Saksi Bisu Jembatan Ratapan Ibu
Dia membisu berdiri kokoh.
Ditemani gemerisik air sungai di bawahnya.
Rentetan peluru mendesing-desing.
Di tengah gulita malam pekat.
Air mata menganak sungai di pipi perempuan kelabu itu.
Tangannya menukik tajam ke arah sungai.
Kecipak air memecah kesunyian malam dengan lantang.
Menelan bayi nan tak berdosa itu.
Tungkai rapuh menopang tubuh kurus.
Bersimpuh luruh menghantam bumi.
Rintihan pedihnya terucap lirih.
Anakku … anakku … anakku …
Kemarahan Si Jago Merah
Puing-puing itu masih di sana.
Berserakan bersama debu-debu beterbangan.
Hitam membekas, melekat di dinding.
Bunyi langkah tapak kaki kian terdengar.
Menggema di bangunan itu.
Ingatan itu masih membekas tajam.
Asap hitam nan tebal membumbung tinggi di langit subuh.
Keganasan si jago merah melahap bangunan.
Meliuk-liuk menari ditiup angin.
Panas mendera di dinginnya sapuan butiran embun.
Pekikan-pekikan sirine saling bersahutan.
Menyiram butiran air ke arah amukan si jago merah.
Meredam bara amarah.
Melahap habis bangunan Pasar Payakumbuh.
Minang Menghimbau (Rendang)
Aromamu gurih, menggelitik hidung.
Hitam kecokelatan, warna rupamu.
Asap menguar, merayuku untuk mendekatimu.
Perutku memberontak, menginginkan kamu.
Satu suapan, kukunyah lambat.
Meresapi rasa, melekat di lidah.
Lembut dagingmu, pecah di mulutku.
Pedas gurih rasamu, memikat lidahku.
Menolak aku, menjauh darimu.
Kelezatan abadi, di setiap rasa.
Melambangkan kehormatan dan kebijaksanaan.
Payakumbuh, 20 Desember 2025
Fanisa Oktavia, biasa dipanggil Nisa. Berasal dari Payakumbuh. Lahir di Bukittinggi, 7 Oktober 1993. Ia adalah seorang pujangga yang menulis harapan dalam bentuk puisi. Hobinya membaca buku, terutama buku fiksi atau novel. Ia juga menulis puisi dan puisi-puisinya dimuat di jejaring media sosial. Ia bergabung dengan COMPETER Indonesia dan menjadi salah seorang peserta 29 Besar Anugerah COMPETER Indonesia 2026.
Terus semangat, jangan berhenti nulis. Kak