Separuh Hati yang Hilang: Cerpen Azizah Farhana

283

Tidak semua yang engkau cintai akan membahagiakan dan tidak semua yang engkau benci akan menyedihkan. Seperti pisau yang bagus tetapi dapat melukaimu dan juga seperti obat, meskipun pahit tapi dapat mengobatimu.
Menikah dengan orang yang engkau cintai adalah sebuah harapan, namun mencintai orang yang engkau nikahi adalah sebuah kewajiban. Aku tersadar dengan nasibku yang membawaku ke sini.
“Dek, aku mencintaimu,” bisikku pelan.
Namun, perempuan tempat cintaku berlabuh itu diam membisu. Hanya seulas senyuman tipis yang ia berikan. Ia terjerat hari-hari yang sibuk untuk belajar dan rutinitas di kampus.
Aku yang telah menyambutmu dengan hati yang tersenyum merekah dan mendudukkan di singgasana jiwaku. Membisikkan nyanyian asmara yang keluar dari kejernihan pancaran hatiku. Kasih sayang yang diikatkan kepada hatimu menjadi penghubung hatiku untuk tidak berpaling kepada yang lain.
“Dek, aku sayang kepadamu. Bagaimana denganmu?” bisikku suatu ketika.
Lagi-lagi senyuman yang engkau berikan mampu membungkam tanyaku dengan lembut. Aku mencintaimu seperti matahari meninggalkan bumi dan malam sebagai penggantinya. Aku mencintaimu ketika cahaya matahari kembali mengintip dari ufuk timur dan mengusir kegelapan bahkan melenyapkan embun pagi.
Ayah ibu dan juga yang lain mungkin tidak mengerti, kenapa aku masih saja setia kepadamu. Tak ada yang memahami apa yang selalu aku tunggu. Kecuali Risa, tempat cintaku tumbuh subur. Aku bisa melihat cinta dari sorotan matamu yang meluluhkan hatiku.
Tidak seperti pasangan-pasangan yang lain, kami memang berbeda. Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Sebagai lelaki setia aku harus bersabar menantimu. Sosok perempuan yang sangat suka belajar, itu yang membuatku semakin terpikat dan jatuh cinta semakin dalam.
“Dek, aku ingin menunggumu hingga selesai kuliah.” Ujarku lirih dibalik pintu yang menutupi setengah tubuhku saat melihatmu berlalu dari pintu rumah.
Sore itu ketika aku jauh datang hanya untuk bertemu denganmu dan mengungkapkan bahwa aku ingin melamarmu usai engkau setamat kuliah.
“Bang, jika takdir kita untuk bersama, alam semesta akan membantumu untuk mendapatkan sosok yang engkau cintai. Cinta itu bukan membawa tangis dan keputusasaan, tetapi ia menguatkan hati dan menghidupkan pengharapan. Cinta dan kasih sayang yang tulus tidak dapat dilihat atau didengar, ia hanya dapat dirasakan oleh hati,” jawabmu.
Kalimat lembut yang keluar dari bibirmu begitu sederhana, memastikan aku untuk tidak perlu mengkhawatirkanmu. Ketika engkau berdiri di hatiku, aku menjadi terpaku dalam dekapan rindu yang menjelma menjadi pelita, dengan cahayanya membias ke berbagai penjuru jiwaku. Tanpamu, duniaku menjadi gelap gulita.
“Aku ingin menjadi kekasihmu, Dek,” bisikku lirih.
Ini adalah tahun ketiga, waktu semakin memenjarakan hatiku hanya pada sosok lemah lembut Risa yang anggun. Jilbabnya yang menutupi wajahnya semakin menambah rona kecantikan hatinya.
Perempuan itu tertawa. Lesung pipi yang cekung di sebelah kirinya menambah manis wajahnya semakin membuat hatiku bergemuruh dan jantung seolah berlari kencang. Hatiku merayu kasih sayangmu yang keluar dari lisanmu.
“Ini buku untukmu, Bang. Cinta itu seperti kupu-kupu. Semakin engkau kejar, ia akan semakin menghindar. Tapi jika kau biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu di saat kau tak menduganya. Isinya bagus sekali tentang itu.”
Perempuan yang kucinta itu tergesa-gesa pergi. Seolah beberapa detik terlupa bahwa ia harus pergi memburu waktu. Wajahnya yang penuh energik dan ceria. Membuat hatiku terjerembab dan seolah terbang melayang. Kagum perempuanku suka membaca dan memberi hadiah buku Ketika Aku Jatuh Cinta. Dan memberikanku kesempatan untuk mencintainya.
Hari-hari kami berlalu dengan sederhana dan terasa indah. Tahun keempat pun berlalu. Aku tak pernah lelah mengatakan suara hatiku meski hanya berbisik dalam goresan pena dalam diariku yang menjadi teman setia asmaraloka hatiku. Namun Risa tak pernah tanggap mengartikan arah keinginanku. Sampai aku mengira kesabaran dan penantianku hanya milikku. Aku berusaha menghibur diriku dan yakin bahwa dialah yang terbaik untukku. Mungkin Risa sibuk untuk menyelesaikan kuliahnya sehingga tidak ada ruang untuk memikirkan menikah denganku.
“Cinta.”
Aku mendengar dari bibir indahmu tanpa keraguan. Benarkah aku tak sedang bermimpi di siang hari, engkau mengatakan itu?
“Laksana pohon di dalam hati. Akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yang dicintainya. Dahannya adalah mengetahuinya. Ranting-rantingnya adalah ketakutan kepadanya, daun-daunnya adalah malu kepadanya, buahnya adalah ketaatan kepadanya dan air yang menghidupinya adalah menyebut namanya. Jika di dalam cinta ada satu saja bagian yang kosong, berarti cinta itu kurang.”
Setelah itu ia pergi dan tak pernah kembali, aku menangis berhari-hari dalam bilik yang mencekam kebisuan, menjadi saksi bisu dari birunya hatiku. Aku berpikir bahwa perasaan gelisah tidak pernah ada dalam hidupku dan kini menjadi rutinitas yang harus aku hadapi. Siapa yang bisa memilih cinta, ia datang kepada siapa saja yang ia anggap mampu menumbuhkan dan melahirkan kebahagiaan. Namun, ternyata cinta tidak harus memiliki. Menikahi orang yang aku cintai ternyata hanya sebuah harapan belaka.
Aku mencintaimu, Risa. Tanpa jeda dan keraguan. Penantian panjang yang kulalui biarlah menjadi kenangan indah. Mengapa cintaku begitu menguras kesedihan yang begitu dalam? Tapi aku tak kuasa bahwa cinta tidak bisa memilih kepada siapa ia dijatuhkan.
Mereka, tidak akan pernah tahu sosokmu yang terlukis di hatiku tidak pernah pudar, meski bertahun-bertahun berlalu. Menunggu jawabmu yang tak pernah aku temukan dari bibirmu. Engkau begitu saja pergi tanpa menitipkan kabar. Meremukkan seluruh kenangan indahku bersamamu. Terakhir, aku mendengar kabar engkau telah menikah dengan seorang lelaki yang datang meminangmu tiga minggu sebelum perpisahan itu.
“Nak, sudahlah kamu menikah saja dengan Kayla.”
Hatiku yang teriris oleh kerinduan dan ketidakpastian membuatku dilema dan disirami oleh hujan garam, semakin perih dan tak bisa terobati. Kini, aku pasrahkan hatiku dan mematuhi pinta ibuku. Mengikuti apa yang diinginkannya. Bukankah Risa pergi begitu saja? Meninggalkan cinta yang tak terbalas dan seolah ditelan bumi tanpa bekas?
Perempuanku yang kucinta, kini aku akan menikah dengan gadis yang tak kuketahui asalnya, aku belum pernah bertemu dengannya, aku sama sekali tak pernah tahu seperti apa ia. Hatiku sudah terlalu letih menunggumu. Ibuku sudah melamarnya untukku.
Aku tidak ingin menyakiti banyak hati lagi, selain hatiku. Hal yang paling menyedihkan dalam hidupku adalah bertemu denganmu, lalu aku jatuh cinta. Kemudian pada akhirnya aku menyadari bahwa engkau bukanlah jodohku. Kini aku telan semua kepahitan kenyataan yang menghampiriku, mungkin ini bisa menjadi penawar luka atas kehilangan dirimu.

Risa, apakah engkau menyayangiku?
Risa, jika mencintaimu adalah sebuah pekerjaan.
Aku tidak akan pernah berhenti untuk bekerja.
Tahukah kamu, apa maksudnya?
Aku akan mencintaimu selamanya.

Berita Lainnya

Strategi  Main Agresif

Pesan Whatsapp itu aku kirim kepadamu, Risa. Namun, dengan keraguan yang merasuk jiwa pada akhirnya aku memutuskan untuk menghapusnya. Setelah 12 tahun berlalu aku memendam semua yang kurasakan usai pernikahanmu dan pernikahanku.
Mungkin aku adalah lelaki yang belum baik untuknya, nyatanya hatiku masih menyimpan namamu. Meski tahun terus bergulir, tetapi aku tak bisa menghilangkan dirimu dalam hatiku. Aku sadar, bahwa ia telah menjadi penyembuh dari luka kehilangan dirimu. Aku juga tak ingin menyakiti hatinya. Ada hati baik yang harus kita jaga, bukan? Mungkin aku harus menyudahi semua ini dengan menerima perasaan yang memasung jiwaku kepadamu.
Memaafkan diriku sendiri dan kemudian melepaskan semua rasa yang pernah singgah di muara hatiku. Sakit ini akan bertahan selama aku menginginkannya dan akan terus mengiris luka sedalam aku membiarkannya.

Azizah Farhana merupakan penulis Riau yang berdarah Jawa. Bermastautin di Pekanbaru. Adapun karyanya beberapa buku antologi puisi dan cerpen serta buku Solonya berjudul Anakku Permata Hatiku.Penulis dapat dihubungi via email yumnasriwahyuni@gmail.com atau FB Azizah Farhana.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan