
Sumber: Dokumentasi Julina
Malam datang bergidik bersama hujan
Di lorong dan kolong-kolong kota bertuah
Tubuh-tubuh kepayahan menghalau sepi
Setangkai kembang wanginya tercium hingga tepi jalan
Entah dari pot warna apa
Atau tanah ibu mana
Atau tumbuh di pemakaman siapa
Waktu hilir mudik lesat dan berwajah asing
Sepasang mata
Berjinjit memecah curah
Susah payah tengadah wajah
Celakalah, ia lupa cara berenang ketepian
Orang-orang kota memandang
Lelaki bermain kompang sendirian
Di hadiahkan keeping-keping kecurigaan padanya
Sedang ia tak ambil pusing
Sibuk melagu gurindam dendam yang membuat orang-orang lebam
Sambil menyaksikan banyak rupa-rupa
Bertemu pandang di persimpangan
Mereka saling bergumam pada apa yang dilihat
Mungkin bayangan dirinya yang lain
Menghalau kelam malam
Membenarkan langkah mencari rumah
Jakarta. Februari 2022
Hio yang kau bakar ujungnya
Kau angkat sejajar kening
Asap-asap lucut dalam doa hening
Anak-anak air mata di pelupuk
Sakralkan sembah
Pada dewata kau rapalkan namaku: Berulang
Terselip di riuh pinta hingga dadamu pasrah berlubang
Aku yang melanglang jauh
Tubuhku yang hilang pukul sepuluh
Purnama-purnama
Wangi-wangi dupa
Jakarta. Januari 2022
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com