Santun 79 Malaysia: Sastra dan Bahasa Melayu Tak akan Mati, Puisi Sufistik Kemala Pelanjut Iqbal

Kemala, dan suasana seminar dan baca puisi

KUALA LUMPUR-TIRASTIMES:Melihat perkembangan kreativitas karya@sastra berupa puisi dan prosa yang dutulis para sastrawan di berbagai negara di dunia terutama kawasan Melayu Serumpun, sastra dan bahasa Melayu diperkirakan tak akan pernah. Apalagi, jumlah pengguna bahasa Melayu keseluruhan mencapai 300 juta jiwa.

Di sampinh itu, khusus puisi-puisi  yang dihasilkan penyair nasional terkemuka Malaysia,  SN Dato’ Kemala yang religius dan sufistik menegaskan dirinya merupakan pelanjut penyair sufi dunia Mihammad Iqbal.

Pernyataan  ini merupakan kesimpulan dari pidato utama kritikus sastra Malaysia, Dr. Mana Sikana dan hasil pembahasan   dua sesi diskusi yang membahas karya-karya penyair Kemala  dalam rangkaian Temu Sastra 4  Negara Santun 79 Kemala,  di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, Malaysia, 30 Januari 2020.

Kritikus Sastra Dr. Mana Sikana dalam pidato yang dibacakan perwakilannya menegaskan kedalaman religi puisi-puisi Kemala selama ini menunjukkan komitmen sikapnya yang sangat Islami. Berkarya kreatif bagi Kemala bermakna wujud pengabdian dirinya kepada Allah yang Maha Pencipta.

Pendapat yang hampir sama juga muncul pada diskusi sesi pertama bertajuk Laut Takjub  dengan  pembicara,  dengan para pembicara dari Malaysia yakni Prof. Madya Dr. Kamariah Kamarudin dan Dr Hanafi Ibrahim dengan Moderator Hj. Wardawati Sharif. 

Begitu pula pada diskusi sesi kedua bertajuk ‘Lanskap Ungu Kemala’  dan menampilkan para pembicara yakni  Hj Arbak Othman (Malaysia), Drs.  Siamir Marulafau
dan Dra Lily Siti Muthathuliana (keduanya dari Indonesia) dengan  Moderator Hj.  Wardawati Sharif.

Para pembicara seminar dalam rangkaian diskusi menegaskan,  
hampit semua puisi Kemala menggambarkan kedekatan dg Tuhan. Selain itu, Kemala sangat akrab dengan alam dan humanistik dengan bahasa yang  indah, kaya dengan  metaforik dan sederhana.

Pernyataan yang hampir senada  disampaikan Ketua DBP, Prof. Dr. Mohamed Hatta Shaharom saat membuka acara Santun 79 Kemala. Shaharom mengatakan sastra dan sains mempunyai hubungan yang erat. Sastra tanpa sains tak akan membawa  kemajuan. Sebaliknya sains tanpa sastra tak akan memberikan  keindahan atau kering.

”Berseni dan bersastra haruslah dilakukan demi niat yang  agung yaitu Allah dan sunnah Rasul. Hal ini sudag diperlihatkan dalam karya-karya sastrawan Malaysia di antaranya Datuk Seri A. Samad Said dengan 
puisi panjangnta Al Amin. Begitu pula puisi-puisi yang dihasilkan Dato’ Kemala,” kata Shaharom.

Pada setiap sesi acara Santun 79 Kemala diselingi dengan pembacaan puisi, puisitari dan puisi lagu oleh para penyair 4 negara.

Di antara penyair yang tampil adalah Penyair dan Novelis Nasional Malaysia yang kini berusia 81 tahun, SN. A. Samad Said. Sedangkan dari Thailand diwakili oleh Anindya Puspita, pensyarah tamu Prince Songkhla University, Thailad asal Yogyakarta, Indonesia.

Sementara para penyair Indonesia yang turut nempersembahkan bacaan puisinya adalah Muhammad Husnu Abadi dan Fakhrunnas MA Jabbar (Riau),   Lily Siti Multatuliana (Jakarta), Risma Dewi Purwita (NTT) , Siamir Marulafau (Sumut)  Nuthalya Anwar dan Ariani Isnamurti (Jakarta).(ns)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan