberasi kemerdekaan kita tahun 2026 dengan pertanyaan mendasar peristiwa apa yang terjadi yang kini melanda Negara ‘nyiur melambai’ ini?
Saya perlu mengutip satu pernyataan Ali bin Abi Thalib,”Seorang merdeka adalah budak selama ia tamak. Seorang budak adalah merdeka selama ia jujur dan ikhlas (kanaah).”
Kita sekarang berada dalam kecenderungan ‘bermental penjajah”. Oleh karena yang menjajah sekarang bukan bendera asing tapi mental kita sebagai bangsa. Laut kita dipagar untuk dijadikan pulau buat membangun hotel dan real estat. Dahulu laut Jawa dan selat Melaka menjadi arena pertempuran untuk mengusir VOC, Belanda dan Portugis. Sekarang laut ada yang dipagar dan nelayan yang hidup mencari makan di perairan itu direlokasi dari tempatnya berbilang tahun ke lokasi yang ‘menjanjikan’ sebagai slogan bujukan.
Ada semacam logika terbalik pihak berkuasa saat itu dengan mengemas slogan “Ini tanah negara yang berujung kepada pengalihan isu menjadi tanah investor dan pemilikan tertentu.”
Pada akhirnya rakyat hanya boleh menonton dari jauh seperti menonton lewat pagar. Kalau dulu rakyat bersumpah terutama para pejuang rela menumpahkan darah demi tanah air, kini ada sebagian pihak berkuasa yang berlindung undang-undang untuk menggadaikan sepotong demi sepotong tanah tumpah darah rakyat.
Program memasukkan tenaga kerja asing sekaligus pemilikan pulau-pulau membuat kita miris dan luka. Darah pejuang dulu tumpah demi tanah air yang bebas merdeka. Sekarang ada oknum penguasa yang rela menggadaikan tanah ibu pertiwi.
Masalahnya, bukan kerjasama yang salah, tetapi kalau sampai’memiliki dan menguasai’, dan rakyat lokal menonton dan pasrah,hal ini namanya kita dijajah lagi. Cuma beda corak ragamnya.
Ali Bin Abi Thalib, berkata, ‘Manusia mejadi budak selama ia tamak’. Manusia tamak kepada uang, tamak proyek,dan akhirnya dengan melakukan kebijakan ‘monopolistik’. Hal ini dapat dikatakan kita merdeka secara bendera , tapi menjadi budak secara keputusan. Timbul pertanyaan dalam batin. Jadi kemerdekaan yang mana yang kita rayakan ke-81 ini?
Kalau kekeliruan ini terjadi pembiaran maka hal ini berarti pekerjaan rumah kita bukan cuma mengusir penjajah, tetapi seharusnya mengusir mentalitas penjajah dari dalam diri kita sendiri.
Pengertian kanaah dalam konteks ini artinya batin kita merasa cukup: Indonesia sudah cukup sudah kaya dan tidak perlu menjual harga diri bangsa. Pengertian jujur adalah pihak pemangku negeri harus jujur menyampaikan apa adanya dan bukan akal-akalan tentang surat izin dan surat resmi. Makna ikhlas dalam hal ini artinya kerja buat masa depan anak cucu .
Timbul pertanyaan bagaimana cara menumpas mental penjajah ini? Apakah dimulai dari sekolah, dari desa atau dari pihak dunia hukum dan keamanan?
Setiap aksi ada solusi yang ditawarkan dan kita harus kembali memulai dari pendidikan dasar bahkan ‘kebudayaan dasar’ yang memuliakan harga diri manusia, Hal ini sudah jarang diajarkan sekaligus ditanamkan di sekolah.
Bertolak dari Budaya Dasar
Kebudayaan dasar yang diabaikan itu ialah kita menghapus pendidikan budi pekerti, pendidikan moral dan spiritual yang kini seakan-akan dikalahkan oleh pendidikan virtual dan digital. Pepatah menyatakan,”Tuah ayam pada taji, tuah manusia pada budi”.
Budi pekerti bangsa ini telah jatuh. Murid melawan guru, bawahan menentang atasan, kaum cendekiawan memprotes presidennya.Para senator yang mendapat mandat rakyat mencari ilmu selamat. Rakyat kehilangan taji kedaulatannya .
Ada beberpa faktor yang perlu diamati secara kritis.
1. Kebudayaan dasar diabaikan.Dulu, di SD kita diajar ‘Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah’
2. Besar menghormati, kecil menyayangi.
3. Malu itu setengah dari iman.
Kini, sistem belajar dikebut buat ujian.Budi pekerti menjadi mata pelajaran tambahan yang disisipkan pada setiap mata pelajaran pokok. Pelajaran budi pekerti ibarat ”bangku tempel’ dalam bus penumpang.
Pengertian, ‘taji kita patah satu-satu’ yakni:
1, Murid melawan guru (taji hormat patah)
2. Bawahan melawan atasan ( taji amanah patah)
3. Rakyat dihasut melawan presiden (taji musyawarah dan mufakat jadi patah)
4. Senator diam cari selamat (taji wakil rakyat patah).
Berdasar indikator di atas ujungnya rakyat kehilangan taji yang bernama demokrasi dan kedaulatan rakyat.
Timbul pertanyaan, ‘Ayam tanpa taji mau melawan apa? Cuma bisa dikejar dan dikurung Bangsa tanpa budi, mau merdeka bagaimana seharusnya? Malah nyaris gampang dijajah dan gampang dipecah-belah.’
Penjajahan Mental
Apabila era penjajah dahulu mereka merampas tanah, penjajah mental sekarang merampas budi dan hatinurani manusia. Implikasinya membuat kita saling curiga, saling menghina . Andaikata sejak kecil anak sudah melihat yang menang itu dan yang paling keras teriaknya,paling licik dan paling berani melanggar aturan saling jual harga diri. Jangan terkesima kelak besar mereka semua jadi; kancil versi korupsi.
Kesimpulannya pekerjaan rumah (PR) kita pada edisi kemerdekaan tahun ini bukan perlu menambah gedung sekolah tapi menambah porsi pelajaran budi pekerti. Dalam konteks bernegara perlu ditanamkan bahwa jabatan itu titipan, bukan warisan. Mengejar kaya itu ujian, miskin itu juga ujian, dan yang lulus belajar itu seharusnya yang jujur.
Kalau budi pekerti pulih, taji demokrasi pulih. Andaikata taji pulih tidak ada lagi yang berani memagar laut seenaknya. Dulu, kita takut dengan guru karena hormat.sekarang banyak yang takut karena ‘viral’.
Dalam menutup tulisan ini kita menampilkan pepatah: Elok kebun karena tekun, elok ladang karena cencang;.Elok manusia karena budi bahasa. Kebun tidak akan subur kalau cuma difoto buat konten. Kebun harus disiram setiap hari, dicabut rumputnya, dijaga dari hama. Cara bernegara juga begitu. Tidak bisa teriak ‘merdeka’ kalau rakyat dan pejabatnya malas. Mereka harus tekun bekerja, tekun untuk jujur, dan tekun mengawasi.
Ladang yang tak terurus tidak akan ada hasilnya. Sistem juga begitu. Hukum perlu dicencang, anggaran penting dicencang, birokrasi juga perlu dicencang. Elok manusia karena budi pekerti. Martabat manusia itu elok bukan karena jabatan, mobil, dan followers. Namun, karena budinya, karena malu buat untuk korupsi, karena ikhlas menolong, dan berani bilang ‘tidak’ ketika digoda dengan suap.
Hal-hal di atas yang hilang sekarang. Kebun tidak lagi ditekuni,maunya hasil instan. Ladang tidak lagi dicencang maunya jalan pintas Manusia tidak lagi diasah budinya maunya viral dulu.
Andaikata pepatah ini diajarkan ulang di sekolah dasar, anak bakal mengerti kamu hebat bukan bisa menipu, seperti dongeng kancil.Kamu hebat karena kebunmu subur, ladangmu rapi karena jujur dan orang segan karena budi bahasamu. Itulah sebenarnya makna ‘merdeka’.*
Medio Agustus 2026
*Penulis Budayawan dan Sastrawan
.