

“Ia telah pulang
Dari pengembaraannya
Sebuah perjalanan abadi telah dimulai
Dan ia telah siap untuk itu”

Itulah petikan puisi yang saya tulis untuk beliau dalam sebuah grup WA ketika tahu bahwa beliau telah pergi untuk sebuah perjalanan abadi, Jumat malam pukul 23.20 tanggal 23 Januari 2026. Banyak yang merasa kehilangan. Dunia perguruan tinggi, dunia dakwah dan tentu saja dunia pemerintahan. Usia beliau sebetulnya masihlah usia orang muda. Lahir pada 15 April 1954 dan itu berarti umur beliau kini baru 72 tahun. Namun usia itu memang sebuah benda yang misterius. Itu merupakan hak Allah. Begitu pula soal ajal, tak bisa dipercepat ataupun diperlambat, Walau sedetikpun. Sebagai seorang dosen, beliau memang telah bersara, karena pada usia 65 tahun, bila seorang dosen tak mencapai jabatan guru besar, maka ia akan bersara.
Pada Tahun 2019, ketika beliau berumur 65 tahun hal itu Ia sampaikan kepada saya. “Saya kini telah bersara. Walaupun saya masih bisa ikut mengajar sebagai dosen luar biasa, namun saya akan batasi. Biarlah mereka yang muda yang akan meneruskannya.” Saya mendengar kata-kata itu dan mempergunakan kesempatan sembari berkata dan menyela …. ustaz, kalaulah seorang itu tak sampai ke jabatan guru besar, maka seseorang itu tetap saja boleh dan berpeluang untuk menjadi GURU sejati dengan karya-karya yang BESAR.” Beliau tersenyum dan tertawa kecil.
Ustaz Rustam Effendi tetaplah seorang guru dan berjiwa muballigh. Kalau beliau berkhutbah atau berdakwah, pilihan kata-katanya enak didengar dan memang perlu didengar. Banyak metafora yang beliau gunakan untuk menyampaikan pesan-pesan langit pada para pendengar. Penguasaan bahasa Arab ataupun Inggris menambah bobot dan wibawa isi ceramahnya. Beliau lulusan dari sebuah universitas di Sudan yang kata beliau kesempatan ini sedikit banyak berkat rekomendasi dari H. Zaini Kunin dan juga rekomendasi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat. Oleh karena itu tak mengherankan bila ketika musyawarah DDII sekitar Tahun 2020 dimana ustaz Drs. Mukni mengakhir 2 periode masa jabatannya, beliau akhirnya menerima amanah untuk memimpin DDII untuk satu periode.

Kepiawaian beliau sebagai seorang ustaz sangat terasa ketika Masjid Munawarah UIR mengadakan kajian kuliah tujuh menit setiap Ramadhan. Salah satu yang mengisi ceramah kultum adalah beliau. Apalagi beliau juga menjabat sebagai pengurus YLPI ketika Ketua YLPI dipimpin oleh Prof. Dr. Nurman. Salah satu isi ceramahnya adalah yang menyangkut mentalitas manusia, khususnya yang berkenaan dengan dunia. Dimanapun manusia itu selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan duniawinya. Hal itu adalah sesuatu yang wajar. Namun hal yang tak wajar bilamana tuntutan memenuhi kebutuhan duniawi itu telah berubah menjadi keserakahan. Pada awalnya seseorang yang diberi amanah untuk menjadi pengurus, dimaknai sebagai orang yang bersedia untuk mengurus atau memberikan pelayanan pada umat/ publik secara baik dan peduli. Ini pekerjaan mulia. Namun bila karena tuntutan duniawi yang berlebihan dan tanpa mentaati nilai-nilai etika , moral dan agama, maka seorang pengurus itu berubah menjadi seorang penguras. Ustaz Rustam pun menyitir sebuah perubahasa yang diungkapkan oleh Mahatma Gandhi yang dia ucapkan dalam bahasa Inggris dengan intonasi yang memukau, yang berbunyi: The world has enough for every one’s need, but not enough for everyone’s greed. Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi dunia tidak akan cukup untuk memenuhi kerakusan semua orang
Jadi Bupati. Masa reformasi, adalah berbeda jauh dengan masa sebelumnya. Banyak jabatan publik yang terbuka untuk diisi oleh bukan hanya karena pejabat karir tapi terbuka untuk publik yang memenuhi syarat. Kalau dari kalangan pendidik dan dosen, banyak yang terpanggil untuk mengisi jabatan-jabatan itu. Misalnya jabatan anggota legislatif, penyelenggaran pemilihan umum (KPU), hakim agung, hakim konstitusi, komisi Ombudsman. Namun termasuk tak banyak yang bisa untuk mencapai dalam mengisi jabatan eksekutif seperti Gubernur, Bupati, Walikota. Diantara yang sedikit ini, termasuklah ustaz Rustam Efendi. Agaknya sistem pemilihan kepala daerah yang dilaksanakan secara langsung sedikit banyak akhirnya menyeret dan menjerat Ustaz Rustam. Untuk diketahui sebelumnya pengaruh Ustaz Rustam yang pandai berdakwah, berbahasa Inggris dan Arab, serta orang yang dinilai “tawadhuk” punya pengaruh yang lumayan banyak di wilayah kabupaten Pelalawan. Calon Bupati T. Azmun Jaafar yang merupakan bupati petahana (2001-2006) akan maju kembali dan akhirnya memilih Ustaz Rustam Efendi. Dalam pilkada mereka memenangkan suara dan kemudian dilantik.
Sebagai Wakil Bupati terpilih Ustaz Rustam memang telah memposisikan diri sebagai seorang wakil, oleh karenanya dia berprinsip akan membantu dimana-mana sektor yang memerlukan bantuan dari Sang Bupatinya. Kekuasaan penuh seorang kepala daerah terletak pada Bupati. Posisi ini sangat disadari oleh Ustaz Rustam. Oleh karena itu tak pernah terdengar adanya gesekan ataupun kegaduhan antara seorang Bupati dengan Wakilnya.
Namun perjalanan pemerintahan berkata lain, pada 17 September 2009, akhirnya Ustaz Rustam Effendi harus menggantikan T. Azmun Jaafar, Sang Bupati, karena tersandung kasus penerbitan SK Bupati untuk sejumlah perusahaan yang dinilai oleh KPK sebagai penyimpangan.
Selama menjalankan jabatan Bupati tetap meneruskan apa yang sudah dilaksanakan dan menjadi program kerja T. Azmun Jaafar, dan selama ini pula konsultasi dan silaturrahmi dengan T. Azmun Jaafar tetap dilakukan. Tak ada sedikitpun terbersit dalam diri ustaz Rustam Efendi untuk keluar dari garis-garis kesetiaan ataupun janji setia beliau pada Sang Bupati. Bahkan sampai T. Azmun Jaafar wafat pada hari Jumat, 9 Mei 2025, pada usia 66 tahun, persaudaraan dan silaturrahmi itu tetap beliau jaga.
Ustaz Rustam Effendi memang kemudian mengikuti jejak sang pendahulunya. Wafat pada usia 72 tahun, lebih tua 6 tahun dari pendahulunya. Bumi Pelalawan ikut berduka dan meneteskan air mata karena salah seorang yang pernah menjadi Khalifah di negeri itu dijemput oleh Sang Kholik. Beliau dimakamkan di Taman Bahagia Pangkalan Kerinci, beliau kembali ke pangkuan negeri yang ia cintai. Pemerintah Daerah Kabupaten menyelenggarakan upacara penghormatan terakhir untuk beliau.
Dosen, Dekan dan Warek. Watak keseharian beliau lebih mengemuka sebagai seorang guru, yang digugu dan ditiru. Bercakap seperlunya dan harus berisi. Dalam mengajar pun ia seorang yang cukup menjaga waktu. Anak didiknya selalu antusias biladiajar oleh beliau. Mengapa? Karena kehadirannya selalu membawa inspirasi baru buat anak-anak mahasiswa. Seringkali Ia mengutip kata-kata mutiara dari para pujangga, filosof ataupun tokoh bangsa. Untuk pelajar ia menutip kata-kata Imam Syafei yang berbunyi .. kalau kau tak bersedia untuk berkeringat dan menderita ketika menunut ilmu, maka bersiaplah dikau untuk menderita ketika dikau telah meninggalkan sekolah ini.
Beliau melanjutkan studi magister pascasarjana bidang Ekonomi Islam pada UII Yogyakarta. Ketika pada Tahun 2005, Rektor UIR HB Jumin memberikan kesempatan pada sejumlah dosen senior untuk melanjutkan studi Program Doktor di Universiti Utara Malaysia, Sintok, Kedah, beliau pun ikut serta. Namun takdir berkata lain, beliau tak punya waktu lagi untuk melanjutkan studi karena menerima lamaran dari T. Azmun Jaafar, Bupati Pelalawan untuk menjadi Calon Wakil Bupati pada Pilbup Tahun 2006. Namun sebelum itu semua, Ustaz Rustam Efendi pernah menjabat jabatan Dekan Fakultas Agama Islam dan setelah itu ditarik oleh Rektor UIR T, Dahril untuk menjabat Wakil Rektor III untuk menggantikan Drs. Ambiar Boer, Msi yang pindah ke Universitas Batang Hari, Jambi.
Saya ingin mengutip kesaksian ketua koperasi Dokagu Ir. Iskandar Johan Msi tentang Ustaz Rustam Efendi yaitu ketika beliau tengah menyelesaikan studi di Yogyakarta, mengambil S2. “Beruntunglah YLPI dan UIR mempunyai lembaga koperasi bernama Dokagu, yang dalam fungsinya sangat pro pada karyawan yang memang sangat membutuhkan bantuan dana secara mendadak. Dari keperluan berobat, uang sekolah anak-anak, sampai pada dosen-dosen yang sedang sekolah. Pinjaman diberikan seratus persen tanpa ada potongan adminsitrasi. Keuntungan dibagikan kembali pada anggota. Bagi yang meninggalpun pinjamannya ditanggung koperasi. Saya nilai koperasi ini cukup Islami”.
Banyak memang kenangan yang ditinggalkan oleh Ustaz Rustam. Namun dari sekian banyak yang perlu saya ingat, adalah beberapa petuah yang beliau ambil dari tunjuk ajar Tenas Effendi, seorang budayawan asal Pelalawan, yang selalu disampaikan oleh Ustaz dalam berbagai kesempatan bertausiah.
Orang bertanah di periuk orang
Kita bertanak di periuk sendiri
Orang yang bijak duduk terpandang
Orang perusak memburukkan negeri
Kasih ibu sepanjang jalan
Kasih ayah sepanjang galah
Terpilih ilmu memegang iman
Terpilih kerja memegang amanah
Berat lidah mulut terkunci
Berat muka kepala tertunduk
Sifat merendah patut dipuji
Sifat durhaka kan kena kutuk
Selamat jalan Ustaz Rustam, sang guru, sang pencerah
Murid-muridmu akan selalu mendoakanmu
Agar perjalananmu penuh senyum dan Maghfirah
Kampus Darussalam, UIR
26 Januari 2026
Husnu Abadi adalah pensyarah Fakultas Hukum UIR sejak 1986, pernah menjabat Dekan FHUIR dan Wakil Rektor UIR (2001-2005). Menerima beberapa anugerah: Sagang (2015), Z. Asikin Kusumahatmadja (2014), Makrifat Mardjani (APHTN, 2022), Anugerah Badan Bahasa untuk Kategori 40 Tahun Berkarya (2025). Kini sebagai Penasehat Utama SATUPENA Provinsi Riau. Menerbitkan sejumlah buku bidang politik dan hukum serta buku antologi puisi.