Fragmen | Puisi-Puisi Leberia Tanjung

Sumber: Dokumentasi Julina

104

FRAGMEN

Malam datang bergidik bersama hujan

Di lorong dan kolong-kolong kota bertuah

Tubuh-tubuh kepayahan menghalau sepi

Setangkai kembang wanginya tercium hingga tepi jalan

Entah dari pot warna apa

Atau tanah ibu mana

Atau tumbuh di pemakaman siapa

Waktu hilir mudik lesat dan berwajah  asing

Sepasang mata

Berjinjit memecah curah

Susah payah tengadah wajah

Celakalah, ia lupa cara berenang ketepian

Orang-orang kota  memandang

Lelaki bermain kompang sendirian

Di hadiahkan keeping-keping kecurigaan padanya

Sedang ia tak ambil pusing

Sibuk melagu gurindam dendam yang membuat orang-orang lebam

Sambil menyaksikan banyak rupa-rupa

Bertemu pandang di persimpangan

Tulisan Terkait

Rempang: Husnu Abadi

Mereka saling bergumam pada apa yang dilihat

Mungkin bayangan dirinya yang lain

Menghalau kelam malam

Membenarkan langkah mencari rumah

Jakarta. Februari  2022


TUBUHKU YANG HILANG PUKUL SEPULUH

Hio yang kau bakar ujungnya

Kau angkat sejajar kening

Asap-asap lucut dalam doa hening

Anak-anak air mata di pelupuk

Sakralkan sembah

Pada dewata kau rapalkan namaku: Berulang

Terselip di riuh pinta hingga dadamu pasrah berlubang

Aku yang melanglang jauh

Tubuhku yang hilang pukul sepuluh

Purnama-purnama

Wangi-wangi dupa

Jakarta. Januari  2022

  • Leberia Tanjung, lahir di kaki gunung Ciremai, berdomisili di Jakarta. Bergiat dalam kelas puisi Competer Indonesia dan Kepul. Kumpulan puisinya termuat dalam beberapa antologi antaranya Renjana dan Kata Hati, Kontemplasi Sepi dan Jalan Pulang. Juga dalam beberapa media online seperti RiauSastra, Ceranoid dan lainnya.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan