Songket Melayu Khas Dumai Sudah Sampai Malaysia hingga AS

DUMAI – TIRASTIMES ||  Indonesia memang terkenal dengan berbagai kerajinan tangannya yang mampu menarik minat warga dunia. Salah satu kerajinan yang kerap dicari-cari oleh warga asing ketika berkunjung adalah kain khas. Begitu juga dengan warga asing yang datang ke Dumai, Riau. Pasti yang pertama kali mereka cari adalah kain tenun melayu khas Riau yang kerap mereka jadikan oleh-oleh untuk kembali ke daerah asalnya. detikcom pun berkesempatan mengunjungi salah satu tempat menenun kain songket melayu di Dumai.

Wan Syamsinar, menjadi satu dari dua penenun yang ada di kota yang terkenal dengan sebutan kota pelabuhan. Ia mengatakan, banyak sekali orang-orang Malaysia dan juga Amerika yang datang ke tempatnya untuk membawa pulang kain-kain songket yang ia produksi dengan mesin manual yang masih terbuat dari kayu.

“Tamu-tamu dari Malaysia, dari Amerika, dari tamu hotel kebanyakan beli untuk dijadikan oleh-oleh dibawa ke daerah asal masing-masingnya,” ujar Syamsinar kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Ia pun bercerita untuk satu 1 kain modal produksinya sebetulnya beragam mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 400.000 dan dijual dengan harga Rp 600.000-700.000 untuk 1 kain songket. Namun, harga tersebut juga bisa lebih mahal bila seseorang ingin membeli kain yang berpasangan (laki-laki dan perempuan).

Songket Melayu Khas Dumai Sudah Sampai Malaysia hingga AS Songket Melayu Khas Dumai Sudah Sampai Malaysia hingga AS Foto: Pradita Utama/detikcom “Harga paling mahal tadi yang pasangan, yaitu dengan selendang dengan kain laki-laki dan kain perempuan mencapai Rp 1.700.000 sudah siap semua tinggal pakai,” tutur Syamsinar.

Ia pun mengungkapkan dari usaha yang ia geluti, dirinya bisa mendapati omset bersih per bulannya rata-rata Rp 6.000.000 dan omzet kotor bisa mencapai Rp 20.000.000. Sayangnya, di masa COVID-19 ini pendapatannya semakin mengurang, namun untuk gaji karyawan masih tetap bisa tertutup.

“Ya itu dia, karena banyak yang tidak jadi menikah jadinya ya ini tetap banyak (kain di etalase). Ada juga yang jadi menikah tapi tidak pesta. Jadi ya itu pandemi ini sangat mempengaruhi kitalah. Belum lagi, tamu-tamu yang dari Malaysia dan Amerika itu juga berkurang,” tandas Syamsinar.
Songket Melayu Khas Dumai Sudah Sampai Malaysia hingga AS Songket Melayu Khas Dumai Sudah Sampai Malaysia hingga AS Foto: Pradita Utama/detikcom Di sisi lain, Syamsinar mengatakan usahanya bisa besar seperti sekarang karena adanya bantuan dari Bank BRI. Ia bercerita awal meminjam ke BRI tidak ada kesulitan. Apalagi berkat adanya pinjaman dari BRI ia bisa memperluas tempat kerjanya dan kini memiliki 11 alat tenun.
“Harapan saya tentulah mau untuk menjadi lebih besar lagi, untuk bisa diekspor keluar,” tutur Syamsinar.

Sementara itu, anak bungsu Syamsinar yang juga pengrajin songket Melayu Fina (31) menjelaskan setidaknya ada 20 motif untuk songket khas Melayu. Tetapi kini desain-desain tersebut sudah tersentuh modernisasi. Untuk motif khasnya, Ia mengemukakan ada 2 motif khas dari Dumai yaitu pucuk rebung dan bunga bakau. Ini karena di Dumai banyak terdapat rebung dan bunga bakau.

Songket Melayu Khas Dumai Sudah Sampai Malaysia hingga AS Songket Melayu Khas Dumai Sudah Sampai Malaysia hingga AS Foto: Pradita Utama/detikcom “Sering dipakai di pesta pernikahan sudah pasti pakai songket, biasanya di acara lembaga adat melayu juga memakai kain ini, kemudian karena Dumai lebih ke Melayu jadi pemerintahnya di hari Jumat laki-lakinya memakai songket,” tutur Fina.

Fina juga berharap dari pinjaman BRI usaha songketnya bisa lebih maju lagi , lebih berkembang dan lebih dikenal. Apalagi di masa pandemi saat ini, ia senang karena bisa ada relaksasi kredit yang diberikan BRI agar usahanya tetap berjalan.

“Bukan hanya di nasional maupun internasional juga bahkan sampai keluar negeri untuk diekspor. Memang selama ini sudah ada produk yang diekspor, namun kebanyakan turis yang datang ke sini untuk membeli bukan kita yang melakukan pengiriman keluar. Lalu juga ada relaksasi kredit sehingga usaha tetap aman di masa pandemi,” pungkas Fina.
Di ulang tahun BRI ke 125 yang mengangkat tema BRILian, BRI hadir membantu masyarakat dalam memajukan usahanya agar bisa aman dari hantaman pandemi dan juga lebih berkembang dari sebelumnya.
detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com. (hs/dtk)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan