Puisi-Puisi Zulfadhli

26

Dia Sedang Mengukir Dunia, yang Tak Terpetakan Matahari

Waktu jendela rumahnya diketuk

Dia sudah tak ada lagi di ruangan, sebelah kiri dari kamar dimana biasanya dia duduk menentramkan dagunya dengan tumpukan tapak tangan

Ia sedang mengukir dunia

Dari arah yang tak terpetakan oleh mentari.
Berharap lautan akan mampir

Menenggelamkan segala pada dari kehidupan yang tak pernah sungsang, dari berpikir untuk kembali

Langkahnya sudah habis, disapu oleh malam yang lembut dan pagi yang beringas

Tinggal dua kerat buku, sepotong halaman yang tersia-sia dari sajak panjang tanpa jendela yang sesungguhnya sudah terbelah oleh koma demi koma.

Dia berpikir panjang dalam diam, sampai ketukan bunyi ketukan di jendelanya menghilang.

(17 November 2025, Bagansiapiapi)

 

Ada 10 Nelayan, Menelan Selat Melaka

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Ada sepuluh nelayan, berpacu dengan dua boat ringkih, menelan selat melaka.

Mereka mengulur tajur hidup, berbasa basi dengan riwayat panjang permainan maut.

Maut di telan ombak
Maut di telan lembing sesama nelayan yang bersauk-sauk mencari ikan.
Maut di telan cuaca badai
Maut di telan otoritas kekuasaan.

Anak istri cucu tinggal di rumah
Menanti senjakala menyentuh halaman, dan berharap mereka pulang dengan selembar uang, sekantong ikan.
Selebihnya risau
Kepulan asap rokok dilintingan tembakau berkapuk.

Tapi kali itu mereka tak pulang,
Di selat melaka yang katanya jiran sahabat. Tertahan oleh deburan pertanyaan serta kegeraman.

Ada 10 nelayan, selama 10 hari terpisah dengan keluarga, tapi tak berapa pendam.
Toh soal berpisah, sudah hal biasa.

Kegelisahan cuma tergantung pada apa yang akan dijadikan penawar : untuk anak yang minta didodoikan? Untuk cucu yang minta disuapi atau minta gula-guli.

10 nelayan itu kini telah kembali,
Ke negeri asal yang sejatinya memiliki berjuta juta, bertempayan-tempayan minyak, gas, sawit, hingga beroti. Tapi negeri itu tak pernah kompromi, pada mereka yang tak lebih dari sederetan nama, sebentuk wajah dan sepotong badan.

Maka setelah itu mereka memastikan, akan ke pelukan selat melaka lagi.
Untuk menelannya kembali, atau muntah bersama-sama.

(15 Nov 2025).

Zulfadhli SSos, wartawan Riau Pos di daerah kabupaten Rohil. Pemenang Sagang, kategori Anugerah Jurnalistik (2012), menerbitkan dua buku puisi, nominator Ganti Award (2016), menerbitkan buku “cerita rakyat daerah pesisir”, serta terlibat sejumlah ontologi cerpen dan puisi dalam rangka HPN yang ditaja PWI Pusat.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan