Perahu Kata : Puisi-puisi Riami – Subuh

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

Subuh

Oleh: Riami

Subuh hadir, menyingkap kabut malam
Kumandang azan menyeru, dalam ruang kalbu

Di subuh-Mu dua hal dalam rakaat menjadi filsafat, awal hari adalah dua. Jasmani dan ruhani tak boleh berpisah dalam segala paham dan gerak

Aku hamba, Engkau sang Khalik
Dalam putar waktu yang hening
Sayup menelan raga, jiwa tertunduk, meringkuk dalam sabda takdir bahwa malam hampir pergi

Semburat cahaya di langit timur, menjadi penuntun menuju air wudhu. Memahami subuh-Mu seperti memahami gelap-teranngnya dunia, siang-malam, pagi-sore, suka-duka semua merasuk dalam syaraf-syaraf waktu

Doa-doa terlantun, perlahan menuju langit
Duka tergerus, hingga lumat paling halus di dalam diri
Hening, heningkan diri dari hiruk pikir
Menuju waktu abadi

Bukit Nuris, 2021

Nyanyian Secangkir Kopi

Oleh: Riami

Di sebuah kedai kecil, lagu diawali bunyi uap air
Kepul kopi membumbung seperti harapan pemiliknya

Sentuhan sendok dan cangkir
Menjadi musik alami yang khidmat
Keceriaan tampak pada penikmat kopi
Suara seruput begitu mantap

Lagu-lagu itu terus berulang setiap hari
Suara air kran yang mengguyur ampas kopi dalam cangkir adalah klimak sebuah lagu
Berapa receh yang bisa dihitung

Bila cangkir-cangkir telah tengkurap
Lagu mulai menuju akhir
Dan lelap oleh angan
Besok akan mengulang adukan lebih halus dan memukau
Nyanyian Secangkir kopi
Bisa menjadi penawar lupa terhadap uang yang tersaji dalam dompet
Kian hari kian tebal
Dan syair tanpa kata dalam secangkir kopi menjadi sumber kasih dalam hidup sepanjang waktu

Bukit Nuris, 2021

Doa-Doa Bersama Hujan

Oleh: Riami

Awan membentuk tangan-tangan, yang menangkup, sedang berdoa kepada Tuhan
Tiba-tiba tanganku ingin menirukannya

Awan menuju langit jiwa, menjadi mendung yang memenuhi hati
Aku memandangnya serupa mendung di kepalaku yang mulai memberat dan menghitam

Awan bergerak khidmat, di atas pelupuk mataku
Sapaanmu serupa angin yang menjatuhkan rintik dari bekuan-bekuan es dalam jiwaku menjadi hujan doa yang kian deras

Mata kita bertatapan, serupa rintik hujan yang jatuh di pelataran rindu
Petrichornya menguar ke relung-relung kalbu

Lalu cintamu meresap ke dalam pori-pori hati menjadi sebuah doa yang menarik hatiku dan hatimu menuju pusat waktu untuk temu

Bukit Nuris, 2021

Tentang Penulis
Riami, tinggal di Malang. Pernah menulis di Malang Post, , penulis buku “Catatan Harian Belajar di Bukit Nuris”, “Pelangi Kerinduan”, ” Kisah Romansa di Negeri Awan”, “Serpihan-serpihan Kisah Kita”, “Dua Mata Haiku”, bersama Mohamad Iskandar, “Sajak Biru”, dan “Harmoni Tiga Penjuru Bersama Mohamad Ikandar dan Ani Herinia”. Aktif menulis di kompasiana.com, aktif di Group Sahabat Guru Super Indonesia, Competer, Kepul (Kelas Puisi Alit), Ruang Kata, dan Group Puisi Bekasi, juara 2 Anugerah Competer Idonesia tahun 2021. Mengajar di SMPN 2 Pakisaji Kab. Malang. Instagram: Riami7482, Face book: Ria Mi, Blog kepenulisan pribadi: http://riaminuris.blogspot.co.id,

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. Katedrarajawen mengatakan

    Mantab nian