Di atas papan kayu yang dingin, saat wajah pisau mulai menatap tajam,
“Pangeran, izinkan aku menatapmu untuk yang terakhir kali,” bisik Putri Bayam.
“Tuan Putri, izinkan aku menggenggam erat jemari lentikmu,” ujar Sang Pengeran dengan wajah penuh senyuman.
Pangeran Bawang mendekat dengan aroma wangi yang menenangkan.
Mereka mengenang masa di lambung semesta, saat masih bayi dimandikan embun,
Diselimuti tanah basah dalam zikir yang terus mengalun.
Kangkung dan Sawi menjadi saksi pernikahan suci penuh ketulusan.
Tak ada ketakutan, hanya ada getaran cinta melebur keikhlasan hati.
Menyimpan catatan rahasia di balik serat, nutrisi yang mengalir di nadi.
Memegang teguh bakti suci, menyerahkan raga demi hidup yang abadi.
“Genggam tanganku,” desah sang Putri saat tubuh mulai merasakan panas kuali.
Mereka terjun bersama, membiarkan warna hijau dan putih menyatu dalam bakti.
Di dalam kuali waktu, mereka berdansa dalam pelukan yang syahdu.
Mengubah rasa perih menjadi tenaga mengalir dalam nadi menjadi satu
Keluarga hijau sembunyi dari semesta, menghilang dalam setiap suapan sunyi
Pesta ini telah usai, menyisakan piring kosong dan doa tanpa henti
Kuantan Singingi, 17022026
Rubaida Rose. Lahir di kota Tembilahan, Indragiri Hilir. Memiliki kecintaan menulis puisi, Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER) dan Asqa Imagination School (AIS) sebagai wadah dia bercumbu mesra dengan puisi. Deretan tulisan manisnya bisa dinikmati di buku buku puisi. Tulisannya termaktub di beberapa media; Riau Sastra, Riau Pos, Ranah Riau, Tirastimes.com, Kompasiana. FB: Rubaidarose