Perahu Kata : Puisi-puisi Riska Widiana

95

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

TERKURUNG DALAM DADAMU

Aku menatap sore pada matamu
Cahanya hampir sirna dari petala
Dan aku mendengar suaramu seperti mendung berwarna kelabu
Antara ingin hujan atau tidak

Aku menerka rasa dalam jiwamu
Seperti mencari cahaya dalam malam yang gelap
Sedangkan tubuhku terkurung dalam dadamu yang hening
Pelita tempatku pulang telah padam

Kepekatan memeluk seluruh tubuhku
Dalam kesendirian yang sunyi
Sedangkan di ruang yang penuh pelita
Puluhan mimpi sedang menanti

Riau, 2021

***

SEPASANG YANG TIADA

Dari dalam sepi doa mengangkasa
Rindu menjadi semakin tua
Karena ketiadaan kian subur berbuah
Duri adalah hasil dari yang kita tanam

Kesendirian merajut sepi dalam jiwa
Dalam dadaku penuh belukar kering yang mati
Api-api membakarnya dengan membara

Kini sepasang kaki telah menjadi abu
Dan melebur di tanah perasingan
Tempat dua rindu yang telah terkubur
Serta harapan berbunga di langit biru

Riau, 2021

***

ANGKA LUKA PADA MATA LAYU

Matamu kuncup menyimpan madu
Kau tutup dunia di dalamnya
Ada cerita yang mengikat diri
Semesta tak pernah tau alurnya

Tulisan Terkait

Puisi Asni: Bismillah

Berita Lainnya

Kau takut mengalirkan manisnya
Ke tangan yang menengadah
Menanti mekarnya yang merona

Serta puluhan jemari merenggut dengan durjana
Setiap kelopaknya yang bening merekah
Mengundang seluruh lebah mengisap manismu
Tinggallah sebuah luka di pelupuk mata yang layu
Kesedihan pula mengalirkan hujan dari bola matamu yang mendung
Puluhan luka kau hitung dalam air mata
Yang tak bisa dicatat dalam dada

Angka-angka yang dipetik mencipta gerimis yang luruh
Membasahi tanggal yang merah
Tempatmu berlibur membuka mekar pada tatapanmu
Kau memilih kuncup dalam keheningan
Saat lebah kehilangan arah mencari rona pada bola matamu

Riau, 2021

***

MIMPI-MIMPI ANAK SUNGAI

Di sini di dekat anak sungai yang sunyi
Tempat tubuhku termanggu
Menikmati kemircik air yang keruh
Seperti sebuah harapan yang mulai kelabu
Samar dari hari yang kian kering

Di anak sungai ini
Puluhan mimpi dialirkan oleh para nelayan
Mereka merajut impian dalam dada dengan penuh harapan
Sekujur tubuh mereka rela berperang melawan tamparan bias matahari dengan bingas
Menciptakan nyeri pada diri

Di anak sungai ini seluruh keinginan di tenun dan berharap tak pernah sirna
Seperti air surut yang hanya meninggalkan basah
Pada tanah lumpur yang gembur
Setelah gemuruhnya sirna dan hening tercipta sedangkan yang tersisa tidak ada apa-apa

Namun hati manusia tidaklah sama
Segala mimpi dari doa-doa para nelayan
Dilenyapkan habis oleh tangn yang tak tahu belas kasih
Dan kedukaan tertinggal di tanah yang lembab

Ikan dan udang mati di pinggir tepian yang sunyi
Beserta seluruh anak-anaknya yang baru melepas diri dari Rahim ibunya
Semakin kering semakin menyedihkan
Kesuburan tanah semakin hilang
Serta rasa belas kasih manusia semakin gersang

Riau, 2021

***

Nama lengkap Riska Widiana, alamat Riau Kabupaten Indra Giri Hilir. Hobby menulis dan jalan-jalan, kesibukan sekarang adalah mengajar. Dan menempuh pendidikan di pondok pesantren Daarul Rahman selama 6 tahun dan mengabdi selama 4 tahun. di Riau Inhil. Kelahiran 25 november 1997 bersuku banjar dan mempunyai karya antologi yang berjudul DALAM KATA AKU MENCIPTA dan antologi bersmama ANALEKTA RASA. Dan sebuah novel solo yang berjudul SINGGASANA CAHAYA. Kini sedang bergabung kedalam komunita kepenulisan yaitu [KEPUL] kelas puisi alit jejaknya bisa diikuti akun media sosial. Fb. Riska widiana ig. Mentari-2597.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan