
Sajak Cinta dan Rayuan Doa
: Umy Mario
aku menemukan salahku
pada bening matamu.
lengkung alismu tandan bulan,
bibirmu merah menjadi api semangatku
menjalani retak hari dan kakiku terbakar nasib.
pipimu telur lempung, memerah dibakar senyum
karam rinduku tak terperih, kubayangkan
hidungmu adalah tanjung dipeluk laut biru,
mengabarkan rindu, karena cinta, hidup kita
kan terus berjalan-berbinar.
kumohon, jangan menatapku mendalam,
agar segala tikaman penyesalan tak menghujam
seperti rapuh runcing hujan ke dalam diri,
amat dikesali, hidup bukanlah purnama
kerap memercikkan gairah hati, tapi percayalah
langkah demi langkah yang kuseret di terik hari
adalah doa, agar kita makin erat berpeluk
tanpa bayang-bayang kehampaan, serapuh kain tua
sebab cinta telah kukosongkan
dari segala teka teki dunia
dan isinya hanya kita berdua
berpeluk selamanya.
Tentang Bapak
bapakku tanah.
tangan-tangan menggamitnya dari surga,
langit-bumi merentangkan tangannya,
lahirlah cakrawala, lumut, rumputan,
kayu, kolam, kali, sungai jadi laut.
bapak tumbuh diburu waktu,
ladang pilu merimbun dadanya,
di matanya mengalir mata air mata,
wajahnya lebam-luka dihajar
matahari siang dan angin malam.
batu-batu cadas menimpuknya sepanjang jalan,
keras berguru diburu angin, kakinya karatan mendaki bukit,
merenangi samudra mengalahkan usianya, tapi tangan ibunya
menumbuhkan padi, menyuburkan ladang, menawarkan air laut,
menjadikan daun, tangkai dan buah menjelma obat penawar lara.
bapak selalu berlari di telapak tangan ibunya.
di sana jalan berliku, menemukan cinta, membawanya ke nirwana.
di bawah paripurna bulan, bapak menengadahkan tangannya,
maka tibalah aku berlari di atas telapak tangan yang keras itu,
bapak mengarahkan telunjuknya ke purnama,
mengenalkan aku pada pohon, taman bunga, kebun, sungai,
laut dan kapal berlayar sentosa di atasnya: “sebab semuanya akan pulang,
sebagaimana purnama juga pulang pagi ini !”
pundak bapak sekokoh baja. bapak selalu bersujud,
anak-anaknya memanjat tebing curam pinggang bapak,
meraih pundaknya, menjadi tolak loncatan kami ke anak cucunya kelak.
bapak adalah bumi, ia telah menyiapkan segalanya,
kami adalah anak sungai, pohon, hewan melata, laut,
ikan-ikan, menjadi semesta kehidupan.
kini bapak telah pergi, berjalan kembali ke tanah,
tubuhnya adalah angin, bayangannya adalah cahaya.
sepuluh tahun berlalu, bapak menjadi tanah, menjadi pohon,
menjadi nama dan azimat perjalanan kami.
Kepada Ifa
: 02122020
aku telah berjalan jauh dan panjang,
menggambar peta buta dalam diri di langit di bumi,
menerka dan merabamu di antara bintang-bintang,
di selah bulan dan matahari.
malam-malam, aku duduk di bawah jendela,
keriangan bintang di langit kelam, menyaksikan kita termangu di savana rindu.
sulaman tahun dan abad-abad purba berlumut resah dilumur penantian,
tak sabar menunggu waktu, di lengkung langit mana
dan di lipatan peradaban apa kelak kita dipertemukan.
aku telah dirundung duka dan kemalangan, dikunyah zaman yang ganjil,
gunung batu tempatku menyeret langkah dan merayap, luka memelukku
siang dan malam, menahan perihnya waktu setandas cadas menantimu.
dan akhirnya aku menemukanmu di tepi danau yang damai,
daun, hamparan rerumputan hijau menepi ke langit,
bunga-bunga bermekaran di wajahmu.
ketika itu langit penuh luka, tanganku hangus dipanggang matahari kota,
berkarat telapak kakiku, kuseret di jalan dan pantai, mencarimu di peta buta.
tak ada rindu cakrawala berpaut, aku terkapar mengeram lumut
dari gempuran masa silam yang suram dan rebah di rerumputan basah.
ketika itu langit cerah dan senja merah saga,
kau berjalan ke arahku mengulum rindu tak berkesudahan.
perlahan tanganmu sedingin salju, kau letakkan di dada kiriku,
air langit seketika tumpah ke bumi. langit meneteskan air matanya,
menumbuhkan rerumputan, lukaku kau rawat karena rindu bekarat,
kau menjelma danau dan kebeningan telaga, kau dirikan dangau penantian panjang
tempatku istirah dari lelah rindu zaman yang melenggang menuju pagi,
serupa kuda jantan menembus fajar qizib.
aku menyerah dilumur takdir di tanganmu, gunung batu, lautan teduh,
sungai jiwa dan hutan rindu yang berderet manis di pingggang
dan di hamparan jenjang leher pepasirmu, aku menambatkan perahu rindu
bertahun-tahun karam dipukul ombak dan dilemparkanya
ke pantai, ke pulau masa hadapan tak berujung.
di sana, di antara nyanyian pasir, di debur pecah ombak,
di gemercik kali waktu, di tepi danau rindu, di hamparan sawah menguning
lalu di bukit hijau kasihmu, kita dirikan gubuk rindu serupa nirwana,
di bawah dan di kaki bukitnya mengalir sungai kasih sayang
dan keberkahan mahabbah rindu maha kekasih.
Kinship Cinta
cintaku kepadamu
tak lagi dapat kuucapkan
sebab cintaku telah meruang
mewaktu dalam semesta
dan Tuhan telah menjeratku
berjalan dalam retak takdir itu.
cintaku adalah menabung derita
dan kesengsaraan akan rindu purba,
sebab penderitaan dan kebahagiaan, sama saja.
derita adalah lambang keperkasaan dari kebahagiaan,
sedang kebahagiaan adalah lambang kegagahan
dari dera samudra penderitaan.
cintaku tak lagi dapat kuucapkan setiap waktu,
sebab menampung cinta dalam cawan rindu
adalah perah keringatku berlumut,
berlomba lari menemukan perjumpaan kita
dalam resah desah gua garba kehidupan
yang tak lenyap dalam debu kemarau
tak hanyut dalam banjir badai kehidupan.
cintaku, sekali lagi kuserahkan pada
bentangan takdir menapak di telapak tanganku.
kugenggam tak kulepas lagi, kugenggam kau
bersama keabadian maha kekasih.
Rindu Roh Tua
/t.m.
(1)
rinduku senja di balik langit kamarmu.
melolong, meneteskan airmatanya jatuh di gerigi.
meski mulanya hanya bisik, namun lidah langit kalut,
meratapi nasib takdir berlalu, melebihi jatuhnya embun
di lengkung langit sore rabun malam.
burung malam saja tak tahu dari mana peta retakmu
dari langit senja menuruni pelangi. saat laut biru
melebarkan sayapnya; kaukah perempuan surgawi
kubaca dalam almanak tua, warisan para nabi,
kelak menuntunku ke dangau sepi di tengah savana
lalu telaga ungu tua, mengecupkan kening rindu terbakar
karena mencarimu dalam abad-abad serapuh angin.
ranum malam mendamparkanku ke tepi hari,
bulan malam menunggang badai dan gelombang laut pasang,
memapah tubuhku ke pantai rindu tak sudah-sudah,
penantian menjadi beku seperti sepi api ke tepi
lalu menuntunnya kembali ke tiada.
(2)
hanyut aku dalam sakit arus sungai bergelora.
peram asmara tak sampai, memahat tubuhku ringkih.
kuselami jalannya dari perih ke perih, menahan hasrat purba,
walau hanya kerdip kunang-kunang di sesap malam.
lalu diam-diam bisikmu, menguburnya tak pernah tau,
kepada siapa kelak menggelepar rinduku di jalan sepi,
sepupus kabar dan kesaksian kau kirim dari rintih langit,
mengobarkan dendam meracuni burung terbang sore hari.
sudahlah, airmata telah beku, sujud senyap hingga ke ujung,
walau tiada batas tepi kesabaran, hingga waktu beku
turunlah salju, mengecup keningku patah di reranting
karam rinduku dihempas badai malam, berharap tanganmu
kelak merengkuhku, melebur gunung bebatuan di dadaku.
hari datang beranjak pergi, membawamu kereta pagi,
dalam peluk resah subuh, kunanti bisikmu dari hujan
membawaku mengembara ke senyap terik Sahara,
berharap tangan malaikat, mengurut keningku
dengan kecupan cahaya bola matanya. seketika itu
kulihat serpihan surga berjatuhan pula dari matamu,
dan musim mengawinkan kita dalam ganjil kalender tua,
di ujungnya, hanya debar geletar purnama.
Bustan Basir Maras. Penyair-Antropolog. Buku puisi terbarunya Vova Sanggayu (101 Puisi Etnografis). Mendapat Anugrah Kebudayaan dari Pemda Kab. Majene. Pendidikan terakhirnya ia selesaikan di Pascasarjana, Jur. Antropologi, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Hp/wa 085242928810. Email: bustanbasirmaras12@gmail.com. IG. bustanbasir. Fb. Bustan Basir Maras.