Faisal Basri, WS Rendra Dan Kritik Sosial: Catatan Husnu Abadi

130

Pengantar

Ada yang menarik dari seorang Faisal Basri. Sebelum keberangkatannya ke kehidupan dan keabadian, 5 September 2024 (lahir di Bandung, 6 November 1959) beliau menulis sebuah puisi yang dalam beberapa saat saja telah tersebar di media sosial. Bentuk puisi sebagai media ekspresi sebuah kegelisahan seseorang boleh jadi sebagai pecobaan dari beliau untuk langsung pada inti masalahnya yang kalau diuraikan dalam narasi memerlukan lebih bayak kalimat.
Sebagai ahli, pengamat dan pakar ekonomi, dan dosen senior pada perguruan tinggi pendapat dan pandangannya tentang politik hukum dan ekonomi selalu menarik minat publik.
Di awal reformasi, beliau ikut terlibat dalam gerakan reformasi, bahkan ikut mendirikan sebuah partai politik bersama kawan2 lainnya, dan menduduki jabatan strategis sebagai Sekretaris jenderal Partai AmanaT Nasional, dibawah kepemimpinan Amien Rais. Tak lama memang ia di partai tersebut, dan kembali pada habitatnya sebagai aktivis serta pengamat politik ekonomi.
Ketika di Tahun 2012 ia ditetapkan juga sebagai Calon Gubernur DKI Jaya publikpun terkejut, sebab nampaknya nalurinya berpolitik ingin Ia sempurnakan dalam kontestasi Pilgub.
Beberapa kesempatan seminar, khususnya yang berkenaan dengan kebijakan pemerintahan di bidang ekonomi, bung Faisal Basri (kelahiran Bandung, 6 November 1959) senantiasa diminta untuk berbicara. Ia pun mengemukakan pandangannya yang kritis dan opposan terhadap kebijakan yang diambil oleh penyelenggara negara, terutama yang berkenaan ugal-ugalannya kebijakan Pemerintah dalam mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia. Masalah penyakit korupsi, yang merupakan penyakit laten bagi sebuah negara, merupakan salah satu topik tersendiri dan terhangat. Korupsi baginya adalah penghambat terbesar atau drakula tersadis dalam memiskinkan rakyat secara keseluruhan. Dalam hal ini ia sepaham dengan Amien Rais khususnya dalam melawan korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara negara.

Puisi Perlawanan

Sikap kritis dan berbeda pandangan terhadap penyelenggara negara selama Orde Baru dibawah hegemoni militer telah muncul bersamaan dengan naiknya Soeharto sebagai presiden di Tahun 1973.
Gerakan 15 Januari di Tahun 1974, yang kemudian terkenal dengan idiom Malari, gerakan Anti BKK/NKK sebagai gerakan penolakan menjinakkan kampus dibawah Menteri Pendidkan Kebudayaan Daoed Yoesoef, gerakan Petisi 50 yang dipimpinan oleh tokoh-tokoh bangsa seperti Jenderal Nasution, Hugeng Iman Santoso, M. Nasir, gerakan para penyair yang dipeolopori WS Rendra yang membacakan puisi-puisi perlawanan, merupakan gerakan yang mencoba memberikan pandangan berbeda sekaligus kritik atas model pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan dan pro kapital dan memarginalisasikan kaum bawah.
Cara-cara penangananyang dilakukan oleh rezim yang berkuasa adalah repressif, penindasan dan pengucilan. Kematian perdata selalu dihadapi oleh mereka yang bersebelahan dan berseberangan dengan pemerintah Orde Baru. Lembaga perizinan dipergunakan semaksimal mungkin untuk mengontrol semua kekuatan politik dan kekuatan ekonomi dan sekaligus mengarahkan sesuai dengan kebijakan dasar Orde Baru yang menomor satukan pertumbuhan ekonomi.

Dalam banyak hal kekuatan mahasiswa dan kampus seirama dengan kaum penyair. Penyar menulis puisi seirama dengan denyut nadi perlawanana terhadap kebijakan orde baru atau orde penguasa plus tata cara pengelolaan negara. Faisal Basri memang lebih banyak mengemukakan pandangan kritisnya nya lewat seminar, podcast, TV, ceramah dan kuliah umum atau sejenisnya. Tentu saja hal itu tidak berarti Faisal Basri tidak perlu media yang lain. Sebagai contoh dalam bentuk puisi. Puisinya sederhana, dengan mengambil kata-kata sederhana dan sehari-hari . Namun Faisal pun dalam beberapa baitnya tetap mempergunakan metafora yang menarik seperti digunakan oleh penyair Indonesia lainnya seperti Taufiq Ismail, ataupun WS Rendra. Boleh jadi diantara para pengamat ada yang menyatakan bahwa puisi Taufiq Ismail akhir-akhir ini lebih ekstrem dan lebih frontal dalam menyikut situasi nasib perjalanan bangsa Indonesia dari pada puisi-puisi penyair lainnya, termasuk puisi yang ditulis Faisal Basri. Apakah betul pandangan yang demikian? Tentu saja hal ini perlu dikembalikan pada publik sepenuhnya.
Bisa juga kita bandingkan dengan WS`Rendra dan seorang penulis puisi yang dosen UNIKA Bogor Ahmad Sastra yang puisinya tiba-tiba menarik perhatian dan selalu sering disebut-sebut mengikuti jejak mazhab Taufiq Ismail. Sebelum saya kutip puisi Rumah Indonesia Rumah kita, yang ditulis Faisal Basri saya akan kutipkan beberapa bait dari puisi yanag ditulis oleh Taufiq Ismail, WS`Rendra dan Ahmad Sastra. Ini untuk menunjukkan bahwa terdapat kesamaan ekspressi dalam narasi puisi mereka yang kritis pada kehidupan kebangsaan dan kenegaraan negeri ini. Boleh saja terdapat kedalaman dan keindahan dalam melukis kata-kata dalam berpuisi mereka, namun puisi-puisi mereka selalu hadir dan sering diperdengarkan dan dibacakan dalam pertemuan-pertemuan yang bernuansa politik. Tak jarang pula seorang Gubernur di Kalimantan Selatan dalam suasana yang dingin bersedia membaca puisi, dan puisi Ahmad` Sastra berikut ini yang dibacakan. (Catatan tambahan: Taufiq Ismail lahir 25 Juni 1935 di Bukittinggi, WS`Rendra lahir di Solo, 7 November 1935- wafat 6 Agustus 2009 di Jakarta, dan Ahmad Sastra, lahir di Semarang, dosen UIKA Bogor)

NEGERIKU SEDANG DILAHAP RAYAP /Taufiq Ismail
Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak poranda
Terbungkuk dibebani hutang
Dan merayap melata sengsara di dunia
Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol
Di ruang tamu kantor pegadaian jagat raya
Negeri Kita tidak merdeka kembali
Kita sudah jadi negeri jajahan kembali
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru
Saudaraku Dulu penajajah kita satu negara
Kini penjajah kita multi kolonialis banyak bangsa
Mereka berdasi sutera ramah tamah luar biasa dan banyak senyumnya
Makin banyak kita meminjam hutang makin gembira
Karena leher kita makin mudah dipatahkannya

SAJAK SEBATANG LISONG/WS Rendra
Menghadap sebatang lisong
Melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat
Dan di langit
Dua tiga cukong mengangkang
Berak diatas kepala mereka

Matahari terbit, fajar tiba
Dan aku melihat delapan belas juta kanak-kanak
Tanpa pendidikan
Aku bertanya
Tetapi pertanyaan-pertanyaanku
Membentur meja kekuasaan yang macet
Dan papan-tulis papan-tulis itu para pendidik
Yang terlepas dari persoalan pendidikan

JANGANTERIAK MERDEKA, MALU KITA /Ahmad Sastra
Negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang berbunga haram
Jika negeri ini telah mampu melunasi hutang itu
Silahkan teriak merdeka
Jika belum mampu lebih baik diam dan berfirikir/ Malu kita

Banyak anak negeri menjadi babu di negeri orang
Mereka seringkali disiksa dan dianaya
Jika mengeri ini belum mampu memulangkan mereka dan
Memberi pekerjaan layak dan mensejahterakan
Jangan teriak merdeka/ Lebih baik diam dan berfikir / Malu kita

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Negeri khatuliswa ini dihampari kekayaan alam yang luar biasa
Namun dikelola oleh orang lain/ Rakyat hampir tak menikmatinya
Jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negri negara
Jangan teriak merdeka/ Lebih baik diam dan berfikir / Malu kita

Kemiskinan dan pengangguran semakinmeluas /terasa berat untuk bisa hidup layak/
bahkan harga-harga terus menaik ditambah pajak yang kian mencekik
Jika masih meluas kemiskinan
Jangan teriak merdeka/ Lebih baik diam dan berfikir / Malu kita

Setelah saya kutipkan beberapa bait, tentu saja tak perlu dikutip seutuhnya, karena pertimbangan tehnis penulisan, maka berikut ini puisi Faisal Basri, yang seperti tadi saya deskripsikan sebagai satu pandangan dan satu barisan dengan rekan-rekan penyair di atas. Tentu saja suatu saat bila ditemukan arsip-arsip lainnya dari puisi-puisi yang ditulis oleh Faisal Basri, boleh jadi akan lebih mengagetkan kita semua yaitu ternyata Faisal Basri punya talenta kepernyairan yang luar biasa, seperti luar biasanyaa dia dalam menganalisa kebijakan politik ekonomi dari penguasa negeri ini.
Selamat menikmati puisi terakhir Faisal Basri.

RUMAH INDONESIA, RUMAH KITA/Faisal Basri
Indonesia adalah rumah kita/ Tempat bermukim buat semua
Tak membedakan suku, warna kulit, agama, dan asal muasal
Untuk merajut asa wujudkan Indonesia
Yang berkeadilan Dan sejahtera
Kita berbagi cerita dan cara
Bukan memonopoli mau sendiri dan mimpi kosong
Bukan dengan memaksakan kehendak dengan bedil
Bukan dengan menindas kelompok yang tidak disuka
Bukan dengan menindas barisan seberang

Anasir-anasir negara dan korporasi berkelindan
Mewujudkan mimpi mereka sendiri merampas tanah rakyat
Membungkam suara nurani mengeruk kekayaan negeri
Untuk membangun kerajaan lewat politik dinasti
Mereka membentuk kawanan rayap dan kecoak
Bertaring tajam mengusik rumah kita/ Rumah Indonesia

Mereka kian menggeroti segala penjuru rumah kita
Menyerang fondasi mengacak-acak pilar-pilar bangunan
Membombardir atap
Tak pelak Rumah Indonesia mulai oleng
Dentuman drum lengkingan gitar
Alunan dan pekik penyanyi entakan kaki-kaki penonton
Membuat kawanan rayap dan kecoak pekak dan tuli
Pandangan matanya merabun sekujur tubuhnya kuyu
Dengan lemah lunglai, mereka mengambil Langkah seribu terbirit-birit
meninggalkan arena

kini saatnya/ kita kembali menata Rumah Indonesia
memperkuat fondasi mereparasi pilar-pilar dan menambal kebocoran
untuk mewujudkan Indonesia baru
mewariskan kejayaan bagi generasi mendatang

Saatnya kejujuran yang memimpin bangsa ini

Jakarta, 9 Desember 2023/18 Agustus 2024
Dikutip dari: faisalbasri.com

Penulis adalah penulis dan penyair dari Pekanbaru, dosen pada Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, telah menerbitkan 5 buku puisi tunggal dan yang terakhir adalah Lautan Rempang (2024, Yaunda Publish) . Menjadi anggota Perkumpulan Penulis SATUPENA sejak Kongres pendirian Satupena di Solo 2017, dan kini sebagai Anggota Dewan Penasehat Satupena Wilayah Riau.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan