Ramadan Tanpa Lebaran: Cerpen Fitriani Anwar

103

Ramadan di kotaku kali ini diiringi gerimis. Hampir setiap hari jalanan basah. Entah mengapa tahun ini cuaca tak menentu. Meski begitu, Ramadan selalu menjadi bulan sibuk bagi keluarga kami.
Ayah yang sedari dulu bekerja sebagai penjual bakso dan mie ayam keliling mengisi waktu paginya dengan membantu ibu di dapur menyiapkan bakso dan bumbu-bumbu mie ayam. Selepas Ashar, ayah segera mendorong gerobak tuanya ke arah masjid raya. Lebih kurang satu kilometer dari rumah kami. Memang, selama Ramadan ayah lebih memilih mangkal di sana ketimbang berkeliling.
Seringkali saya menemani ayah. Membantunya mendorong gerobak atau menahan laju pengendara lain saat kami akan menyeberang jalan. Sesampainya di masjid raya, saya membantu ayah menyiapkan peralatan. Kecap, sambal, jeruk nipis, garam dan micin tambahan untuk pelanggan yang akan meracik sendiri saya siapkan di meja lipat sembari mengelap meja dan mengatur kursi plastik sederhana yang kami bawa dengan menggantungnya di gerobak. Menjelang berbuka puasa, pelanggan ramai hingga selepas tarawih.
Ketika beduk di masjid bertalu-talu, ayah cukup membatalkan puasa dengan segelas air yang dibawanya dari rumah. Lalu, kembali sibuk melayani pelanggan. Gerobaknya selalu dikerubungi pembeli di waktu Magrib. Orang-orang asyik menikmati menu berbuka, ayah masih sibuk meracik pesanan pelanggan.
Waktu Magrib selalu terlewat oleh ayah hingga Isya lalu orang-orang bertarawih. Ayah masih selalu sibuk dengan pembeli yang datang silih berganti. Bagi ayah, meninggal gerobak berarti meninggalkan rezeki bagi keluarga kami. Pembeli banyak yang tak sabar menunggu hingga akhirnya ayah terbiasa tidak turut masuk ke masjid untuk sekadar membatalkan kewajibannya sebagai makhluk.
Di rumah, ibu yang biasanya hanya sibuk menyiapkan bakso dan mie ayam dagangan ayah juga bertambah sibuk. Ada lapak di depan rumah kami yang menjadi tempat ibu menjajakan masakan yang identik dengan Ramadan di kota kami. Es teler, es buah, es pisang ijo, jalangkote, bakwan, juga lauk pauk yang setiap hari ibu ganti jenisnya.
Larut malam ayah pulang dari berjualan di masjid raya. Aku dan adik-adikku selalu menyambut dan membantu membersihkan peralatan. Ayah baru beristirahat setelah memastikan peralatan dan sisa jualannya tersimpan rapi. Selepas sahur dengan motor supra bututnya dia harus kembali mengantar ibu ke pasar Terong untuk berbelanja keperluan dagangan.
Aku tahu, untung ibu berjualan menu berbuka puasa tidak banyak tetapi cukup membuat kami sekeluarga juga bisa menikmati menu berbuka seperti keluarga lain. Selain menu berbuka, aku tahu, ayah dan ibu memikirkan baju lebaran untuk kami, ketiga anaknya.
Kemarin, Fajar, bungsu kami sudah merengek baju lebaran. Katanya, Alfian, sepupu kami sudah memilikinya, tiga pasang sekaligus. Fajar juga mau, tak perlu tiga katanya yang penting ada dan baru. Dia sudah punya baju lebaran impian. Sukma anak gadis satu-satunya di keluarga ini juga menimpali, dia juga ingin baju gamis berwarna biru muda dengan jilbab putih tulang. Ayah menoleh, melihat wajah adik-adikku. Sembari tersenyum, dikatakannya, “Nanti ya kita ke Pasar Senggol”. Pasar senggol adalah pasar malam yang menjajakan segala kebutuhan. Pasar ini selalu ramai dikunjungi oleh warga kota Makassar baik Ramadan maupun bukan. Adik-adikku serentak bersorak.
Sebagai anak tertua yang sudah beranjak remaja, saya meredam banyak keinginan. Sebab, kutahu bahu ayah sudah terlalu banyak dibebani. Kutahu juga bahwa ayah selalu ingin memberi yang terbaik sebisanya untuk kami. Berbeda dengan Fajar, adikku. Baginya, kalau sudah dijanjikan itu berarti pasti. Ia akan selalu menagih janji ayah. Hampir setiap hari setelah pembicaraan baju lebaran dimulai.
Dua puluh tujuh Ramadan, badai menerjang Makassar. Hujan sepanjang hari. Sore itu, saat hujan mulai membasahi kota Makassar, aku menemani ayah keluar seperti biasanya. Mendorong gerobak ke arah masjid raya. Menjelang maghrib, hujan semakin deras. Terpal yang dipasang oleh ayah terangkat tertiup angin. Sekuat tenaga ayah menahannya. Aku diminta ayah menahan gerobak agar tak tersapu angin. Tak ada satupun pembeli yang datang.
Ayah mulai cemas, hujan semakin deras. Air di jalan mulai pasang sebab saluran air yang tersumbat. Got mulai meluap. Aku panik, ayah juga. Wajah ayah menyiratkan kekhawatiran. Angin semakin kencang hingga akhirnya tubuh kecilku tak mampu menahan gerobak. Gerobak terbalik. Semua bahan jualan tersapu air. Kuah mie ayam dan bakso bercampur air hujan dan air got. Ayah terduduk lemas, tak mampu berbuat apa-apa. Airmatanya bercampur hujan. Hilang harapan. Terbayang wajah anak-anaknya membicarakan baju lebaran.
Hanya hitungan menit, air mencapai dada orang dewasa. Kendaraan-kendaraan mulai mogok. Klakson bersahut-sahutan. Ayah yang sudah lemas karena gerobak yang tersapu angin tak kuasa menahan diri. Tubuhnya yang lemas kupapah ke pelataran masjid yang lebih tinggi. Badan ayah menggigil, napasnya sesak. Kududukkan ayah di tangga masjid sebab badannya terlalu lemas untuk berjalan menaiki anak tangga. Semua orang sedang panik, ayah tiba-tiba mencengkram lenganku dengan kuat. Kepala ayah jatuh di bahuku. “Ayaaah…, ayaaah…” pekikku. Ayah tak merespons. Badannya semakin dingin.
Lebaran yang biasanya penuh sukacita hadir di pelupuk mataku saat kupeluk tubuh ayah yang kaku. Ayah yang begitu gigih bekerja demi keluarga hingga lupa panggilan-Nya. Ayah yang menjanjikan baju lebaran pada kami pergi menemui tuhannya di tangga masjid yang tak pernah ayah masuki. Tangga yang menjadi saksi kesibukan ayah meracik mie ayam dan bakso saat azan berkumandang. Ayah pergi. Baju lebaran tak lagi berarti. Lebaran kami berisi duka.

Fitriani Anwar. Alumnus Universitas Negeri Makassar ini pernah mengajar selama 1 tahun di Manggarai Timur, NTT saat mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T) pada tahun 2011. Mengajar di SMA Negeri 13 Maros, Sulawesi Selatan.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan